Nilai Tukar Rupiah Sentuh Rekor Terendah Sepanjang Sejarah: Ini Dampaknya pada Ekonomi Nasional

Written by

in

7cloud.asia – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencetak rekor paling lemah terbaru. Per Jumat (15/5/2026) kurs dolar menyentuh Rp17.600.

Masyarakat diingatkan untuk bersiap dan mengencangkan ikat pinggang karena sejumlah pakar meneropong harga kebutuhan sehari-hari bakal ikut terdampak melemahnya nilai tukar Rupiah.

Hal ini karena ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor, nilainya mencapai 70 persen. Impor bahan baku tersebar di industri kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan, hingga kendaraan pribadi.

Hampir sebagian besar semua barang jadi dari sektor industri ini ada di halaman rumah, di dalam laci lemari, kamar, dapur di rumah kita.

Dengan nilai tukar rupiah yang makin melemah, harga-harga bahan baku impor ini terkerek naik karena transaksinya menggunakan dollar AS.

“Ini membuat cost of production (biaya produksi) produsen domestik menjadi semakin mahal,” kata Teuku Riefky, peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI) dikutip BBC News.

Baca: Anjloknya IHSG dan Nilai Rupiah Tunjukkan Kepercayaan Pasar Menurun

Di tengah kondisi ini, ada dua kemungkinan yang dilakukan produsen: menaikkan harga barang atau terpaksa memangkas keuntungan—meskipun di lapangan yang nampak lebih menaikkan harga atau mengurangi porsi produk.

“Implikasinya terhadap masyarakat sehari-hari adalah tentu biaya hidup yang akan semakin mahal,” katanya.

Selain impor bahan baku, Indonesia juga masih impor sekitar 20 persen barang modal. Contohnya, mesin-mesin pabrik, robot industri, pesawat, kereta sampai peralatan laboratorium.

Selain itu sebanyak 9 persen Indonesia masih impor barang konsumsi. Misalnya, buah, daging, baju dan sepatu, ponsel, laptop, kosmetik dan skincare, sampai kedelai–yang diketahui impornya lebih dari 90 persen.

Ada dua faktor yang membuat rupiah lesu terhadap dolar AS, kata Teuku Riefky.

Pertama, faktor luar negeri (eksternal) yaitu perang AS-Israel dengan Iran yang dimulai sejak 28 Februari. Perang membuat distribusi minyak dan gas terhambat, harganya jadi melambung. Sampai kapan perang berakhir juga belum bisa diprediksi.

Baca: Potensi Deindustrialisasi Akibat Dominasi Belanja Pemerintah

Akibatnya, para pemodal menarik uang atau investasinya dari perusahaan, surat berharga, deposito, properti dan investasi lain dari negara berkerkembang, lalu memindahkan ke negara lain yang lebih aman dan stabil.

“Faktor eksternal ini dirasakan bukan hanya Indonesia, tapi berbagai negara berkembang itu merasakan arus modal keluar, sehingga itu melemahkan rupiah,” kata Riefky.

Faktor kedua adalah faktor internal. Riefky mengatakan, pemasukan dan pengeluaran duit negara, cicilan utang dan uang cadangan ikut mempengaruhi.

Prospek kondisi fiskal Indonesia ini mendapat peringatan dari lembaga pemeringkat kredit dunia Moody’s dan Fitch.

Lembaga-lembaga ini melihat prospek negatif pada Indonesia karena ketidakpastian kebijakan, serta lantaran pendapatan rendah tapi belanja tinggi. Artinya ada risiko kondisi keuangan negara memburuk ke depan.

“Ini membuat investor ragu terhadap kapasitas pembayaran APBN kita, membuat terjadi capital outflow (arus modal keluar)… Ini juga memicu pelemahan rupiah,” katanya.

Baca: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Tanpa Penciptaan Lapangan Kerja

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *