Riset: Perubahan Iklim Memangkas Seperlima Pendapatan Global

Written by

in

7cloud.asia – Pendapatan rata-rata penduduk di seluruh dunia atau ekonomi global akan turun seperlimanya karena perubahan iklim pada pertengahan abad ini.

Dampak perubahan iklim pada ekonomi global ini dipaparkan dalam laporan baru dari Postdam Institute for Climate Impact Research.

Penelitian ini meninjau data iklim dan ekonomi dari empat puluh tahun terakhir meliputi lebih dari 1.600 kawasan di dunia dan digunakan untuk menilai dampak perubahan iklim di masa depan.

Ironisnya, kawasan yang paling sedikit mengakibatkan emisi global kemungkinan akan terpukul paling buruk.

“Kawasan di Global Selatan adalah yang paling rentan dan paling kuat terdampak oleh perubahan iklim pada masa depan. Dan alasan bagi hal itu adalah kawasan-kawasan ini sudah panas,” ujar penyusun laporan itu Maxmilian Kotz.

Baca Juga: Separuh Populasi Global Terancam Krisis Air, Berikut 7 Langkah Global untuk Mengatasinya

Laporan ini menyimpulkan bahwa mengatasi perubahan iklim akan jauh lebih murah dibandingkan dengan menanggapi kerusakan ekonominya.

Menurutnya, biaya mengurangi emisi gas rumah kaca hanya seperenam dari dampak perubahan iklim pada 2050, yakni sebesar 38 triliun dolar AS.

Di Filipina minggu ini sekolah ditutup dan para siswa dan guru diperintahkan untuk tinggal di rumah ketika suhu naik mendekati 40 derajat Celsius.

Gelombang panas yang diduga akibat perubahan iklim ini juga melanda sejumlah negara di Asia Selatan.

Sementara banyak bagian dunia didera cuaca ekstrem, sebuah penelitian baru memperingatkan bahwa dampak global dari perubahan iklim akan menelan biaya 38 triliun dolar AS pada 2050.

Baca Juga: Perubahan Iklim Berdampak Nyata pada Kesejahteraan dan Perilaku Anak

Itu berarti pengurangan pada pendapatan rata-rata dunia sebesar 19 persen.

Kotz memaparkan, pihaknya menemukan bahwa dalam 25 sampai 30 tahun ke depan, dampak pada ekonomi konsisten lintas berbagai skenario emisi, terlepas apakah emisi yang kita masuki tinggi atau rendah.

“Perubahan iklim khususnya suhu tinggi terbukti berdampak pada produktivitas pekerja,“ kata Kotz.

“Dan itu kemudian akan dimanifestasikan lintas industri yang berbeda, meskipun khususnya dampaknya kuat kalau pekerja bekerja di udara terbuka, jadi dalam konteks seperti sektor produksi.”

”Kemudian kita juga tahu dampak pada produktivitas pertanian sangat kuat, juga akibat suhu tinggi yang dipicu perubahan iklim,” jelasnya.

Sumbr: VOAIndonesia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *