Mengenang 26 Tahun Tragedi Trisakti: Ketika Semangat Reformasi Berada di Simpang Jalan

Written by

in

7cloud.asia – Tanggal 12 Mei menyimpan catatan kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia. Setiap 12 Mei Indonesia bersama-sama mengingat sebuah tragedi yang kemudian memicu reformasi, Tragedi Trisakti.

Tragedi Trisakti mencatat empat mahasiswa Universitas Trisakti yang meregang nyawa dan kemudian menjadi martir reformasi.

Tragedi Trisakti terjadi para mahasiswa sedang melakukan demonstrasi, menuntut Presiden Soeharto agar mundur dari jabatannya setelah 32 tahun berkuasa.

Maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi alasan mahasiswa, dengan didukung masyarakat untuk ramai-ramai turun ke jalan, saat itu.

Hari ini, Minggu 12 Mei 2024 atau tepat 26 tahun Tragedi Trisakti kita dihadapkan pada kekhawatiran yang sama. Bahwa korupsi, kolusi dan nepotisme akan kembali menyubur di negeri ini.

Kita tentu tak ingin kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Tapi apa yang kita saksikan saat ini menjadi petunjuk kuat bahwa petinggi negeri ini sedang menyemai benih-benih korupsi, kolusi dan nepotisme itu.

Baca Juga: Banjir Karangan Bunga untuk Megawati Soekarnoputri, Mendesak Mega Memimpin Penyelamatan Reformasi

Pencalonan dan pemenangan anak sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka menjadi orang nomor dua di negeri ini menjadi bukti nyata kekhawatiran itu.

Untuk merawat cita-cita perjuangan reformasi, setiap tanggal 12 Mei diperingati sebagai Hari Peringatan Tragedi Trisakti.

Dan, hari ini 7cloud.asia mengajak untuk mengingat dan menumbuhkan kembali cita-cita reformasi yang dulu diperjuangkan ribuan anak negeri.

Tragedi Trisakti terjadi di ujung masa pemerintahan Soeharto, tepatnya pada tanggal 12 Mei 1998. Saat itu, keadaan Indonesia sedang sangat kacau dari berbagai sektor.

Krisis ekonomi, krisis politik, krisis hukum, dan krisis kepercayaan tengah melanda di Indonesia. Seluruh masyarakat Indonesia menderita dan merasa tak puas dengan kinerja pemerintahan Soeharto.

Alhasil, para mahasiswa dan masyarakat bersatu untuk melakukan aksi demonstrasi besar-besaran.

Baca Juga: Maklumat Juanda: Politik Dinasti Presiden Jokowi Mengkhianati Reformasi

Mereka turun ke jalan dengan tujuan untuk melengserkan Soeharto dari jabatannya sebagai presiden. Aksi demo tersebut bisa dikatakan berhasil.

Namun, aksi yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat tersebut harus dibayar mahal. Empat mahasiswa harus meregang nyawa karena ditembak aparat.

Keempat mahasiswa Universitas Trisakti tersebut adalah:
Elang Mulia Lesmana (1978-1998)
Heri Hertanto (1977-1998)
Hafidin Royan (1976-1998)
Hendriawan Sie (1975-1998).

Sejarah dan Kronologi Tragedi Trisakti
Akibat krisis di segala aspek, para mahasiswa melakukan demonstrasi untuk menuntut Presiden Soeharto agar segera mundur dari jabatannya.

Dilansir laman resmi Universitas Trisakti, aksi demonstrasi dilakukan pada tanggal 12 Mei 1998 yang dimulai pukul 10.30 WIB. Para mahasiswa Universitas Trisakti saat itu tengah berkumpul di parkiran depan Gedung Syarif Thayeb.

Terdapat juga para dosen dan pejabat fakultas, dan para karyawan universitas yang mengikuti aksi tersebut.

Lalu, pukul 10.45 WIB-11.00 WIB, penurunan bendera setengah tiang dilakukan oleh demonstran sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, sebagai bentuk kesedihan terhadap situasi di Indonesia, demonstran melakukan hening cipta.

Baca Juga: Reformasi Mundur ke Titik Nol, Aktivis Desak Jokowi Tak Berikan Contoh Buruk Pada Rakyat

Aksi tersebut masih berlangsung damai. Lalu, pada pukul 12.25 WIB, keadaan menjadi panas karena sejumlah aparat mulai berdatangan. Namun, demonstran tidak terpancing dan tetap fokus dalam melaksanakan aksi demo dengan berjalan menuju gerbang arah Jalan Jendral S. Parman untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada DPR/MPR.

Kemudian, pukul 12.40 WIB, saat demonstran menuju Gedung DPR/MPR, mereka terhadang di depan kantor Wali Kota Jakbar.

Lalu, terjadi diskusi antara kedua belah pihak. Setelah berdiskusi, kedua belah pihak akhirnya mundur tepat pada pukul 16.45 WIB.

Namun, tepat pada pukul 17.05 WIB, saat demonstran tengah mundur, sejumlah aparat yang tergabung di dalam barisan mengejek dengan melontarkan kata-kata kasar dan kotor kepada mahasiswa. Alhasil, situasi yang sudah damai tiba-tiba menjadi panas.

Situasi sangat memanas ketika aparat melakukan penembakan secara membabi buta. Tak hanya itu, mereka melemparkan gas air mata ke arah mahasiswa serta melakukan aksi pemukulan dengan pentungan.

Bahkan, sejumlah aparat dikatakan juga melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswa yang tergabung dalam demonstran.

Baca Juga: ICW dan KontraS: Penuh Kekacauan Pemilu 2024 adalah Pemilu Terburuk Sejak Era Reformasi

Aparat yang berada di atas jembatan layang juga melakukan aksi penembakan. Mereka menembak ke arah mahasiswi yang tengah berlarian di dalam kampus Universitas Trisakti.

Akibat tembakan tersebut, empat mahasiswa kehilangan nyawanya. Tiga dari 4 mahasiswa yang gugur meninggal seketika di kampus, sedangkan satu lainnya meninggal di rumah sakit.

Hingga saat ini, peristiwa tersebut tidak akan pernah dilupakan.

Setiap Tragedi Trisakti diperingati, mahasiswa dari seluruh Indonesia biasanya akan berkumpul dan berkabung untuk mengenang kembali empat pahlawan reformasi.

Semoga mereka juga merawat semangat reformasi, yakni melawan korupsi, kolusi dan nepotisme.

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *