Potensi Pesantren sebagai Kontributor Ketahanan Ekonomi Hijau Nasional

Written by

in

7cloud.asia – Pesantren menjadi aktor sosial penting dalam pembangunan pendidikan di Indonesia. Pola pendidikannya yang holistik dan berbasis teologi membuat seluruh aktivitas di dalamnya menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Sistem pendidikan di pesantren ini membekali santri dengan berbagai keterampilan serta nilai-nilai kebermanfaatan yang maslahah atau menghindarkan diri dari tindakan yang sia-sia dan tidak baik.

Seiring waktu, pertumbuhan jumlah pesantren di Indonesia terus meningkat dan tersebar hampir di seluruh wilayah. Menurut data Kementerian Agama pada periode tahun 2023-2024, jumlah pesantren di Indonesia mencapai 39.551 dengan 4,9 juta santri.

Keberadaan pesantren didukung oleh regulasi nasional yang mengatur tentang peran dan fungsinya dalam pembangunan bangsa, baik dalam pendidikan— khususnya terkait pembentukan perilaku sosial (akhlak)— maupun ketahanan ekonomi terutama ekonomi hijau

Konsep yang dianut mayoritas pesantren yaitu learning by doing atau learning by teaching, menjadi metode andalan dalam membentuk karakter santri.

Baca: Pelibatan pesantren dalam menanggulangi bencana akibat perubahan iklim

Di samping itu, pesantren juga menjadi manifestasi kekuatan transformasi kelas, karena memberikan pelayanan tanpa memandang strata sosial.

Tidak sedikit pesantren yang melahirkan unit bisnis di suatu sektor untuk memenuhi kebutuhan para santri hingga warga sekitar.

Pesantren juga amat mengedepankan nilai kebersamaan yang berdasarkan tindakan kolektif untuk kepentingan bersama.

Modal alami untuk ekonomi hijau
“Pondok pesantren” memiliki peran strategis yang potensial dalam pembangunan ekonomi hijau di Indonesia. Salah satu modal fundamental yang dimiliki oleh pesantren adalah letak geografisnya.

Lebih dari 78 persen pesantren berada di kawasan pedesaan yang notabene merupakan daerah pertanian dan pegunungan. Posisi ini membuat pesantren berpotensi aktif menjadi agen konservasi dan pusat gerakan ekologis.

Baca: Potensi pengembangan ekonomi hijau di Indonesia

Dengan akses yang dekat dengan kawasan hijau, banyak pesantren mengelola lahan produktif yang dimanfaatkan untuk memenuhi setidaknya kebutuhan pangan pesantren santri hingga masyarakat sekitar seperti Pondok Modern Darussalam Gontor di Jawa Timur.

Pesantren tersebut memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar untuk mengelola kawasan agraris, khususnya pertanian untuk memasok kebutuhan pangan pokok bagi santri.

Dampaknya, pesantren ini mampu menekan harga beras yang kerap berfluktuasi tinggi sehingga masyarakat berswadaya beras.

Pondok Modern Darussalam Gontor yang berpusat di Jawa Timur ini adalah salah satu contoh dari total 20 kampusnya yang tersebar, baik di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Pesantren juga memiliki rekam jejak positif dalam mengelola unit usaha bisnis yang mendukung kemandirian ekonomi.

Baca:  Indonesia membutuhkan jutaan green jobs untuk menuju ekonomi hijau

Karena rata-rata pesantren berada di kawasan hijau, maka pengelolaan bisnis pesantren pun juga banyak bergelut di sektor agrikultur, menjadi peluang mengimplementasikan ekonomi hijau.

Transformasi menjadi eco-pesantren
Eco-pesantren adalah konsep wawasan dan pendidikan mengenai konservasi lingkungan hidup yang diterapkan oleh pesantren.

Konsep ini menjadi jalan bagi pesantren untuk mengaplikasikan aksi peduli lingkungan hidup sekaligus aktualisasi keberkahan atas kerja yang dilakukan berprinsip “I’malu fauqo ma’amilu”.

Prinsip ini berarti berusaha lebih dari rata-rata orang lain” dan mengerjakan suatu hal secara bersungguh-sungguh tanpa ada paksaan atau pun kepentingan pribadi.

Dengan kata lain, umat muslim harus memperhatikan apa yang menjadi tugasnya dengan baik, agar prestasi yang dihasilkan merupakan bentuk dari upaya yang maksimal dan optimal.

Upaya pelestarian yang dilakukan tidak hanya ditujukan pada aspek ketahanan lingkungan semata, tetapi juga pengaruhnya terhadap ekonomi hijau, terutama dalam hal produksi untuk memenuhi supply and demand masyarakat.

Artikel ini telah terbit di The Conversatin, Penulis: Afni Regita Cahyani Muis (Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Darussalam Gontor)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *