Blog

  • Pertanyakan Angka Pertumbuhan 5,61 Persen, Ekonom: Tumbuh Tapi Rapuh

    Pertanyakan Angka Pertumbuhan 5,61 Persen, Ekonom: Tumbuh Tapi Rapuh

    7cloud.asia – Baru-baru ini BPS merilis angka pertumbuhan PDB Q1 2026 sebesar 5,61 persen year on year, angka tertinggi sejak 2012 di luar periode pandemi Covid-19.

    Namun kajian terbaru yang dilakukan Ikhsan dan Riefky (2026) mengidentifikasi adanya inkonsistensi internal di dalam data BPS itu sendiri.

    Inkonsistensi itu ditunjukkan oleh kontraksi sektor listrik sebesar −0,99 persen seiring dengan sektor Manufaktur yang tumbuh sebesar +5,04 persen menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai integritas pengukuran.

    Apabila inkonsistensi tersebut dikoreksi, maka perkiraan pertumbuhan yang wajar berkisar pada 4,4 hingga 5,2 persen

    Dalam diskusi yang dihelat Aliansi Ekonom Indonesia bersama dengan Paramadina Public Policy Institute pada Sabtu (23/5/2026) ditelaah secara kritis angka pertumbuhan PDB Kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS),

    Dalam diskusi itu, para ekonom yang hadir juga menyoroti perekonomian Indonesia menghadapi tekanan berlapis. Diskusi dihadiri oleh penandatangan 7 Desakan Darurat Ekonomi dan berbagai kalangan masyarakat, seperti akademisi, mahasiswa, dan jurnalis.

     

    Baca: Laporan The Economist Jadi Peringatan Serius Soal Kondisi Tata Kelola Pemerintahan

    Mulai dari pelemahan nilai tukar Rupiah, ruang fiskal APBN yang menyempit, tantangan pertumbuhan ekonomi Q2–Q4 2026, transmisi konflik Iran–AS terhadap harga minyak global, hingga implikasi Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–AS yang ditandatangani 19 Februari 2026.

    Wijayanto Samirin Ekonom Universitas Paramadina, membuka kegiatan ini dengan memberikan konteks bahwa kepastian menjadi kunci penting dalam menavigasi ketidakpastian dan tantangan perekonomian saat ini.

    “Di era yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, investor butuh kepastian; termasuk kepastian tentang akurasi data pemerintah. Tanpanya, trust akan hilang, dan seringkali krisis ekonomi timbul karena hilangnya trust,” ujarnya.

    Segmen pertama membahas update kondisi makroekonomi Indonesia Q1-2026. Teuku Riefky, salah satu penyusun kajian yang mempertanyakan angka resmi BPS yang baru saja dirilis bulan ini. Ia menegaskan bahwa inkonsistensi dalam data bukan sekadar persoalan teknis:

    Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Q1-2026 sebesar 5,61 persen perlu disikapi secara hati-hati. Selain adanya ketidakkonsistenan internal data BPS, kondisi ekonomi terkini tidak mencerminkan perbaikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

    Baca: Biaya Menolak Perjanjian Perdagangan Resiprokal dengan AS Jauh Lebih Murah

    “Terus menurunnya kelas menengah, daya beli secara umum, dan stagnannya produktivitas sektoral masih menjadi masalah ekonomi yang belum terselesaikan. Salah mengartikan angka PDB dapat berisiko merumuskan kebijakan yang salah dan justru menunda reformasi yang sangat diperlukan.”

    Vid Adrison, Ph.D. – Kaprodi Studi Ekonomi FEB UI juga mengingatkan bahwa angka belanja Q1-2026 yang tinggi tidak serta-merta mencerminkan kesehatan APBN secara keseluruhan.

    Dia mengatakan, front-loading belanja di Q1-2026 memberi ilusi kesehatan fiskal. Hal yang perlu diwaspadai adalah tekanan pada Q2 hingga Q4 di tahun 2026.

    ”Yakni ruang gerak kebijakan fiskal yang menyempit, penurunan transfer ke daerah, dan alokasi program populis yang tidak berbasis produktivitas adalah kombinasi yang berbahaya bagi kesinambungan fiskal kita,” ungkapnya.

    Peneliti Departemen Ekonomi CSIS, Dwiwulan menyoroti pelemahan Rupiah sebagai sinyal yang lebih dalam dari sekadar volatilitas nilai tukar.

    Dia menegaskan, pelemahan Rupiah bukan sekadar isu teknikal, ia adalah cermin dari struktur pendanaan yang terlalu bergantung terhadap portfolio luar negeri dan arus modal yang tidak percaya pada arah kebijakan.

    Kebijakan Bank Indonesia, termasuk kebijakan burden sharing yang menggerus kepercayaan investor, hanya berperan sebagai paracetamol dalam meredakan pelemahan nilai tukar.

    ”Pemulihan total bergantung pada kebijakan pemerintah yang realistis, disiplin, dan transparan,” pungkasnya.

    Baca: The Economist Kembali Lontarkan Kritik Tajam ke Pemerintahan Prabowo-Gibran

     

  • Pengadilan Sebut Data Emisi PLTU adalah Informasi Terbuka Akan Perkuat Advokasi Transisi Energi yang Berkeadilan

    Pengadilan Sebut Data Emisi PLTU adalah Informasi Terbuka Akan Perkuat Advokasi Transisi Energi yang Berkeadilan

    7cloud.asia – Putusan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan yang memerintahkan PLN sebagai tergugat untuk membuka data emisi yang dihasilkan PLTU di Indonesia kepada publik secara komprehensif dan terbuka menjadi salah satu kemenangan dari upaya panjang masyarakat sipil memperjuangkan hak atas informasi lingkungan.

    Berdasarkan putusan pengadilan, PLN selaku pihak tergugat diwajibkan untuk membuka semua informasi terkait selambat-lambatnya satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap.

    Pengacara Publik LBH Pers, Chikita Edrini Marpaung mengatakan, data emisi memiliki peran penting untuk menilai dan mengevaluasi kebenaran nyata dari klaim pemerintah tersebut.

    Keterbukaan ini sangat membantu masyarakat sipil untuk menilai kepatuhan PLTU terhadap standar dan ambang batas emisi yang berlaku; mengidentifikasi potensi pelanggaran izin lingkungan.

    Data emisi juga bisa membuktikan bahwa pada tingkatan emisi dari penggunaan energi fosil yang eksploitatif telah merusak kualitas udara, tanah, air, sekaligus keselamatan makhluk hidup di dalamnya, tak terkecuali manusia.

    Membiarkan proses transisi energi tanpa transparansi merupakan bentuk peminggiran hak warga negara masyarakat untuk terlibat dalam pengawasan jalannya keputusan kebijakan.

    Baca: PN Jakarta Selatan Putuskan PLN Harus Buka Data Emisi PLTU

    Selain itu, tanpa informasi serta data terbuka, masyarakat tidak dapat memastikan langkah pemerintah apakah betul-betul sejalan dengan target penurunan emisi dan komitmen iklim Indonesia.

    “Melalui putusan ini, Majelis Hakim Jakarta Selatan kembali mengingatkan bahwa keterbukaan informasi oleh Badan Publik dalam hal ini Badan Usaha Milik Negara (BUMN) wajib untuk dibuka sebagai instrumen pengawasan publik,” ujarnya.

    Chikita menambahkan, tanpa akses terhadap data yang transparan dan akuntabel dari badan publik, masyarakat tidak memiliki dapat mengawasi dan mengukur kepatuhan badan dan instansi publik pada regulasi.

    Dengan keputusan ini menambah peluang untuk mengoreksi keputusan politik energi nasional yang secara terang-terangan menunjukkan ketergantungan kronis terhadap energi fosil lewat batubara.

    Hal ini ditunjukkan dalam RUPTL 2025-2034 yang saat ini sedang digugat sejumlah masyarakat sipil.

    Dalam dokumen rencana kelistrikan PLN tersebut, energi fosil seperti batubara dan gas masih menjadi prioritas dalam lima tahun pertamanya — alih-alih beralih ke energi terbarukan sesegera mungkin.

    Baca: Pensiun Dini PLTU Batu Bara Berdampak Positif Bagi Perekonomian Nasional

    Terbukanya data emisi dapat menjadi dokumen pendukung untuk membuktikan relevansi dan objektifitas gugatan.

    Lebih dari itu, putusan ini dapat menjadi modal awal untuk merebut narasi bahwa dalam bentuk apapun, memperpanjang penggunaan energi fosil bukan jalan menuju transisi energi yang aman, bersih, dan berkeadilan.

    Oleh karena itu, putusan pengadilan ini tidak boleh berhenti di selebrasi kemenangan.

    Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace, Bondan Andriyanu mengajak semua pihak untuk memastikan pihak tergugat mengimplementasikan seluruh hasil putusan tersebut sebagai pemenuhan kebutuhan publik.

    “Kita semua harus mengawal bersama pelaksanaan putusan ini agar tidak berhenti di atas kertas. Keterbukaan data harus benar-benar diwujudkan, bukan sekadar formalitas,” tegas Bondan dalam pernyataan resmi Greenpeace.

  • Aliansi Ekonom Indonesia: Biaya Menolak Perjanjian Perdagangan Resiprokal dengan AS Jauh Lebih Murah

    Aliansi Ekonom Indonesia: Biaya Menolak Perjanjian Perdagangan Resiprokal dengan AS Jauh Lebih Murah

    7cloud.asia – Ekonom Universitas Gadjah Mada, Rimawan Pradiptyo, Ph.D. menekankan perlunya Indonesia mengevaluasi kembali posisinya dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–AS yang ditandatangani 19 Februari 2026 lalu.

    Hal ini diungkapkannya dalam diskusi yang digelar Aliansi Ekonom Indonesia bersama dengan Paramadina Public Policy Institute Sabtu, (23/5/2026) di Kampus Universitas Paramadina Jakarta.

    Analisis para ekonom terhadap ART menunjukkan bahwa perjanjian ini menciptakan beban ekonomi asimetris terhadap Indonesia, adanya subordinasi kebijakan Indonesia terhadap kebijakan AS, serta menggerus kedaulatan Indonesia.

    “Biaya menolak ART lebih murah daripada menerima ART. Renegosiasi ART sangat dimungkinkan mengingat sebagian isi ART dinyatakan batal demi hukum oleh Mahkamah Agung AS,” ujar Rimawan

    Peneliti LPEM FEB UI, M. Dian Revindo, Ph.D. menegaskan dalam diskusi bahwa kebijakan yang diambil perlu menyasar akar masalah dan menunjang iklim usaha.

    “Sebaiknya kebijakan berfokus pada solusi/intervensi yang paling tidak mahal, tidak sulit dan tidak mengganggu iklim usaha. Intervensi yang mahal dan dalam seperti pembentukan lembaga baru/badan baru berpotensi menghadapi masalah yang sama, yaitu birokrasi, rente, vested interest, rentang wewenang, dan sebagainya.

    Solusi sebaiknya fokus mengatasi masalah, seperti mendisiplinkan aparatur yang tidak kompeten, dan memperbaiki sistem pengawasan melalui adopsi teknologi.

    Revindo juga mengingatkan bahwa meskipun penting, PDB bukan segalanya. Sehingga pemerintah tidak boleh terjebak dengan target pertumbuhan tinggi, dan lebih berfokus pada kualitas, kapabilitas, dan kebebasan.

    Sementara Ketua Prodi Studi Ekonomi FEB IPB, Prof. Sahara berfokus pada perdagangan internasional dan rantai pasok.

    Menurut analisis yang dilakukannya, ART berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga minus 0,41 persen dan memperburuk neraca perdagangan.

    Lebih mengkhawatirkan lagi, komitmen pembelian komoditas dari AS, seperti daging sapi, jagung, dan apel, berpotensi menimbulkan retaliasi dari negara lain yang selama ini berperan sebagai pemasok tradisional yang harganya jauh lebih kompetitif.

    Ini bukan sekadar soal tarif, tegasnya, tetapi ini soal siapa yang mengendalikan rantai pasok pangan dan energi kita dalam jangka panjang.

    ”Indonesia masih punya waktu untuk melakukan konfirmasi tertulis sebelum ART diberlakukan secara penuh. Konfirmasi tertulis harus berdasarkan evidence based research sehingga potensi dampak negatif bisa dimitigasi sejak dini,” tandasnya.

    Forum ini merupakan bagian dari rangkaian Tujuh Desakan Darurat Ekonomi (7DDE) yang disuarakan Aliansi Ekonom Indonesia sejak 29 September 2025, sebagai respons atas penurunan kesejahteraan masyarakat yang masif dan sistemik akibat misalokasi sumber daya dan rapuhnya institusi penyelenggara negara.

    Tujuh desakan tersebut mencakup: Perbaikan menyeluruh misalokasi anggaran; Pemulihan independensi dan transparansi institusi negara; Penghentian dominasi negara yang menghambat perekonomian lokal;

    Juga Deregulasi dan penyederhanaan birokrasi; Penanganan ketimpangan multidimensi; Pengambilan kebijakan berbasis bukti; dan Peningkatan kualitas tata kelola dan demokrasi.

  • Membangun Citra Kota: Peran Kampus dan Manfaatnya untuk Warganya

    Membangun Citra Kota: Peran Kampus dan Manfaatnya untuk Warganya

    7cloud.asia – Membangun citra kota kini menjadi instrumen krusial bagi banyak pemda untuk meningkatkan perekonomian daerah dengan menyajikan destinasi dan event untuk meningkatkan daya tarik wisatawan, investasi, dan perputaran ekonomi lokal.

    Melalui eksekusi city branding yang konsisten, sejumlah daerah seperti Banyuwangi, Solo, Bali, dan Yogyakarta terbukti mampu mengubah potensi daerah menjadi stimulus ekonomi riil.

    Sukses ini ditandai dengan penyelenggaran kalender kegiatan yang secara langsung memicu perputaran uang daerah dan mendongkrak tumbuhnya UMKM.

    Hal itu mengemuka dalam Workshop Region City Branding, di Gedung Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).

    Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ova Emilia mengungkapkan bahwa keselarasan identitas suatu instansi dengan daerahnya sangat menentukan untuk meningkatkan citra sebuah daerah.

    Ia mencontohkan, citra UGM dengan karakteristik “kerakyatan” dengan citra Yogyakarta merupakan bentuk strategi komunikasi yang organik.

    Baca: Kota Solo Tawarkan Pengalaman Wisata yang Berbeda

    Citra tersebut dibangun dengan aktualisasi di masyarakat dengan adanya program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dinilai menjadi instrumen pemasaran tidak langsung mengenai karakteristik Yogyakarta di tingkat akar rumput.

    “UGM itu identik dengan Jogja, yaitu ndeso. Melalui KKN, UGM menjadi dekat dengan masyarakat. Bagi anak-anak di remote area yang ingin bersekolah di UGM karena termotivasi mahasiswa KKN, itu merupakan sebuah marketing yang secara tidak langsung dari UGM untuk menarik orang ke Yogyakarta,” jelasnya seperti dikutip ugm.ac.id.

    Ova mengemukakan potensi kolaborasi kurikulum guna menanggapi fenomena pelarian talenta (brain drain) dari daerah ke kota besar.

    Menurutnya, selain memperkuat identitas sosial, keberadaan perguruan tinggi yang mapan juga berfungsi sebagai magnet talenta yang mendukung daya saing daerah.

    Menurutnya, gagasan ini didukung oleh regulasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) yang kini mengizinkan gelar ganda antarperguruan tinggi lokal.

    Kerja sama kurikulum melalui double degree antara universitas lokal dengan universitas ‘sudah mapan’ dapat menjadi jalan keluar.

    Baca: Konsep Slow City yang Membahagiakan Warganya

    “Selain itu, perguruan tinggi di daerah harus mampu merancang proyek-proyek lokal yang unik untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik di wilayahnya masing-masing,” jelasnya.

    Sementara itu inisiator Jogja Istimewa, Arief Budiman menyoroti mengeksekusi city branding di lingkungan pemerintahan seringkali terhambat pada sinkronisasi konsep kreatif ke dalam tahapan anggaran dan birokrasi.

    “Branding itu adalah tata kelola potensi unggulan. Harus ada program nyata yang menyertai agar brand tersebut memiliki makna dan terbukti secara konkret,” ujarnya.

    Ia menilai Bappeda di setiap pemda bisa memastikan city branding mampu menciptakan nilai tambah yang pada akhirnya berkontribusi pada meningkatnya pendapatan asli daerah.

    Hal ini dikuatkan Board of Creative Ngayogjazz, Ajie Wartono yang menyatakan bahwa mengangkat nilai sejarah yang orisinil di setiap lokasi kegiatan merupakan kunci utama dari keberlanjutan sebuat event daerah.

    Baca: Kota Bandung Siap Kembangkan Wisata Gastronomi Kelas Dunia

    Berkaca pada kesuksesan Ngayogjazz yang berpindah-pindah desa sejak 2007, ia menjelaskan bahwa sebuah festival harus menggunakan ‘ruang hidup’ masyarakat, bukan sekadar menggunakan tempat pertunjukan yang mati secara sosial.

    Ngayogjazz itu memakai ruang hidup yang sudah ada aktivitas sosial kemasyarakatannya, bukan memakai ruang mati. Tantangannya adalah bagaimana kita mengelola ruang tersebut bersama warga.

    “Kami memicu mereka dengan mendatangkan acara, dengan seluruhnya dikelola desa dan masuk ke kas desa,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Ajie menambahkan strategi branding wilayah, termasuk pedesaan harus jeli dalam menggali narasi yang unik untuk dikonversikan menjadi daya tarik kontemporer yang relevan bagi generasi muda.

    “Masih banyak desa-desa yang tidak sadar kalau mereka memiliki potensi. Oleh karena itu, perlu kita arahkan untuk membuat branding desa yang khas, misalnya Badui di Lebak, tagline kegiatannya bisa diambil dari hal di desa itu,” pungkasnya.

  • Perkuat Nilai Manfaat Dana Haji, UU BPKH Perlu Direvisi

    Perkuat Nilai Manfaat Dana Haji, UU BPKH Perlu Direvisi

    7cloud.asia – Keberadaan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) merupakan sebuah keniscayaan dalam tata kelola dana haji Indonesia.

    Hal itu disampaikan anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Marwan Dasopang menegaskan di Al Qim’ma Hall, Makkah, Minggu (24/5/2026).

    Menurut Ketua Komisi VIII DPR itu, jumlah pendaftar haji Indonesia yang terus meningkat menyebabkan dana setoran jemaah terus bertambah dan mengendap dalam waktu yang lama.

    Karena itu, diperlukan lembaga khusus yang bertugas mengelola dana tersebut secara profesional agar menghasilkan nilai manfaat bagi para jemaah.

    “Terlepas apa pun nanti namanya, keberadaan entitas seperti BPKH itu sangat diperlukan. Karena ada penerimaan setoran pendaftaran haji yang jumlahnya besar dan terus menumpuk, maka dana itu harus dikelola,” ujar Politisi PKB ini.

    Baca: Biaya Haji Diputuskan Sebesar Rp89,410 Juta

    Ia menjelaskan, panjangnya daftar tunggu keberangkatan haji membuat dana setoran awal jemaah tersimpan dalam jangka waktu panjang.

    Kondisi itu harus dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai manfaat yang dapat membantu meringankan biaya penyelenggaraan ibadah haji.

    Namun demikian, Marwan menilai kinerja pengelolaan nilai manfaat dana haji saat ini masih perlu ditingkatkan.

    Pasalnya, manfaat yang dihasilkan belum sepenuhnya dirasakan secara adil oleh seluruh jemaah, terutama mereka yang masih berada dalam antrean keberangkatan.

    “Target idealnya bukan hanya memberi subsidi kepada jemaah yang akan berangkat, tetapi juga memastikan jemaah yang masih menunggu mendapatkan hak nilai manfaat yang sepadan,” katanya.

    Baca: Dikemanakan Hasil Penyelidikan Pansus Haji DPR?

    Ia menambahkan, aspek keadilan dalam distribusi nilai manfaat menjadi perhatian penting. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI), kata dia, telah memberikan pandangan bahwa pembagian nilai manfaat yang mengabaikan hak jemaah dalam daftar tunggu tidak dibenarkan.

    Karena itu, DPR saat ini mendorong revisi Undang-Undang BPKH agar lembaga tersebut memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam mengoptimalkan pengelolaan dana haji.

    “Sekarang sedang berjalan usulan revisi Undang-Undang BPKH dari DPR agar bisa segera disetujui. Tujuannya supaya BPKH lebih maksimal dalam melipatgandakan nilai manfaat untuk para jemaah,” jelasnya.

    Marwan juga menegaskan pentingnya pemisahan tata kelola keuangan haji dari kementerian pelaksana ibadah. Menurutnya, dana haji tidak seharusnya dikelola langsung oleh kementerian yang fokus pada operasional penyelenggaraan haji.

    Ia mengingatkan, sebelum BPKH dibentuk, seluruh proses mulai dari pendaftaran, penyimpanan, pengelolaan hingga pemanfaatan dana haji berada di bawah Kementerian Agama. Model pengelolaan terpusat tersebut dinilai memiliki potensi ketidakteraturan yang cukup besar.

    “Yang paling penting bukan soal nama lembaganya, tetapi adanya pemisahan tata kelola keuangan secara profesional agar pengelolaan dana haji lebih akuntabel dan optimal,” pungkasnya.

  • Hari Lebah Sedunia: Peran Lebah dalam Rantai Produksi Pangan Global

    Hari Lebah Sedunia: Peran Lebah dalam Rantai Produksi Pangan Global

    7cloud.asia – Untuk merayakan Hari Lebah Sedunia 2026 yang jatuh pada 20 Mei, kita akan melihat apa arti lebah bagi kehidupan dan lingkungan di sekitar kita – jika spesies dari ordo Hymenoptera ini menghilang.

    Dilansir Earth.org, lebah berperan dalam penyerbukan tanaman produksi pangan global. Karena itu kelestarian lebah sangat penting bagi kehidupan seperti yang kita kenal.

    Sejak lama, para ilmuwan telah membunyikan alarm tentang hilangnya penyerbuk selama beberapa dekade, menyoroti pentingnya mereka dan kebutuhan mendesak bagi kita untuk membalikkan penurunan mereka.

    Anda mungkin memperhatikan bahwa taman Anda menjadi lebih sepi, dengan lebih sedikit kepakan sayap kupu-kupu atau dengungan lebah. Hal ini hanya karena jumlah mereka berkurang.

    Sejak 1987, Komite Konservasi Alam Bersama (JNCC) telah melaporkan bahwa jumlah penyerbuk telah menurun hampir 25 persen.

    Saat manusia terus menciptakan dunia yang sesuai dengan kebutuhan kita, lebah kehilangan habitat vital yang mereka andalkan untuk makanan dan sarang. Padang rumput yang subur digantikan oleh ladang demi ladang tanaman tunggal.

    Baca:  Lebah Punya Peran Paling Signifikan dalam Penyerbukan

    Ruang hijau ditukar dengan baja dan beton. Taman kita yang liar, berantakan, dan kaya spesies menjadi halaman rumput yang rapi dan terawat. Perlahan tapi pasti, lebah semakin terpinggirkan dari dunia yang telah menjadi bagiannya selama jutaan tahun.

    Memahami dampak penurunan populasi mereka sangat penting untuk sepenuhnya memahami betapa pentingnya lebah dan apa arti kehilangan mereka bagi dunia di sekitar kita.

    Lebah – khususnya lebah madu – secara luas dianggap sebagai penyerbuk yang paling efisien dan efektif. Makhluk-makhluk berbulu yang kikuk ini mengurus urusan mereka dan bekerja keras untuk memberi makan sarang mereka.

    Digambarkan dengan indah sebagai “lebah rendah hati” oleh Charles Darwin, serangga ini merupakan bagian integral dari alam, pemandangan yang disambut baik oleh banyak bunga untuk penyerbukan dan reproduksi.

    Bagi banyak orang, lebah hanya dilihat sebagai pembuat madu, memberi kita kebaikan manis yang lezat yang kita nikmati dalam berbagai makanan dan minuman. Apa yang gagal kita hargai setiap hari adalah betapa besar dampak lebah terhadap semua makanan kita melalui penyerbukan tanaman.

    Lebah memang merupakan bagian mendasar dari rantai makanan kita. Saat mereka berpindah dari bunga ke bunga, lebah memindahkan serbuk sari untuk membuahi tanaman sehingga dapat menghasilkan biji dan buah.

    Baca: Turunnya Populasi Lebah Mengancam Keanekaragaman Hayati

    Hal ini tidak hanya menyediakan ratusan varietas buah dan sayuran bagi kita, tetapi juga mendukung seluruh rantai makanan, menopang spesies yang tak terhitung jumlahnya yang bergantung pada tanaman ini untuk bertahan hidup.

    Selain itu, tanaman ini kemudian menjadi pakan ternak, yang pada akhirnya menjadi daging untuk konsumsi kita juga. Setiap unsur makanan yang kita makan setiap hari telah dipengaruhi, dengan cara tertentu oleh lebah.

    Karena lebah memainkan peran penting dalam siklus makanan kita, mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di lahan pertanian. Tetapi selama 50 tahun terakhir, lanskap ini menjadi semakin berbahaya bagi mereka.

    Bayangkan mencoba melakukan pekerjaan Anda sementara bahan kimia beracun memenuhi udara yang Anda hirup dan melapisi makanan yang Anda makan. Jika Anda berhasil bertahan hidup, Anda masih harus menghindari mesin industri – bilah yang berputar, roda besar, dan peralatan berat yang melaju ke arah Anda.

    Dan setelah semua usaha itu, ketika Anda akhirnya kembali ke rumah, Anda mungkin mendapati rumah Anda telah hilang, dibersihkan, meninggalkan Anda tanpa tempat tinggal, kelaparan, dan rentan.

    Mungkin ini terdengar ekstrem, tetapi bagi banyak spesies lebah, ini adalah kenyataan. Pemenuhan kebutuhan makanan yang tumbuh cepat, tahan lama, dan tampak sempurna telah menyebabkan peningkatan penggunaan herbisida dan pestisida.

    Meskipun bahan kimia ini memenuhi kebutuhan kita dalam jangka pendek, bahan kimia ini memusnahkan lebah, salah satu mata rantai terpenting dalam sistem produksi pangan dunia.

    Baca: Alih Fungsi Lahan dan Kerusakan Lingkungan Membuat Populasi Lebah Menurun Signifikan

     

  • Cuaca Hari Ini: Siang Hingga Malam, Jakarta Bakal Hujan

    Cuaca Hari Ini: Siang Hingga Malam, Jakarta Bakal Hujan

    7cloud.asia – Kondisi cuaca hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi mengguyur Jakarta pada Senin (25/05/2026) siang hingga malam.

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada pagi hari cuaca hampir di seluruh wilayah Jakarta cerah hingga berawan tebal. Namun masih ada potensi hujan berintensitas ringan di wilayah Kepulauan Seribu.

    Selanjutnya siang hingga malam hari, hujan berintensitas sedang berpotensi mengguyur wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Wilayah lainnya diprediksi cerah hingga berawan tebal.

    Untuk wilayah lainnya, BMKG memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Aceh, Sumatra Utara, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat.

    Selain itu wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, Papua , dan Papua Selatan juga berpotensi hujan berintensitas sedang hingga lebat.

    Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur wilayah Sulawesi Tengah, Maluku Utara dan Papua Pegunungan.

    BMKG juga mengajak masyarakat untuk mewaspadai potensi angin kencang dengan kecepatan maksimal 20 knot di wilayah Aceh, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.  

  • Cuaca Hari Ini: Potensi Hujan di Bandung dan Sebagian Besar Kota di Indonesia

    Cuaca Hari Ini: Potensi Hujan di Bandung dan Sebagian Besar Kota di Indonesia

    7cloud.asia – Kondisi cuaca di Bandung dan sebagian besar kota di Indonesia berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir pada Selasa (26/05/2026).

    Melalui akun youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Medan, Tanjung Pinang, Jambi, Pangkal Pinang, Bengkulu, Palembang, Serang, Bandung, Surabaya.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di Kota Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Denpasar, Palu, Kendari, Manado, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Mamuju dan Ambon. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Tanjung Selor dan Ternate.

    Untuk wilayah Jakarta, hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Kepulauan Seribu. Wilayah lainnya diprediksi cerah dan berawan tebal.

    Selanjutnya pada siang dan sore hari, hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Sementara wilayah lainnya diprediksi cerah hingga berawan tebal.

    Malamnya hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di wilayah Jakarta Barat. Wilayah lainnya diprediksi cerah hingga berawan tebal.

  • Risiko Asam Urat Meningkat Akibat Pangan Ultraproses dan Obesitas

    Risiko Asam Urat Meningkat Akibat Pangan Ultraproses dan Obesitas

     

    7cloud.asia – Anda perlu hati-hati jika sering mengalami encok atau nyeri di jempol kaki pada malam hari. Bisa jadi asam urat dalam darah kamu sedang tinggi-tingginya atau dikenal sebagai hiperurisemia.

    Kondisi ini terjadi ketika kadar asam urat dalam darah kita melebihi 6 miligram per desiliter (mg/dL) untuk perempuan dan 7 mg/dL untuk laki-laki.

    Dalam keadaan normal, asam urat dibuang oleh ginjal melalui urine. Saat kadarnya berlebih, asam urat menjelma kristal tajam serupa jarum di jaringan sendi—yang memicu peradangan sendi (gout) disertai nyeri hebat.

    Selama ini, asam urat identik dengan “penyakit orang tua”. Namun penelitian global dalam tiga dekade terakhir (1900 – 2019) justru menunjukkan bahwa 5,21 juta kaum muda usia produktif (15-39 tahun) mengalami penyakit asam urat.

    Laki-laki berisiko tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit ini dibandingkan perempuan.

    Di Indonesia, studi nasional soal jumlah orang dengan penyakit asam urat memang belum ada. Namun, beberapa laporan menduga penyakit ini dialami 32% orang di bawah usia 34 tahun.

    Pola konsumsi pengaruhi penyakit asam urat

    Asam urat sendiri merupakan produk akhir dari senyawa purin. Selain ditemukan dalam sel tubuh, purin juga terkandung dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi.

    Konsumsi produk pangan ultraproses (UPF) dan tinggi purin secara signifikan bisa meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Contoh makanan UPF tinggi purin, yaitu daging merah, jeroan, dan makanan laut berpengawet (seperti kerang, ikan teri, udang, dan cumi).

    Sementara, minuman tinggi purin mencakup alkohol serta minuman yang mengandung banyak fruktosa (seperti minuman bersoda, jus buah kemasan, dan minuman energi).

    Sering mengonsumsi produk ultraproses dan tinggi purin bukan cuma meningkatkan penyakit asam urat, tetapi juga obesitas yang juga kian memperbesar risiko terkena penyakit tersebut. Ancaman penyakit kian berlipat ganda jika kita punya gaya hidup tidak aktif.

    Berat badan berlebihan—termasuk perut buncit karena lemak di perut—memperberat kerja ginjal dalam menyaring purin. Alhasil, asam urat menumpuk di dalam darah dan menyebabkan peradangan. 

    Jika melihat tren peningkatan kasus obesitas dan konsumsi makanan berisiko kaum muda di Indonesia, penyakit asam urat sangat perlu diwaspadai.

    Hasil cek kesehatan gratis (CKG) pada 2025 menunjukkan nyaris sembilan juta orang dewasa usia 18-59 tahun di Tanah Air mengalami obesitas sentral alias perut buncit.

    Sementara, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mengungkap sekitar 48 persen kaum muda berusia 15-34 tahun mengonsumsi daging olahan berpengawet dan minuman manis lebih dari sekali per pekan. 

    Gaya hidup sehat adalah kunci

    Penyakit asam urat maupun obesitas tidak boleh disepelekan. Dalam jangka panjang, kombinasi keduanya bisa memicu gangguan ginjal hingga penyakit jantung.

    Kita bisa mencegah penyakit asam urat dan obesitas dengan menerapkan gaya hidup sehat. Hindari berlebihan konsumsi produk pangan UPF, tinggi purin, berfruktosa, dan berkalori tinggi.

    Kita masih bisa mengonsumsi makanan laut dan daging merah dalam jumlah terbatas karena proteinnya sangat kaya. Akan tetapi, olah daging dan makanan laut dengan direbus untuk mengurangi jumlah purin.

    Sangat disarankan mengonsumsi pangan minim lemak, gula, dan kalori. Contohnya, daging ayam tanpa kulit atau susu rendah lemak. Konsumsi juga sayuran minimal 350 gram (3 – 4 mangkuk kecil) per hari sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral.

    Untuk bantu membuang kelebihan asam urat, kita perlu mencukupi kebutuhan air putih. Setidaknya, minum sebanyak 7-8 gelas per hari. Selain air putih, teh dan kopi juga masih boleh dikonsumsi asalkan tidak menggunakan pemanis buatan.

    Tak lupa, lakukan latihan fisik secara teratur. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan latihan aerobik (berjalan, berlari, berenang, atau bersepeda) dengan intensitas sedang untuk mempercepat proses tubuh membakar kalori dan mengurangi peradangan asam urat. Lakukanlah minimal selama 150 menit per minggu.

    Alternatif lainnya, kita bisa latihan kekuatan intensitas sedang (seperti push-up atau sit-up) sebanyak dua kali atau lebih per pekan.


    Yulius Dony, Staff of Clinical Pathology Department, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Kerentanan di Perempuan dan Orang Muda Pesisir Hadapi Perubahan Iklim

    Kerentanan di Perempuan dan Orang Muda Pesisir Hadapi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – “Semua serba tidak pasti. Kadang hasil tangkapan cukup, kadang tidak. Tapi tidak pernah ada yang benar-benar pasti.”

    Kalimat di atas berulang kali penulis dengar saat berbincang dengan perempuan dan orang muda di komunitas pesisir di Bengkalis, Riau, dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kehidupan masyarakat pesisir semakin tidak menentu karena perubahan iklim.

    “Ketangguhan” masyarakat, terutama perempuan dan orang muda pun kerap dipuji karena mampu bertahan menghadapi perubahan iklim ini.

    Namun yang sering luput dalam pembahasan adaptasi iklim: bahwa resiliensi tidak selalu lahir dari pilihan, tetapi dari keterpaksaan untuk terus bertahan dalam ketidakpastian iklim.

    Narasi yang meromantisasi resiliensi justru berisiko menutupi ketidakadilan struktural. Kita merayakan kemampuan mereka bertahan tanpa mempertanyakan mengapa mereka harus terus bertahan. Akibatnya, tanggung jawab dibebankan kepada mereka yang paling rentan.

    Temuan lapangan saya bersama tim WRI (belum dipublikasi) di Bengkalis (Riau) dan Sumbawa (Nusa Tenggara Barat) menunjukkan bahwa krisis iklim berkelindan dengan norma gender, ekspektasi budaya, dan kesenjangan tata kelola pemerintahan, sehingga menghasilkan kondisi prekaritas yang mendalam.

    Terdapat ketimpangan kuasa, di mana perempuan dan orang muda kerap diposisikan sebagai subordinat dan terpinggirkan, sehingga mereka menjadi kelompok paling rentan terdampak krisis iklim. 

    Kerja sunyi dan hambatan struktural

    Di Bengkalis dan Sumbawa, perempuan dan orang muda bukanlah korban pasif yang pasrah menerima keadaan.

    Mereka punya kemampuan, ide, kreativitas, dan kemauan mendukung komunitas menghadapi krisis iklim. Namun, ruang gerak mereka terbatas.

    Perempuan ikut menopang ekonomi rumah tangga, tetapi kerja-kerja mereka kerap dianggap sekadar tambahan.

    Perempuan juga terlibat dalam hampir seluruh rantai produksi perikanan: menyiapkan kebutuhan melaut, mengolah dan menjual ikan, hingga memperbaiki jaring.

    Namun, status “nelayan” hanya dilekatkan pada laki-laki yang melaut, sehingga perempuan tidak diakui secara formal dan tidak punya akses terhadap bantuan pemerintah sektor perikanan.

    Norma sosial yang timpang gender ini membuat kaum perempuan tersudut ke pekerjaan informal yang minim perlindungan, sering kali ditambah kerja-kerja musiman seperti buruh di ladang jagung. 

    Di Bengkalis, Riau, kondisi perempuan pesisir juga serupa. Perempuan mengurus ruang domestik sambil mengolah ikan dan membantu ekonomi keluarga.

    Ketidakpastian iklim memperberat beban ini karena rumah tangga makin bergantung pada kerja perempuan.

    Mereka harus menyesuaikan jadwal produksi, mengatur ulang pembagian kerja, dan mencari cara menstabilkan pendapatan. Perempuan menjadi penyangga guncangan ekonomi, meski “pilihan” kerja yang mereka ambil sering kali bersifat semu karena hampir tak ada alternatif lain. 

    Kerentanan juga dialami orang muda. Karena potensi laut menurun dan sektor pertanian tidak menentu, banyak anak muda merasa tidak punya opsi selain pergi ke kota menimbang minimnya peluang ekonomi lokal.

    Namun tidak semua pula yang diijinkan oleh orangtua mereka untuk merantau, apalagi perempuan.

    “Kalau saya mau merantau, orang tua tidak mengizinkan. Mereka khawatir. Jadi saya kerja saja di desa,” ujar salah seorang perempuan muda di Bengkalis. 

    Bagi yang tak bisa bermigrasi, mereka harus menghadapi kehidupan yang serba tidak pasti di kampung: laki-laki muda mengandalkan pekerjaan serabutan sebagai nelayan tradisional, buruh tambang, atau awak kapal tongkang, sementara perempuan muda menghadapi pilihan yang lebih sempit di tengah norma gender yang membatasi ruang gerak mereka.

    Di Riau, banyak remaja perempuan berhenti sekolah pada usia 16–17 tahun dan bekerja di sektor informal dengan upah rendah. Akibatnya, kerentanan terus direproduksi tanpa investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda.

    Fenomena ini diperkuat oleh eksklusi dalam tata kelola. Di Bengkalis, musyawarah desa—ruang penting pengambilan keputusan—masih didominasi laki-laki dan sulit diakses perempuan serta orang muda. Representasi perempuan umumnya hanya melalui PKK, yang membatasi keragaman suara.

    Ruang tata kelola menjadi domain “orang dewasa”, khususnya laki-laki, sementara perempuan dan orang muda tetap di pinggiran.

    Di Sumbawa, pola serupa terlihat dalam pengembangan pariwisata berbasis ekologi. Ide orang muda jarang masuk dalam perencanaan formal dan hanya dipertukarkan secara informal. Implementasi bergantung pada inisiatif mereka, sementara dukungan pemerintah desa cenderung lambat dan muncul setelah dorongan dari pihak luar.

    Kondisi ini menunjukkan pola tokenisme: keterlibatan tidak diikuti pengaruh. Perempuan dan orang muda dihadirkan lebih sebagai pelaksana daripada pengambil keputusan. Kerja mereka diakui, tetapi pengetahuan mereka tidak dianggap sebagai laku kolektif.

    Kesenjangan aksesibilitas semakin memperdalam eksklusi ini. Program bantuan, pelatihan, dan dukungan usaha umumnya menyasar kelompok laki-laki yang sudah mapan, sementara perempuan dan orang muda jarang menjadi penerima manfaat.

    Jadi kondisi ini bukan sekadar keterbatasan, melainkan eksklusi struktural yang menentukan siapa yang diakui, dihitung, dan memiliki ruang untuk menentukan masa depan mereka.

    Membingkai ulang makna resiliensi

    Perempuan dan orang muda punya kemampuan mengambil keputusan (agensi). Namun, agensi ini tumbuh dalam kondisi sempit, tidak pasti, dan dibentuk oleh keterbatasan struktural.

    Adaptasi yang mereka lakukan bersifat sehari-hari, improvisatif, dan berskala kecil—bukan karena kurangnya kreativitas, tetapi karena terbatasnya ruang gerak. Adaptasi pun tidak lahir dari pilihan, melainkan keterpaksaan untuk bertahan hidup.

    Karena itu, resiliensi perlu dipahami sebagai bagian dari politik adaptasi: siapa yang harus beradaptasi, dalam kondisi apa, dan dengan konsekuensi seperti apa.

    Fakta bahwa mereka mampu bertahan justru menunjukkan bagaimana mereka dipaksa menutupi kegagalan struktur dan norma gender yang meminggirkan perempuan.

    Mengkritisi resiliensi bukan berarti meniadakan agensi. Perempuan dan orang muda menunjukkan daya juang melalui praktik sehari-hari—merawat, berinovasi, dan menjaga keberlangsungan komunitas di tengah keterbatasan. Ini merupakan bentuk penentuan nasib sendiri. 

    Lantas, bagaimana membangun sistem yang lebih adil agar adaptasi tidak lagi sekadar bertahan, tetapi membuka jalan menuju martabat, kesejahteraan, dan keadilan?

    Hal ini perlu dimulai dengan memastikan perempuan dan orang muda memiliki ruang partisipasi yang nyata dalam pengambilan keputusan, akses yang lebih adil terhadap dukungan dan sumber daya, serta pengakuan atas kerja dan pengetahuan mereka dalam tata kelola pesisir.

    Tanpa perubahan tersebut, resiliensi berisiko terus menjadi cara untuk menormalisasi ketimpangan.


    Smita Tanaya, GEDSI and Ocean Research Analyst, World Resources Institute

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.