7cloud.asia – Pengelolaan sampah dengan menimbun di tempat pembuangan akhir atau TPA dinilai sudah ketinggalan zaman dan memicu banyak masalah lingkungan yang serius.
Beberapa tahun belakangan warga dunia mulai mengenal pengelolaan sampah yang lebih modern, seperti gasifikasi, refuse derivd fuel (RDF) dan intermediate treatment facility (ITF).
Di Hari Tanpa sampah Sedunia lalu, Eva Zabey dalam tulisannya di earth.org membahas tentang pengelolaan sampah ini. Terkait dengan lokasi TPA, Eva menulis masih banyak hal yang dapat dan harus dilakukan untuk melindungi kelestarian lingkungan.
Dengan melindungi keanekaragaman hayati lokal dan bentang alam di sekitar lokasi TPA, pengelolaan sampah dapat menciptakan habitat yang menyediakan tempat berlindung, makanan, dan tempat berkembang biak bagi spesies lokal.
Baca: Hari tanpa sampah sedunia
Pemilihan lokasi TPA yang dilakukan dengan cermat seperti menghindari area yang sensitif secara ekologis dalam perencanaan dan konstruksi TPA yang cermat serta menerapkan praktik penggunaan lahan berkelanjutan di lokasi, akan mendorong restorasi di lokasi TPA.
Dengan cara di atas maka pengelolaan sampah dapat membantu memberdayakan masyarakat lokal, meningkatkan semangat pekerja, dan berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja bagi penduduk setempat.
Praktik terbaik dalam pengelolaan sampah mungkin akan berbeda-beda di setiap wilayah sesuai dengan kondisi masing-masing.
Karena itu perusahaan pengelolaan sampah di seluruh dunia dapat belajar satu sama lain untuk meningkatkan standar dan membuat rencana yang dapat ditindaklanjuti untuk melindungi dan memulihkan alam.
Baca: Masalah pengelolaan sampah dengan menimbun di TPA
Misalnya, pada tahun 2005, TPA Jinkou di China ditutup karena standar kesehatan dan keselamatan lingkungan yang tidak memadai.
Namun, alih-alih meninggalkan lokasi tersebut, pada tahun 2014 pemerintah kota setempat malah memulai proyek restorasi inovatif dengan menggunakan teknologi aerobik untuk mempercepat penguraian sampah.
Langkah baru ini tak hanya mengarah pada restorasi 52 hektare lahan untuk lansekap perkotaan, tetapi juga meningkatkan nilai lahan di sekitarnya dan memacu pembangunan ekonomi lebih lanjut.
Bahkan upaya merestorasi TPA ini mampu menghemat kocek pemkot hingga 125 juta dolar AS atau hampir Rp 2 Triliun.
Baca: Mengenal sistem RDF, pengelolaan sampah menjadi sumber energi
Mengatasi dampak pengelolaan sampah terhadap alam bukan hanya tanggung jawab perusahaan, namun merupakan ambisi internasional yang tertuang dalam Tujuan ke-12 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB: memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.
Laporan terbaru Badan Lingkungan PBB (UNEP) mengenai proyek pengelolaan sampah global menyatakan bahwa timbulan limbah padat perkotaan diperkirakan akan tumbuh dari 2,3 miliar ton pada tahun 2023 menjadi 2,8 miliar ton pada tahun 2050.
Produksi sampah ini tidak hanya perlu diperlambat, namun juga dapat dan harus dibalik. Masyarakat global sudah memiliki alat, teknologi, dan pengetahuan terkait pengelolaan sampah.
Sudah tiba waktunya bagi semua pelaku usaha bertindak tegas dan berkontribusi menuju masa depan yang ramah lingkungan, tanpa sampah dan adil untuk semua.
Sumber; earth.org baca artikel asli di sini

Leave a Reply