Polusi Cahaya: Lampu Terang Bikin Bintang Redup dan Mengganggu Migrasi Burung

Written by

in

7cloud.asia – Langit malam dengan bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya dan warna-warna kosmik telah mengilhami seni, sastra, sains, dan filsafat selama berabad-abad.

Di alam, bintang-bintang menuntun para pemburu malam saat mereka berburu di kegelapan dan membantu burung-burung yang bermigrasi menyesuaikan kompas internal mereka untuk perjalanan panjang ke depan.

Namun, lampu-lampu kota yang terang telah mengubah pemandangan malam di seluruh dunia, sehingga semakin sulit untuk melihat bintang dengan mata telanjang. Ini yang disebut dengan polusi cahaya

Bentuk polusi cahaya ini kurang mendapat perhatian hingga saat ini, tetapi semakin menjadi penyebab kekhawatiran, terutama karena hampir 7 dari 10 orang di seluruh dunia diproyeksikan akan tinggal di kota pada tahun 2050.

Lampu terang, bintang redup
Cahaya buatan telah menjadi penemuan inovatif bagi manusia, meningkatkan visibilitas dalam kegelapan dan memberikan keselamatan.

Namun, segala sesuatu yang baik jika berlebihan dapat berubah menjadi buruk. Penggunaan cahaya buatan luar ruangan yang berlebihan atau tidak tepat menyebabkan polusi cahaya.

Baca: Lampu-lampu di Jakarta padam satu jam potong emisi 70,67 ton CO2

Tingkat polusi cahaya tertinggi di seluruh negara dapat ditemukan di Kota Vatikan, Monako, dan Makau. Sebaliknya, Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, dan Tuvalu memiliki cahaya sekitar paling sedikit.

Namun sebelum menggali lebih dalam soal polusi cahaya, berikut sejumlah istilah yang perlu diketahui terkait cahaya dan pencahayaan

Cahaya langit: Pencerahan langit malam yang tidak alami disebabkan oleh cahaya buatan, biasanya di atas area berpenduduk, sehingga mengaburkan objek-objek langit.

Silau: Kecerahan yang intens dan tidak terkendali yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengurangi jarak pandang.

Pelanggaran Cahaya: Cahaya yang tidak diinginkan masuk ke area yang tidak dimaksudkan atau dibutuhkan.

Kekacauan: Kehadiran terlalu banyak sumber cahaya dalam satu area yang mengakibatkan kebingungan dan disorientasi visual.

Baca: Upaya Kota Chicago bantu migrasi burung agar tak tabrak dinding kaca

Beberapa metode dan alat untuk memahami besarnya polusi cahaya dan memantaunya, salah satunya adalah Skala Bortle yang mengukur kualitas kecerahan langit malam di lokasi tertentu dan terdiri dari sembilan tingkat.

Kelas 1 melambangkan langit paling gelap di Bumi, sementara kelas 9 merupakan langit dalam kota dengan hampir tidak ada bintang yang terlihat.

Untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang polusi cahaya, tim peneliti yang dipimpin oleh Christopher Kyba menggabungkan data dari ilmuwan dan warga untuk menilai dampaknya terhadap visibilitas manusia terhadap bintang-bintang di seluruh dunia dari tahun 2011 hingga 2022.

Peserta diperlihatkan peta langit yang menggambarkan berbagai tingkat polusi cahaya dan diminta untuk mengidentifikasi peta mana yang paling sesuai dengan pandangan mereka.

Data yang dihasilkan mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan: kecerahan langit malam secara efektif berlipat ganda setiap delapan tahun.

Akibatnya, banyak pengamat di seluruh dunia terpaksa pindah ke daerah terpencil dan gelap atau berinvestasi dalam teknologi mitigasi polusi cahaya.

Baca: Mengenali migrasi tahunan burung layang-layang

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *