Jumlah Petani Terus Menurun, Dede Yusuf Usulkan Insentif Khusus untuk Daerah Lumbung Pangan

Written by

in

7cloud.asia – Daerah-daerah yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan menghadapi tantangan besar, terutama terkait kesejahteraan petani yang semakin menurun akibat rendahnya pendapatan.

Oleh karena itu Wakil Ketua Komisi II DPR Dede Yusuf Macan Effendi mengusulkan adanya insentif dari pusat kepada daerah yang dikenal sebagai lumbung pangan.

Biaya Operasional Petani (BOP) untuk daerah lumbung pangan ini menurutnya serupa dengan skema Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang diterapkan dalam sektor pendidikan.

Berbicara di sela kunjungan kerja spesifik Komisi II ke Provinsi Jawa Barat, Bandung, Kamis (6/3/2025), Dede mengatakan skema ini diharapkan dapat membantu para petani untuk bertahan dan meningkatkan produktivitas mereka.

“Daerah-daerah pertanian disebut lumbung pangan, tetapi petaninya makin lama makin terpuruk karena tidak punya pendapatan. Mungkin perlu ada semacam Biaya Operasional Petani atau BOP. Kalau di sekolah ada BOS, maka petani juga perlu mendapatkan dukungan serupa,” jelasnya.

Baca: Luas lahan pertanian dan jumlah petani terus menurun

Dalam kesempatan itu Dede menyoroti pentingnya kemandirian pangan di Indonesia dengan mendorong sektor pertanian dan kelautan.

Ditegaskannya, kemandirian pangan salah satunya adalah mendorong lebih banyak lagi sektor pertanian dan kelautan sehingga dia berharap usulan ini bisa direalisasikan.

“Kami akan mengusulkan hal ini, meskipun sebenarnya bukan di bidang kami. Namun, paling tidak kepada Menteri Dalam Negeri kami akan sampaikan bahwa ini memang penting,” ujarnya.

Lebih lanjut, adanya bantuan operasional diharapkan dapat menarik generasi muda untuk menjadi petani. Melihat saat ini sektor pertanian bisa mengalami krisis regenerasi tenaga kerja karena tidak menariknya pertanian.

“Kalau tidak ada biaya operasional, mungkin anak-anak muda generasi kedua, ketiga dari petani tidak akan mau meneruskan profesi ini. Mereka mungkin lebih memilih menjadi ojek atau pekerjaan lainnya,” tambahnya.

Baca: Ada kebijakan yang tak adil untuk petani

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) kondisi pertanian dan jumlah petani di sejumlah daerah di Indonesia semakin mengkhawatirkan.

Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, selama sepuluh tahun terakhir, jumlah petani Indonesia mengalami penurunan sebesar 7,42 persen, dari 31,70 juta orang pada 2013 menjadi 29,34 juta orang pada 2023.

Fakta lain menyebutkan bahwa profil petani didominasi oleh petani yang berusia tua. Sebanyak 42 persen petani Indonesia merupakan generasi X, yang berusia 43–58 tahun.

Jumlah petani berusia 55–64 tahun mengalami peningkatan 3,29 persen dan petani berusia di atas 65 tahun meningkat 3,4 persen dalam sepuluh tahun terakhir.

Bertolak belakang dengan fakta di atas, jumlah petani milenial (usia 27–42 tahun) justru cenderung mengalami penurunan. Dalam sepuluh tahun terakhir, proporsi petani berusia 25–34 tahun turun sebanyak 1,73% menjadi 10,24 persen.

Sedangkan, proporsi petani berusia 35–44 tahun turun sebanyak 4,34 persen menjadi 22,0 persen.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *