Taktik Disrutif Menjadi Cara Aktivis untuk Mendorong Urgensi Isu Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Satu jam setelah dua aktivis Just Stop Oil dijatuhi vonis penjara oleh pengadilan Westminster Magistrates, London, pada Jumat (4/10/2024) tiga pendukung Just Stop Oil melakukan aksi serupa.

Mereka menuangkan sup tomat ke atas dua lukisan Bunga Matahari karya van Gogh – salah satunya adalah karya seni yang menjadi target Phoebe Plummer dan Anna Holland dua tahun sebelumnya.

Dilansir earth.org, kali ini, kedua lukisan karya Van Gogh itu juga tidak rusak. Namun, seperti dua rekan mereka sebelumnya, ketiga aktivis Just Stop Oil tersebut juga ditangkap.

Mereka mengaku tidak bersalah atas kerugian pidana di Pengadilan Westminster Magistrates, London dan kemudian diberikan jaminan.

Ludi Simpson, 71 tahun, yang merupakan bagian dari ketiganya menegaskan dia akan bertanggung jawab atas tindakannya ini, dan kami akan menghadapi kekuatan hukum penuh.

Baca: Terdamparnya puluhan ikan paus hiu pendek bisa jadi pertanda kerusakan ekosistem 

”Kapan para eksekutif sektor bahan bakar fosil dan politisi yang mereka beli akan dimintai pertanggungjawaban atas kerugian kriminal yang mereka timbulkan pada setiap makhluk hidup?”ujarnya.

Phil Green, yang juga ikut serta dalam aksi pada Jumat (4/10/202) mengatakan kepada pengunjung galeri: “Generasi mendatang akan menganggap para tahanan hati nurani ini berada di pihak yang benar dalam sejarah.”

Taktik disrutif atau mengganggu sering digunakan para aktivis lingkungan di sejumlah negara di dunia.

Meningkatnya taktik-taktik disruptif atau mengganggu dalam lingkup aktivisme iklim telah berperan penting dalam memperkuat urgensi isu-isu lingkungan hidup agar mendapat perhatian publik,

Dengan taktik ini, para aktivis lingkungan menggunakan metode-metode inovatif untuk menuntut tindakan segera guna mengatasi krisis iklim yang memburuk dengan cepat.

 

Baca: ini yang terjadi jika pemanasan global mencapai 2°C

Kelompok-kelompok seperti Just Stop Oil di Inggris dan Letzte Generation (“Generasi Terakhir”) di Jerman mengandalkan blokade, aksi duduk, penghalangan jalan.

Penodaan karya seni juga dilakukan untuk mengusik status quo dan mendorong perubahan iklim menjadi sorotan publik.

Namun, tanggapan masyarakat terhadap tindakan-tindakan yang mengganggu ini masih berbeda-beda, ada yang memuji para aktivis atas keberanian dan komitmen mereka terhadap gerakan lingkungan.

Di sisi lain, banyak anggota masyarakat yang mengkritik tindakan-tindakan yang mengganggu tersebut meski tujuannya untuk kelestarian lingkungan.

Menghadapi kritik ini, sejumlah organisasi lingkungan mengubah cara yang mereka lakukan. Extinction Rebellion salah satunya. Tahun lalu organisasi lingkungan mengumumkan bahwa mereka akan “sementara” menjauh dari taktik yang mengganggu.

Baca: Pemanasan global membuat cuaca makin sulit diprediksi

Extinction Rebellion adalah sebuah organisasi lingkungan yang didirikan pada tahun 2018 dan terkenal di seluruh dunia karena penggunaan pembangkangan sipil tanpa kekerasan untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah lingkungan.

Isu lingkungan yang diperjuangkan antara lain meliputi hilangnya keanekaragaman hayati dan keruntuhan ekologi.

“Menjelang tahun baru, kami membuat resolusi kontroversial untuk sementara waktu mengalihkan gangguan publik sebagai taktik utama,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

Dalam pernyataan itu, Extinction Rebellion menegaskan, apa yang paling dibutuhkan saat ini adalah menghentikan penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakseimbangan, untuk mewujudkan transisi menuju masyarakat adil yang bekerja sama untuk mengakhiri era bahan bakar fosil.

”Politisi kita, yang kecanduan keserakahan dan terlalu mementingkan keuntungan, tidak akan melakukan hal ini tanpa tekanan.” tandasnya.

Sumber:earth.org

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *