Hindari Cium Balita untuk Cegah Penularan Flu Singapura

Written by

in

7cloud.asia – Berkumpul bersama keluarga saat lebaran sudah menjadi tradisi di Indonesia. Namun disaat kasus flu singapura tinggi, orang dewasa hendaknya menghindari mencium balita saat kumpul keluarga.

Hal ini diungkapkan oleh pakar kesehatan anak dr. Dwinanda Aidina, Sp. A, Subsp. I.P mengingat mudahnya penularan flu singapura di tengah kerumunan.  

“Kumpul keluarga itu agak sulit dihindari saat Hari Raya, mungkin kita bisa siasati dengan meminimalisir orang lain untuk tidak sembarang mencium atau memegang anak balita,” jelas Dwinanda seperti yang dikutip Antaranews.

Selanjutnya Sekretaris Unit Kerja Infeksi dan Penyakit Tropis di Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini mengatakan penyakit ini dapat dicegah dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Baca: Perbedaan flu singapura, sariawan dan cacar air

Sama seperti prokes saat pandemi Covid 19, masyarakat dapat mengenakan masker untuk mengurangi paparan droplet, menghindari kerumunan dan menjaga kebersihan tangan menggunakan air dan sabun setelah ke toilet, serta sebelum makan.

Namun, anak-anak terutama balita belum bisa menerapkan prokes sebaik orang dewasa dan kondisi imunitas belum matang sehingga lebih rentan terkena flu singapura dibandingkan kelompok usia dewasa.

“Belum bisa pintar cuci tangan, masih sering memegang benda-benda tertentu atau memasukkan tangan ke mulut atau mungkin berbagi makanan dengan teman-temannya,” paparnya.

Karena itu, lanjut Dwinanda, perlu bantuan orang dewasa atau berusia lebih besar untuk menerapkan prokes, memakai masker saat sakit dan terpaksa harus bertemu si anak jika kumpul keluarga.

Upaya lainnya yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah melatih anak sebisa mungkin sesuai perkembangan usianya misalnya saat anak berusia dua tahun untuk belajar memakai masker.

Bagi anak yang ikut perjalanan mudik, orang tua mungkin bisa mempertimbangkan pemilihan moda transportasi.Hal ini harus dilakukan agar balita tidak tertular penyakit flu singapura.

Sementara itu Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo Sp.A(K), menjelaskan HFMD disebabkan oleh dua macam virus.

Baca: Antisipasi flu singapura, pemudik harus lakukan ini

Yaitu Coxsackie Virus A16 (cox 16) dan enterovirus 71 (EV 71), termasuk dalam kelompok virus RNA yang menyebabkan lesi pada telapak tangan, telapak kaki dan mulut.

“Definisi flu singapura adalah kumpulan gejala adanya lesi kulit memerah terutama di telapak tangan, kaki dan mulut, yang disebabkan virus dan banyak menyerang bayi dan balita usia kurang dari lima tahun, dewasa bisa kena tapi sangat jarang, yang jadi faktor risiko anak kurang 5 tahun,” jelas Edi

Selanjutnya Edi menerangkan penularan HFMD hampir sama dengan COVID-19 yakni adanya kontak dengan penderita atau droplet.

Penularan bisa terjadi secara langsung misalnya karena batuk, bersin, terkena air liur secara oral dan dari kotoran atau feses.

Sementara penularan kontak tidak langsung juga bisa terjadi karena penggunaan handuk dari anak yang terkena flu singapura, menyentuh mainan atau peralatan dari anak yang terinfeksi.

Sehingga bisa dikatakan HFMD sangat mudah menular baik secara kontak langsung maupun tidak langsung terutama pada anak.

Penularan terjadi saat virus masuk ke saluran pernapasan dan diteruskan ke faring atau tenggorokan, masuk ke usus dan memperbanyak diri, menyebar ke kelenjar limfe dalam waktu 24 jam.

Baca: Ini gejala kasus flu singapura

Setelah itu, muncul gejala lentingan pada kulit di sekitar mulut dan telapak tangan dan kaki.

Jika gejala menunjukkan infeksi berat seperti demam lebih dari 39 derajat, nafas cepat seperti sesak, terjadi kejang terutama anak di bawah 6 tahun yang memiliki riwayat kejang keluarga harus segera dirujuk ke rumah sakit.

Flu Singapura juga bisa menyebabkan komplikasi berat yang berbahaya seperti meningitis dan ensefalitis pada anak yang bisa menyebab nyeri, tidak sadar, kejang dan kelumpuhan, sehingga diperlukan pemeriksaan cairan di otak.

“Komplikasi yang diwaspadai yang bahaya kalau menyerang otak yang menyebabkan meningitis dan ensefalitis, walaupun kasusnya sangat jarang tapi beberapa jurnal dan negara tetangga ada kasusnya kesana,” terangnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga pekan ke 11 tahun 2024 tembus hingga 5.461 kasus flu singapura

Namun, vaksinasi untuk HFMD belum ada di Indonesia, sehingga pencegahannya sama seperti saat pandemi yakni menjaga kebersihan, sering mencuci tangan terutama jika kontak dengan penderita.

Reporter: Nurakhmayani

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *