7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG pada Selasa (2/9/2024) merilis hasil analisis terbaru terkait anomali suhu muka laut atau fenomena La Nina.
Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Agustus 2024 itu, BMKG memaparkan hasil monitoring indeks IOD dan ENSO pada bulan Agustus 2024.
Mengutip keterangan BMKG, ENSO atau El Nino-Southern Oscillation adalah anomali pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya.
Disebutkan, iklim di Samudra Pasifik terbagi ke dalam 3 fase. Yaitu, El Nino, La Nina, dan Netral.
Ketika terjadi fase La Nina, hembusan angin pasat dari Pasifik timur ke arah barat sepanjang ekuator menjadi lebih kuat dari biasanya. Menguatnya angin pasat yang mendorong massa air laut ke arah barat, maka di Pasifik timur suhu muka laut menjadi lebih dingin.
Baca: Apa yang terjadi saat fenomena La Nina landa Indonesia
“IOD Netral diprediksi berlangsung September hingga Februari 2025. Sementara itu, ENSO diprediksi berpotensi menuju La Nina mulai September 2024,” tulis BMKG dalam keterangan di situs resmi, Rabu (4/9/2024).
BMKG memprediksi, pada Dasarian I-III September 2024, curah hujan di Indonesia pada umumnya berada di kriteria rendah-menengah (0-150 mm/dasarian).
Tak hanya itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini curah hujan untuk periode Dasarian III Agustus tahun 2024, dengan berbagai klasiifkasi.
Berikut peringatan dini hujan tinggi yang dirilis BMKG:
Waspada
Beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Tengah, Papua Barat, Papua, Papua Tengah dan Papua Selatan
Siaga
Beberapa kabupaten/kota di Maluku, Papua Barat dan Papua Tengah
Baca: WMO ingatkan transisi cepat ke La Nina memicu musim badai
Awas
Tidak Ada
Untuk curah hujan di Dasarian III Agustus 2024, menurut BMKG akan bervariasi dari kriteria rendah (33%), menengah (49%) dan tinggi-sangat tinggi (19%).
Sedangkan sifat hujan pada Dasarian III Agustus 2024 akan bervariasi Bawah Normal (29%), Normal (9%) dan Atas Normal (62%).
Di sisi lain, BMKG mengungkapkan, berdasarkan jumlah ZOM, sebanyak 64% wilayah Indonesia masuk musim kemarau.
Wilayah yang sedang mengalami musim kemarau meliputi Aceh, sebagian Sumatra Utara, Riau, sebagian Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku

Leave a Reply