7cloud.asia – PT Bank Tabungan Negara (BTN) melakukan inovasi ramah lingkungan lewat proyek pembangunan rumah rendah emisi.
Proyek pembangunan rumah rendah emisi tersebut berlokasi di Kabupaten Bekasi dengan menggunakan bahan baku dari sampah-sampah ekonomis.
Anggota Komisi VI DPR Abdul Hakim Bafagih mengapresiasi inovasi rumah rendah emisi yang dilakukan bank plat merah tersebut.
“Ini sebuah gebrakan yang inovatif karena ada beberapa bahan baku yang digunakan mendekati sepuluh persen itu menggunakan produk yang ramah lingkungan yang berasal dari sampah ekonomis, tentu ini merupakan sebuah langkah yang inovatif dari BTN,” ujarnya usai meninjau Rumah Rendah Emisi saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI ke Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (18/9/2024).
Bafagih mengatakan, Komisi VI mendukung secara penuh program yang telah dijalankan oleh PT BTN ini tetapi dengan syarat ada beberapa hal yang perlu diawasi secara bersama.
Baca: Jumlah rumah warga yang memilah sampah terus meningkat
“Dengan target sampai dengan 2029 masih akan membangun ratusan ribu unit lagi yang sekiranya akan difasilitasi berkaitan dengan rumah rendah emisi tentunya selagi programnya bagus akan kami dukung, kalo memang bagus kenapa tidak untuk di dukung,” ungkap Politisi PAN itu.
Ia menilai bahwa dengan adanya tren Environment, Social and Governance (ESG) ini yang menjadi awal mula BTN dalam menjalankan program rumah rendah emisi. Dimana program ini dinilai bagus dalam mengolah kembali sampah-sampah yang menumpuk serta menekan emisi karbon.
“Kita melihat bahwa tren ESG ini sudah menjadi tren yang bagus dan harapan kami ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi persoalan sampah yang ada, karena tadi ada beberapa bahan baku yang diolah dari sampah yang bahkan tidak ada nilai ekonomisnya,” tutupnya.
Dilansir Antaranews.com, dalam pilot project rumah rendah emisi ini, BTN menggunakan material ramah lingkungan berupa floor decking yang mengandung 3,6 kilogram sampah plastik.
Proyek ini juga akan memakai paving block yang mengandung 2 kilogram sampah plastik per 1 meter persegi.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan dengan target bertahap hingga 2029 tersebut, akan berkontribusi pada pengurangan lebih dari 1,7 juta kilogram sampah plastik.
Baca: Konsep rumah penangkap air ini dapat ditiru
Selain itu, emisi karbon juga akan ditekan sebesar 2,42 ton CO2. Dampak tersebut, imbuhnya, setara dengan penanaman 110.000 pohon dan 323 hektar penyerapan emisi.
Selain menggunakan bahan bangunan yang ramah lingkungan, BTN juga menggerakkan para pengembang kategori Rumah Rendah Emisi untuk memastikan beberapa standar di antaranya efisien dalam pemakaian energi, air, pengelolaan sampah, hingga pengurangan polusi.
Untuk efisiensi energi, rumah ramah lingkungan tersebut diwajibkan memiliki banyak ventilasi, plafon tinggi, hingga rasio jendela terhadap tembok mencapai 15 persen – 30 persen.
Standar tersebut ditetapkan agar terdapat sirkulasi udara yang baik. Efisiensi air dilakukan melalui penggunaan keran debit kecil, pengolahan sanitasi yang baik, memiliki sumur resapan, hingga penggunaan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Untuk pengolahan sampah, rumah beremisi rendah diwajibkan memiliki bak sampah pilah. Sementara, untuk menekan polusi, pengembang diminta menanam satu tanaman penyerap emisi karbon per rumah.
Selain itu, pengurangan polusi juga dilakukan dengan menggunakan minimal 10 persen material ramah lingkungan pada dinding dan lantai, hingga memiliki ruang terbuka hijau sebanyak 10 persen dari total luas kawasan perumahan.
“Kami percaya, hunian layak, sehat dan ramah lingkungan akan meningkatkan kualitas hidup manusia yang tinggal di dalamnya,” kata Nixon.

Leave a Reply