7cloud.asia – Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar, fokus, dan berperilaku.
Dikutip dari The Hindustan Times, Sabtu (30/11/2024), gejala umum ADHD meliputi rentang perhatian yang pendek, gelisah, hiperaktif, agresif, kecemasan, dan pengulangan kata.
Gangguan ADHD ini berpotensi terjadi pada semua jenis kelamin dan di segala lapisan usia.
Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan di BMC Psychiatry mengungkap bahwa perempuan dengan ADHD lebih rentan terlibat dalam perilaku berisiko dibandingkan laki-laki.
Penelitian ini menjadi peringatan penting mengenai perlunya pengobatan spesifik berbasis gender untuk menangani kondisi tersebut secara efektif.
Penelitian ini melibatkan 29 orang dewasa dengan ADHD (16 laki-laki dan 13 perempuan) serta 33 orang sehat (14 laki-laki dan 19 perempuan), yang semuanya berusia antara 18 hingga 60 tahun.
Para peserta diminta menyelesaikan tugas Balloon Analogue Risk Task (BART) versi modifikasi. Dalam tugas ini, mereka melihat balon yang mengembang secara otomatis di layar.
Semakin besar balon tersebut, semakin besar keuntungan finansial yang didapat, tetapi dengan risiko balon meledak dan menyebabkan kerugian.
Selama tugas berlangsung, para peneliti mengamati respons konduktansi kulit peserta untuk memahami perubahan psikologis akibat rangsangan emosional.
Peserta juga menjalani penilaian kompetensi emosional, persepsi risiko, dan sensitivitas terhadap umpan balik.
Hasil studi menunjukkan bahwa perempuan dengan ADHD cenderung lebih sering berperilaku berisiko selama tugas BART dibandingkan laki-laki.
Namun, tidak ditemukan perbedaan spesifik terkait perubahan psikologis yang diukur melalui respons konduktansi kulit.
Selain itu, dalam kuesioner penilaian mandiri, ditemukan bahwa perempuan dengan ADHD memiliki sensitivitas yang lebih rendah terhadap perilaku berisiko mereka sendiri.
Hal ini menunjukkan bahaya perempuan dengan ADHD tidak menyadari persepsi dan kecenderungan mereka.
Penelitian ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menyediakan pengobatan yang disesuaikan dengan gender untuk menangani ADHD secara efektif pada laki-laki maupun perempuan.

Leave a Reply