7cloud.asia – Pemerintah Indonesia berusaha menggandeng masyarakat untuk berperan langsung meredam dan beradaptasi dengan perubahan iklim melalui Program Kampung Iklim (Proklim).
Sejak perencanaan, Program Kampung Iklim melibatkan masyarakat setempat untuk memetakan potensi-potensi kampung untuk meredam dan beradaptasi dengan perubahan iklim.
Pemetaan dilakukan oleh Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup yang mengajak dusun dan desa untuk terlibat dalam Program Kampung Iklim.
Langkah partisipatif tersebut secara langsung menggerakkan masyarakat. Dalam pengamatan kami di semua dusun, Program Kampung Iklim meningkatkan kemahiran warga dalam berorganisasi sehingga mendukung pengawasan dan proses pembangunan di desa.
Harapannya, pembangunan desa dapat berjalan lebih cepat dan prosesnya menjadi lebih transparan.
Menariknya, kami menemukan kaum perempuan banyak berperan menjadi motor dalam berbagai kegiatan Program Kampung Iklim
Baca: Mengenal apa itu program kampung iklim
Sebagai contoh di Dusun Cinyenang, Desa Sidamulya, Kecamatan Cisaga, Ciamis, Ibu Kepala Dusun Noneng menjadi orang yang membawahi berbagai kegiatan Program Kampung Iklim di dusun tersebut.
Di dusun Selacai dan Cikembang, kelompok perempuan menjalankan kegiatan bank sampah. Sementara, perempuan dusun Cinyenang, Cikananga dan Cikembang membentuk kelompok wanita tani (KWT) untuk menanam sayur mayur di lahan pekarangan dan kebun bersama.
Program Kampung Iklim juga telah membangun budaya peduli lingkungan. Kami mengamati empat dusun telah memiliki bank sampah sejak 2021 untuk mencegah sampah anorganik seperti plastik dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir.
Bank sampah ini mengumpulkan sampah plastik warga untuk dijual kembali ke pengepul, seperti sampah botol minuman mineral.
Meskipun fasilitas yang ada hanya berupa pondok pengumpulan sampah, bank sampah efektif untuk mengelola sampah di tingkat dusun. Di dusun Cinyenang, sampah bekas wadah minuman kemasan diolah menjadi kerajinan tikar.
Lewat bank sampah ini, masyarakat juga menjadi lebih terbiasa dalam memberlakukan sampah sebagai barang yang bernilai ekonomi. Uang yang terkumpul dapat dipakai untuk kegiatan bersama maupun kepentingan penyetor sampah.
Baca: Mempromosikan inklusi sosial di perkotaan
Di desa Selamanik, bank sampah bahkan mulai mengepul sisa plastik tak terpakai untuk menjadi bahan baku batu bata ramah lingkungan. Setiap RT di desa ini membangun bank sampah. Sebanyak 42 di antaranya RT memiliki bank sampah masing-masing.
Selain mengolah sampah plastik, Program Kampung Iklim juga menghidupkan budaya pengelolaan limbah peternakan maupun pertanian melalui pembuatan pupuk kandang dan kompos. Sebelumnya, kotoran hewan dan sampah organik hanya dibuang begitu saja.
Warga di Proklim yang kami amati juga mengolah sampah organik menjadi kompos dan pupuk kandang dari sisa peternakan untuk memberi pemasukan tambahan bagi warga. Hal ini sudah dilakukan di dusun Selacai.
Pembeli berasal dari dalam dan luar kampung, bahkan instansi pemerintah pernah membeli kompos dari Selacai.
Kegiatan pembuatan pupuk sebenarnya sudah dilakukan sejak 2019 sebelum Program Kampung Iklim digulirkan.
Namun, hadirnya Program Kampung Iklim berhasil meningkatkan promosi pengolahan sampah menjadi pupuk untuk direplikasi di dusun lain yang memiliki potensi serupa.
Baca: Menata kampung pesisir yang adaptif terhadap perubahan iklim
Merangsang pertanian dan pariwisata
Program Kampung Iklim juga berhasil menghidupkan kembali budaya pertanian yang telah banyak ditinggalkan.
Lahan tidur, termasuk lahan pekarangan, juga digalakkan dengan penanaman sayur mayur dan tanaman obat keluarga (TOGA) seperti kunyit, jahe, dan kapulaga.
Sayur mayur yang produksinya berlebih juga akan menjadi pemasukan tambahan bagi kelompok karena ada pembeli, terutama penjual sayur keliling antar kampung yang siap menampung hasil pertanian tersebut.
Sementara, keberadaan TOGA dapat dimanfaatkan masyarakat untuk pengobatan pertama dan menjaga kesehatan.
Optimalisasi lahan pekarangan untuk ditanami TOGA.
Yang terakhir adalah pengenalan budaya bisnis baru. Kami mengamati Program Kampung Iklim juga dapat merangsang bisnis jasa wisata.
Bisnis ini merupakan hal baru karena biasanya usaha perdesaan kerap terkait dengan sektor pertanian, wanatani, dan produk olahannya.
Desa Selamanik adalah salah satu desa yang mengembangkan usaha pariwisata. Desa Selamanik pun ini telah masuk dalam daftar desa wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Marcellinus Mandira Budi Utomo, Peneliti Madya BRIN;Levina Augusta Geraldine Pieter,Peneliti Madya BRIN;Rubangi Al Hasan Peneliti BRIN

Leave a Reply