Krisis Eksistensi: Kenali Tanda-tanda dan Pemicunya

Written by

in

7cloud.asia – Perubahan tertentu dalam hidup, seperti kematian orang yang dicintai bencana alam atau harus pensiun sebelum waktunya bisa sangat mengguncang jiwa sehingga seseorang mengalami krisis eksistensi.

Perasaan kehilangan atau tidak berdaya yang menguasai suasana hati menjadi pemicu utama seseorang mengalami krisis eksistensi.

Tidak ada yang mudah atau menyenangkan dalam konflik batin akibat krisis eksistensi ini. Tapi hal ini bisa menimpa siapa saja dan kita tidak bisa menghindari.

Jika beruntung, melewati momen-momen yang tidak pasti dalam krisis eksistensi ini akan membuat kita lebih kuat melanjutkan hidup.

Tapi, tidak jarang krisis eksistensi membuat orang berlama-lama terjebak di dalamnya dan mempengaruhi kehidupan dia selanjutnya.

Baca: Langkah sederhana lakukan refleksi tenang

Apa itu krisis eksistensi?
Dilansir health.clevelandclinic.org, Psikolog Susan Albers, PsyD mengatakan bahwa krisis eksistensi adalah fase transisi saat seseorang dihadapkan pada kenyataan bahwa pada akhirnya dia akan mati.

“Saat kita sedang menghadapi perubahan besar atau kehilangan besar, biasanya kita mulai bertanya tentang keberadaan saat ini,” jelasnya.

“Kita melihat apa yang kita lakukan dan mengapa melakukannya. Dan mungkin memiliki perasaan ketidakpuasan yang mendalam terhadap keberadaan saat ini.”

Krisis eksistensi, menurutnya, adalah respons emosional terhadap perubahan. Sebaliknya, ketakutan eksistensial menggambarkan perasaan cemas tentang masa depan yang kita alami selama krisis eksistensi.

Krisis eksistensial tidak sama dengan kecemasan dan depresi. Hal ini serupa karena orang sering kali mengalami perasaan serupa, namun krisis eksistensi biasanya memiliki pemicu.

“Biasanya ada titik balik atau momen kesadaran yang – dalam satu atau lain cara – terkait dengan kekhawatiran akan kematian,” jelas Dr. Albers.

Baca: Kelola stres dengan meditasi penuh kesadaran

Titik balik itu menyebabkan orang memikirkan dan mempertanyakan makna hidup mereka.

”Ini seperti kita berlari di atas roda hamster setiap hari, hanya mencoba mengejar ketinggalan,” Dr. Albers mengilustrasikan.

“Tapi kemudian, tiba-tiba, ada sesuatu yang menghentikan roda itu. Dan kita melambat hingga mulai bertanya-tanya, mengapa saya berada di roda ini? Mengapa saya terus melanjutkan?”

Pengalaman atau peristiwa yang memicu krisis eksistensi sering kali bersifat negatif, namun bisa juga bersifat positif.

Beberapa contoh kejadian yang bisa memicu krisis eksistensi antara lain, kelahiran seorang anak, ulang tahun tengah baya, berpisah dengan keluarga, diagnosa medis, pernikahan atau perceraian).

Kematian atau kehilangan orang yang dicintai, pindah ke kota baru, memasuki masa pensiun, peristiwa besar seperti perang atau pemilu, perubahan yang tiba-tiba seperti mendapat promosi atau diberhentikan.

Baca: Ketidakpastian membuat orang melirik frugal living

Lantas, apa yang terjadi pada mereka yang mengalami krisis eksistensi? Kita mungkin mengalami depresi, cemas atau merasa tidak termotivasi saat menghadapi krisis eksistensi.

“Kamu mungkin mulai menanyakan banyak pertanyaan, seperti mengapa berada dalam hubungan yang Anda jalani atau mengapa Abelum mencapai tujuan tertentu. Kamu mungkin merasa menyesal atas pilihan masa lalu, dan bahkan mungkin memiliki pikiran untuk bunuh diri.” Dr. Albers.

Tanda-tanda lain saat berada dalam krisis eksistensi adalah:
1. Memikirkan tentang kematian, kehidupan, makna atau tujuan lebih dari biasanya.
2. Penurunan harga diri atau peningkatan keraguan diri.
3. Kesulitan fokus pada apa yang terjadi saat ini.
4. Perasaan cemas atau putus asa tentang masa depan.
5. Perasaan terputus (dan terkadang, terisolasi) dari orang-orang di sekitar. 6. Perubahan tiba-tiba dalam rutinitas harian atau kurangnya minat pada aktivitas yang biasanya disukai.
7. Perasaan hampa, putus asa atau penyesalan.
8. Minat yang tidak biasa pada filsafat, spiritualitas, atau pengembangan diri.
Hidup dengan ketakutan eksistensi bukan hal mudah, bagaimana mengatasinya akan kita ulas dalam tulisan selanjutnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *