Memotret Pengusiran terhadap Bangsa Palestina, “No Other Land” Raih Film Dokumenter Terbaik di Piala Oscar 2025

Written by

in

7cloud.asiaNo Other Land, sebuah film dokumenter yang memotret pengusiran terhadap sebuah komunitas Palestina oleh Israel, meraih penghargaan film dokumenter terbaik dalam ajang Piala Oscar 2025 yang digelar pada Minggu (2/3/2025).

Dalam pidato kemenangan mereka, para sutradara film No Other Land meminta dunia untuk membantu mengakhiri konflik yang berlangsung dan menuduh Amerika Serikat menghalangi terciptanya solusi di Palestina

Sutradara film No Other Land, aktivis Palestina Basel Adra dan jurnalis Israel Yuval Abraham, menghabiskan waktu lima tahun membuat film No Other Land

No Other Land menyoroti realitas paralel yang terjadi antara dua orang sahabat, yaitu Abraham dan Adra.

Abraham dengan plat nomor Israel berwarna kuning pada kendaraannya yang membuat ia dapat bepergian ke mana saja, sedangkan Adra harus terkungkung dalam sebuah wilayah dengan ruang gerak terbatas.

Film itu bercerita tentang tentara Israel yang menghancurkan rumah-rumah dan mengusir warga Palestina dari tempat tinggal mereka untuk membuat tempat latihan militer dan pelanggaran batas yang dilakukan pemukim Yahudi terhadap komunitas Palestina.

Baca: Daftar lengkap pemenang Piala Oscar 2025

No Other Land mencerminkan realitas kejam yang kami alami selama beberapa dekade dan masih terus kami lawan di saat kami menyerukan dunia untuk mengambil tindakan serius untuk menghentikan ketidakadilan dan menghentikan pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina,” ujar Adra dalam pidato kemenangannya.

Berdiri di samping Adra, Abraham menambahkan: “Kami membuat film ini, sebagai seorang warga Palestina dan Israel, karena dengan bersama suara kami menjadi lebih kuat.”

Dia menambahkan, mereka melihat satu sama lain, penghancuran mengerikan yang terjadi di Gaza dan terhadap warganya harus berakhir, sandera Israel yang ditahan pada serangan 7 Oktober harus dibebaskan.

“Ketika saya melihat Basel [Adra], saya melihat saudara saya namun kami tak setara. Kami hidup di bawah rezim di mana saya bebas berdasarkan hukum sipil, dan Basel berada di bawah hukum militer yang menghancurkan hidupnya dan ia tidak dapat mengendalikan itu,” ujar Abraham.

“Ada jalur yang berbeda. Sebuah solusi politis tanpa supremasi etnis, dengan hak nasional bagi kedua warga kami. Dan saya harus mengatakan di saat saya berada di sini, bahwa kebijakan luar negeri dari negara ini [Amerika Serikat] membantu menghalangi jalur tersebut.

Baca: Daftar lengkap nominasi Piala Oscar 2025

“Dan kenapa? Tidakkah Anda melihat kami saling terkait? Masyarakat saya dapat hidup dengan aman jika Basel dan warganya juga dapat hidup bebas dan aman. Ada cara lain. Ini semua belum terlambat.”

Bulan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan warga Palestina untuk meninggalkan Gaza menuju Mesir dan Yordania.

Seruan tersebut telah mendapat kecaman luas di seantero Timur Tengah dan wilayah lainnya dunia dan dianggap mendestabilisasi situasi yang berlangsung saat ini.

Menteri Kebudayaan Israel Miki Zohar menyesali pencapaian yang diraih No Other Land di ajang Piala Oscar 2025 dan menyebut kemenangan tersebut sebagai “momen yang menyedihkan untuk dunia perfilman,”.

Menurutnya, film No Other Land itu menampilkan apa yang ia sebut sebagai pandangan yang menyimpang tentang Israel, yang masih belum pulih dari serangan 7 Oktober 2023 yang dilakukan Hamas.

Baca: Aktor Peraih Oscar, Javier Bardem sebut Israel lakukan kejahatan kemanusiaan di Palestina

“Kebebasan berekspresi merupakan sebuah nilai yang penting, namun dengan mencemarkan nama Israel sebagai alat promosi membahayakan negara Israel, dan setelah serangan 7 Oktober dan perang yang berlangsung saat ini, hal ini sangat menyakitkan,” tulis Zohar di platform X.

Walaupun telah mengantongi sejumlah penghargaan bergengsi di Eropa dan Amerika Serikat, film “No Other Land” belum juga meraih kesepakatan rilis di wilayah AS, ujar Abraham kepada situs web Deadline bulan lalu.

ketika ditanya mengapa distributor film di AS tak kunjung membeli hak rilis filmnya, Abraham mengatakan kepada Deadline: “Saya percaya bahwa jelas alasan politis bermain di sini. Saya harap itu akan berubah.”

Ia mengatakan pihaknya memutuskan untuk tidak menunggu kesepakatan rilis dan memilih memutarkan film tersebut di 100 bioskop secara independen.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *