Pakar Perubahan Iklim Claudia Sheinbaum Terpilih Jadi Presiden Meksiko, Bagaimana Kebijakan Iklimnya?

Written by

in

7cloud.asia – Pada tanggal 2 Juni, mantan walikota Mexico City Claudia Sheinbaum terpilih sebagai presiden perempuan pertama di Meksiko dengan meraih 59 persen suara nasional.

Claudia Sheinbaum adalah presiden perempuan pertama dan paling berpengalaman secara ilmiah di Meksiko.

Namun kurangnya komitmen net zero Claudia Sheinbaum dalam peta jalannya dan dukungannya terhadap pembangunan kilang minyak baru, memunculkan pertanyaan tentang komitmen nyata mantan ilmuwan IPCC tersebut.

Lahir dari orang tua ilmuwan di Mexico City, Sheinbaum tampaknya akan memiliki karir yang cemerlang di bidang sains.

Setelah mengejar gelar sarjana di bidang Fisika dan gelar master di bidang teknik energi di negara asalnya, Claudia Sheinbaum pindah ke California, AS untuk mengerjakan tesis Ph.D Di Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley.

Di sana, dia menghabiskan empat tahun pada tahun 1990-an, ia fokus menganalisis konsumsi energi di sektor bangunan dan transportasi di Meksiko.

Baca: Greta Thunberg berjuang untuk lingkungan sejak umur 8 tahun

Pada tahun 2007, Sheinbaum bergabung dengan panel ilmuwan penerima Hadiah Nobel Perdamaian yang menyusun Laporan Penilaian Keempat dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

IPCC adalah badan ilmiah paling terhormat di bidang penilaian perubahan iklim Laporan Penilaian Kelima.

Karier politik Sheinbaum dimulai pada tahun 2000, ketika walikota saat itu Andrés Manuel López Obrador, yang memiliki hubungan politik yang kuat dengannya, menunjuknya sebagai menteri lingkungan hidup di Mexico City.

Dia antaralain menangani cagar ekologi masyarakat, dan pengenalan sistem angkutan cepat bus, yang telah diperluas menjadi tujuh jalur yang melintasi kota berpenduduk 8,8 juta orang.

Dia kemudian menjabat sebagai walikota wilayah Tlalpan dari tahun 2015 hingga 2017 dan terpilih sebagai kepala pemerintahan Mexico City pada tahun 2018.

Posisi ini dipegangnya sampai dia mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden baru-baru ini.

Baca: Kerja keras Coldplay wujudkan tur ramah lingkungan

Selama bertahun-tahun menduduki posisi teratas kota, Sheinbaum melakukan elektrifikasi pada sebagian besar sistem bus, memasang proyek tenaga surya di atap di pasar pusat, dan memperkenalkan rute kereta gantung baru.

Meski demikian, ia juga menghadapi reaksi keras karena membangun jembatan di zona ekologi yang merusak yakni lahan basah di wilayah Xochimilco yang bersejarah.

Berbicara kepada Inside Climate News, aktivis lingkungan di Conexiones Climáticas Claudia Campero menyoroti bagaimana beberapa kebijakannya bermotif ekonomi, sementara manfaat lingkungan tidak terlalu penting.

Hal ini terutama pada program penangkapan air hujan di lingkungan berpenghasilan rendah, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas air hujan kualitas hidup masyarakat marginal.

“Dia memprioritaskan kebijakan sosial,” kata aktivis tersebut. “Sisi lingkungan memang ada, namun motif pertumbuhan ekonomi lebih berpengaruh dalam pengambilan keputusannya.”

Keunggulan Claudia Sheinbaum dalam komunitas ilmiah membuat banyak orang berharap bahwa pemilihannya baru-baru ini akan menghasilkan kemajuan dalam bidang iklim.

Baca: Pandawara ajak anak muda untuk lebih ramah lingkungan

Namun, latar belakang ilmiahnya kini harus diselaraskan dan dinegosiasikan dengan lanskap politik yang ada saat ia mulai menjabat.

Selain kurangnya kebijakan iklim yang ekstensif saat menjabat sebagai Wali Kota Mexico City, para skeptis juga menunjuk pada aliansi jangka panjang Meksiko dengan pendahulunya yang populis dan mentornya, López Obrador.

Obrador selama ini menggandakan penggunaan bahan bakar fosil untuk meningkatkan pembangkit listrik oleh raksasa energi negara yang bergantung pada bahan bakar fosil, termasuk perusahaan minyak Pemex, salah satu dari sepuluh perusahaan terbesar di dunia yang berkontribusi terhadap emisi karbon global.

Berbeda dengan janjinya untuk meningkatkan energi terbarukan sebanyak 50 persen pada akhir masa jabatannya pada tahun 2030, Sheinbaum berjanji untuk melanjutkan kebijakan pendahulunya dan tetap setia pada komitmennya terhadap produksi minyak dan gas.

Langkah ini mendorong banyak orang untuk memikirkan transisi energi ramah lingkungan. bukanlah prioritas Claudia Sheinbaum.

Sumber:earth.org

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *