Tag: pengelolaan sampah

  • Sudah Ketinggalan Jaman, Pengelolaan Sampah dengan Ditimbun Harus Segera Diakhiri

    Sudah Ketinggalan Jaman, Pengelolaan Sampah dengan Ditimbun Harus Segera Diakhiri

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah secara konvensial dengan hanya menitikberatkan pada pemrosesan akhir melalui fasilitasi landfill sudah saatnya ditinggalkan. 

    Pengelolaan sampah dengan cara ini terbukti telah memicu banyak masalah seperti longsoran sampah yang memakan korban, kebakaran serta emisi gas metana dan sejumlah masalah lainnya. 

    “Beban tempat pemrosesan akhir yang berat, membuat pengelolaan sampah menjadi tidak optimal dan berpotensi untuk menimbulkan permasalahan lingkungan seperti pencemaran lingkungan, longsor sampah, dan juga perubahan iklim dikarenakan emisi gas metana dari timbunan sampah di landfill,” kata Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Rosa Vivien Ratnawati.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Saat berbicara workshop Pengelolaan Sampah dalam rangka Pengendalian Perubahan Iklim, Penguatan Ketahanan Pangan dan Pengembangan Ekonomi Rakyat di Bandung (7/6/2023), Vivien memaparkan sebagian besar kota di Indonesia masih mengelola sampahnya secara konvensional.

    Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut, hingga tahun 2022, sebanyak kurang lebih 65,83% sampah di Indonesia masih diangkut dan ditimbun di landfill.

    Untuk itu Vivien menekankan, pentingnya dilakukan berbagai upaya pembenahan yang komprehensif dari hulu ke hilir dalam rangka menuntaskan masalah pengelolaan sampah di Indonesia.

    Baca: Perlu kerjasama pemerintah-produsen dan konsumen untuk kelola sampah

    Salah satu upaya dan pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah melalui pengembangan teknologi tepat guna dalam pengolahan sampah dan pelibatan peran aktif seluruh lapisan masyarakat.

    Saat ini pemerintah terus mendorong optimalisasi fasilitas pengelolaan sampah seperti instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik, pengolahan sampah menjadi RDF, SRF, dan biogas serta pengolahan sampah melalui biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF).

    Saat ini jumlah pengelolaan sampah secara modern ini ini masih bisa dihitung dengan jari. namun diharapkan sistem pengelolaan sampah secara modern ini dapat dipraktikkan oleh seluruh daerah di Indonesia.

    Baca: Cek lokasi bank sampah dengan menggunakan aplikasi ini

    “Penerapan berbagai opsi teknologi pengolahan sampah ramah lingkungan ini diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah ke TPA dan ke depannya hanya residu yang diangkut ke TPA,” tambah Vivien.

     

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2022, capaian kinerja pengelolaan sampah nasional adalah 66,58%, yaitu melalui 18,63% pengurangan sampah dan 47,95% penanganan sampah.

    Data tersebut menggambarkan bahwa masih terdapat 33,42% sampah di Indonesia yang belum terkelola dengan baik dan benar.

    “Kondisi tersebut merupakan tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, pemerintah daerah, produsen, swasta, dan seluruh lapisan masyarakat dalam rangka mewujudkan Indonesia Bersih 2025 dengan 100% sampah terkelola dengan baik dan benar,” tandas Vivien.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada lingkungan

    Vivien turut mengajak agar semua pihak terus menggalakkan berbagai langkah dan upaya untuk mendorong kehidupan yang berkelanjutan secara kondusif agar lingkungan sehat.

    Sebagai bagian dari perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2023, pentingnya dilakukan pembersihan plastik di pantai-pantai, kawasan konservasi, bantaran sungai, tempat-tempat umum sehingga dapat memperkuat budaya kehidupan berkelanjutan.

    “Karena, sebagai negara dengan kearifan lokal yang tinggi, mari kita hidupkan kembali dan tanamkan pengetahuan dan pendekatan modern inovatif menuju negara yang lebih bersih, hijau dan bebas plastik,” pungkasnya.

  • Teknologi Pengelolaan Sampah Masaro, Mengubah 1 Kilogram Sampah Jadi Senilai 1 Gram Emas

    7cloud.asia – Masaro demikian sistem pengelolaan sampah ini dinamai. Masaro merupakan sistem dan teknologi pengelolaan sampah yang menghasilkan zero waste.

    Masaro atau manajemen sampah zero mengubah paradigma pengelolaan sampah yang awalnya cost center atau cenderung memakan biaya dengan sistem kumpul-angkut dan buang menjadi pengelolaan yang besifat profit center.

    Pengelolaan sampah bersifat profit center ini antara lain dilakukan dengan dipilah-diangkut-diproses dan lantas dijual. 

    Pengelolaan sampah dengan teknologi Masaro membagi sampah dari masyarakat menjadi lima kategori yaitu sampah membusuk, sampah plastik film, sampah waste to energy (WTE), sampah daur ulang, dan sampah B2 (bahan berbahaya)

    Baca: Yuk kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

    Saat berbincang dengan 7cloud.asia beberapa waktu lalu, pencipta teknologi pengelolaan sampah Masaro Ahmad Zainal menjelaskan pengelolaan sampah dengan sistem Masaro bisa diterapkan meski warga tidak melakukan pemilahan dari rumah.

    Sampah yang belum terpilah ini nantinya akan dipilah menjadi lima jenis sampah yaitu sampah mudah membusuk, sampah lambat membusuk, sampah tidak bisa membusuk, sampah tidak bisa didaur-ulang dan sampah beracun dan berbahaya.

    “Masing-masing jenis sampah ini akan diolah sesuai sifatnya untuk menghasilkan berbagai produk, mulai dari kompos hingga konsentrat cair istimewa,” terang Zainal kepada 7cloud.asia melalui sambungan telepon. 

    Sampah mudah membusuk, seperti makanan, sayuran, buah-buahan akan diolah menjadi konsentrat pakan organik yang dalam pengelolaan sampah sistem Masaro dinamai KOCI (Konsentrat pakan Organik Cair Istimewa).

    Baca: Butuh tindakan kolektif untuk pengeloaan sampah plastik

    Harga 1 kilogram KOCI ini, menurut Zainal, setara dengan harga 1 gram emas. 

    Sementara sampah lambat membusuk, dengan menggunakaan teknologi pengelolaan sampah Masaro akan diolah menjadi kompos padat masaro ataupun kompos cair Masaro.

    “Dengan formula kami, sistem pengomposan ini bisa berlangsung lebih cepat, yakni kurang dari satu minggu,” terang Zainal sembari menambahkan setiap kilogram kompos padat laku dijual Rp 40 sedangkan kompos cair Masaro dijual seharga Rp 1250 per liter.

    Lain lagi dengan pengelolaan sampah tidak bisa membusuk. Melalui teknologi pengelolaan sampah Masaro sampah tidak bisa membusuk dipisahkan menjadi dua jenis, yakni sampah yang bisa didaur-ulang dan tidak bisa didaur-ulang.

    Baca: Kenali beragam teknologi untuk pengelolaan sampah plastik

    Untuk sampah yang bisa didaur-ulang akan dikumpulkan tersendiri, namun Masaro tidak menangani sampah jenis ini.

    “Selain dijual kepada pengepul ada juga yang disadaqahkan kepada pengepul,” imbuh Zainal.

    Sementara sampah plastik yang tergolong jenis sampah yang tidak bisa didaur-ulang dengan teknologi pengelolaan Masari akan diolah menjadi pestisida organik Masaro.

    Jadi dengan teknologi pengelolaan sampah Masaro ini, hampir tidak ada sampah rumah tangga yang terbuang sia-sia. Semua jenis sampah bisa digunakan untuk hal yang berguna.

    Baca: Menyoal galon sekali pakai, apakah menjadi solusi untuk lingkungan

    Bahkan dengan teknologi pengelolaan sampah Masaro ini, tempat pengelolaan sampah bisa dijadikan edu wisata untuk mengenalkan pengelolaan sampah kepada anak-anak.

    Zainal yang merupakan pensiunan dosen ITB dan pernah menjabat sebagai Staf Ahli di Kementerian Perindustrian ini menuturkan, teknologi pengelolaan sampah Masaro ini mulai ia kembangkan sekitar 10 tahun lalu. 

    Awalnya teknologi pengelolaan sampah Masaro diterapkan untuk skala RW di lingkungan tempat tinggal Zainal di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

    Kini teknologi pengelolaan sampah Masaro telah diterapkan di sejumlah kota seperti di Kota Cilegon yang merupakan program CSR Chandra Asri. Teknologi pengelolaan sampah Masaro juga diterapkan di Desa Babakan, Kuningan Cirebon Jawa Barat 

    Baca: Mengenal Insectta, aplikasi pengelolaan sampah makanan dari Singapura

    “Kini teknologi pengelolaan sampah Masaro sedang dikembangkan di TPA Mekarsari dan IPPO Dumai yang mampu mengolah 100 ton sampah per hari untuk Zero Waste to TPA,” ujar Zainal Bangga. 

    Pembangunan teknologi pengelolaan sampah Masaro di Dumai ini memakan biaya sebesar Rp 35 miliar yang diambil dari APBD. Sedangkan operasionalnya akan ditangani BLUD di bawah Dinas Lingkungan Hidup setempat.

    Dari pengelolaan sampah terpadu yang berdiri di atas lahan seluas 5000 meter persegi ini akan dihasilkan beragam produk baik kompos, pakan ternak maupun pestisida organik yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan setempat. 

    Pemanfaatan produk pengelolaan sampah dengan teknologi Masaro ini akan dilakukan Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, dan Dinas Taman & Pariwisata.

    Baca: KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak kelola sampah plastiknya

    “Diperkirakan akan ada sekitar 580 Kelompok Tani, KWT, dan perkebunan yang akan memanfaatkan produk dari TPST Dumai ini,” imbuh Zainal.

    Ke depan lokasi TPST Dumai ini juga bisa dimanfaatkan eduwisata baik dalam pengeloaan sampah maupun edukasi sektor pertanian maupun perikanan.

  • Lewat Program Jogja Hijau, 10 Desa Jadi Pilot Project Pengelolaan Sampah Mandiri d

    Lewat Program Jogja Hijau, 10 Desa Jadi Pilot Project Pengelolaan Sampah Mandiri d

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjuk sepuluh desa percontohan terkait pengurangan dan pengelolaan sampah secara mandiri.

    Pengelolaan sampah di sepuluh desa percontohan itu bekerja sama dengan SPEAK (Strategi Pengkajian Edukasi Alternatif Komunikasi) Indonesia melalui Program Jogja Hijau dan Voices For Just Climate Action (VCA).

    Di desa percontohan itu berlangsung pengelolaan sampah yang mampu dituntaskan di tingkat kelurahan beserta pengembangan “Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R)”.

    “Masyarakat mau tidak mau harus mempunyai tingkat partisipasi untuk memilah sampah dari dapur pindah ke depan pintu masing-masing rumah,” kata Kepala DLHK DIY Kuncoro Cahyo Aji dalam keterangan resmi , Rabu (2/8/2023).

    Baca: Bank sampah ini tak punya gudang tapi tetap juara

    Menurut Kuncoro, sampah di depan pintu masing-masing rumah di sepuluh desa percontohan mandiri sampah tersebut bakal dibantu penyalurannya ke TPS3R aktif dari 10 desa tersebut.

    “Jadi, nanti bisa dikerjakan di situ (TPS3R). Untuk pengefektifan, TPS3R ini ada beberapa bantuan memang untuk alat transportasi, kemudian pengolah sampah yang ada di TPS3R,” kata dia.

    Kesepuluh desa itu akan dijadikan percontohan bahwa pengelolaan sampah bisa selesai di tingkat kelurahan. 

    Sepuluh desa percontohan itu adalah Desa Sinduharjo, Sardonoharjo, Puriharjo, Purwomartani, Minomartani, dan Pandowoharjo di Kabupaten Sleman, serta Desa Wirokerten, Tamanan, Srigading, dan Srihardono di Kabupaten Bantul.

    Baca: Hindari 5 jenis plastik sekali pakai ini

     

    Kuncoro berharap program itu mampu mengurangi sampah yang masuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Piyungan, Bantul.

    Kuncoro menjelaskan, Program Jogja Hijau merupakan konsep pengelolaan lingkungan berdasarkan empat aspek ramah lingkungan.

    Keempat aspek tersebut adalah konservasi energi, konservasi air, pengelolaan sampah dan limbah domestik secara mandiri serta pemanfaatan lahan.

    “Melalui pemberdayaan itu masyarakat mendapatkan manfaat dari lingkungan yang dikelola tersebut,” katanya.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Sementara itu, Direktur SPEAK Indonesia Wiwit Heris Mandari menjelaskan program Voices For Just Climate Action (VCA) adalah program aksi untuk mengatasi perubahan iklim yang berkeadilan.

    Bersama Slum Dwellers International (SDI), pihaknya bergerak untuk memulai menyuarakan perubahan iklim dari masyarakat yang bisa bekerja sama dengan pemerintah.

    Melalui program VCA, SPEAK Indonesia berkolaborasi sekaligus belajar dari Pemda DIY terkait perubahan iklim, salah satunya dengan membangun aksi bersama masyarakat untuk mengatasi permasalahan sampah.

    “Kami paham saat ini kita semua memang harus menghadapi persampahan dengan cara yang berbeda. Tadi kita sudah bertemu dengan Pak Wagub DIY, banyak arahan yang sudah diberikan untuk bagaimana nanti kita bisa bekerja sama,” kata dia.

    Sumber: Antaranews

  • Dosen UGM Usulkan Sistem Pengelolaan Sampah Berbayar tuk Atasi Masalah TPA Piyungan

    Dosen UGM Usulkan Sistem Pengelolaan Sampah Berbayar tuk Atasi Masalah TPA Piyungan

    7cloud.asia – Penutupan Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Piyungan memicu darurat sampah di sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY.

    TPA Piyungan adalah  tempat pemrosesan akhir sampah dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul, yang terletak di Dusun Ngablak dan Watugender, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul.

    TPA Piyungan berdiri sejak sekitar 40 tahun lalu. Memiliki luas 16 hektare menggunakan sistem sanitary landfill.

    Pengelolaan sampah di TPA Piyungan dilakukan dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi tertentu dengan harapan agar terurai dan mengalami dekomposisi.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan tinggalkan 5 jenis plastik sekali pakai

    Berubahnya gaya hidup kemudian mempengaruhi karakteristik sampah yang dibuang ke TPA Piyungan.

    Jika sekitar 40 tahun yang lalu sampah didominasi oleh sampah organik, sejak tahun 1980-an mulai banyak sampah plastik yang dibuang ke TPA Piyungan. 

    Akibatnya, sampah plastik yang tidak bisa cepat terurai membuat kapasitas TPA Piyungan turun dengan cepat. Sampah plastik yang ditumpuk begitu saja berpotensi longsor dan juga memicu masalah ekologi lainnya. 

     

    Untuk mengatasi kondisi ini, penggiat persampahan dari Universitas Gadjah Mada Dr. Mohammad Pramono Hadi, M.Sc mengusulkan diterapkannya konsep  pengelolaan sampah berbayar.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

    “Konsep dari sampah berbayar ini adalah jika satu keluarga ingin membuang sampah dengan membayar sedikit, maka harus mengelola sampahnya sendiri,” terangnya sebagaimana dikutip ugm.ac.id.

    Konsep pengelolaan sampah berbayar ini, lanjut Pramono, dapat dilakukan dengan melakukan pemilahan sampah secara mandiri.

    Sampah dari bahan organik dapat dikelola sendiri dengan dijadikan kompos, kemudian sampah dari kertas disisihkan sendiri serta sampah plastik juga disisihkan sendiri yang nantinya akan ada pihak ketiga yang akan mengambil.

    Harapannya nanti yang diambil adalah residunya saja sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA menjadi lebih sedikit.

    Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

    “Namun pasti akan ada masyarakat yang mampu membayar lebih banyak dikarenakan tidak sempat mengelola sampahnya sendiri,” imbuh Pramono.

    Konsep pengelolaan sampah berbayar ini akan mendorong masyarakat untuk menerapkan proses 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk menghemat uang yang harus dikeluarkan untuk sampah.

    Pramono mencontohkan, proses 3R antara lain dilakukan dengan mengumpulkan sampah-sampah sisa makanan di suatu daerah tertentu akan dikumpulkan untuk bahan makan maggot.

    Hal-hal semacam ini, ujar Praono yang merupakan dosen Fakultas Geografi UGM tersebut, diharapkan akan muncul dengan sendirinya.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Konsep pengelolaan sampah berbayar ini, lanjutnya, juga diterapkan pada masyarakat yang membuang sampah sembarangan bisa diadukan dan dijerat dengan tindak pidana ringan dan dijatuhi sanksi.

    Metode sampah berbayar menurut Parmono, adalah solusi untuk masalah hulu yaitu pada masyarakat.

    Di sisi hilir, perlu adanya penerapan teknologi Refuse Derived Fuel atau RDF untuk pengelolaan sampah di TPA Piyungan.

    Dengan teknologi ini, sampah yang terkumpul sebanyak 600 ton perhari di TPA Piyungan dapat dikelola dengan dicacah, dikompres, dan diangin-anginkan kemudian dikemas maka akan menjadi bahan bakar.

    Baca: Ketimbang bangun ITF Sunter, Pemprov DKI Jakarta lebih pilih sistem RDF

    Plastik, ujarnya, memiliki kalori untuk menggantikan fungsi batubara pada prosesnya.

    Dengan sistem ini, sampah di TPA Piyungan bisa ditambang sedikit demi sedikit kemudian dipilah dan diolah satunya menjadi pupuk dan satunya menjadi bahan bakar.

    Cara ini diyakini akan bisa memfungsikan lagi luas TPA Piyungan. Namun langkah ini harus dilakuksn secara terintegrasi dan terencana dengan matang, dan  dilindungi dengan Perda yang kuat

    “Proses secara mekanistik dari sampah siap menjadi bahan bakar dihitung membutuhkan biaya berapa sehingga nanti dapat ditentukan ongkos sampah berbayarnya menjadi berapa,” pungkasnya. 

    Baca: Teknologi pengelolaan sampah ini mampu ubah sekilo sampah seharga segram emas

     

     

  • Darurat Sampah di Yogyakarta Lahirkan Inovasi Pengelolaan Sampah Mbah Dirjo

    Darurat Sampah di Yogyakarta Lahirkan Inovasi Pengelolaan Sampah Mbah Dirjo

    7cloud.asia – Krisis sampah yang dialami Kota Yogyakarta pasca penutupan TPA Piyungan melahir inovasi pengelolaan sampah organik dengan ‘Mbah Dirjo’.

    Pengelolaan sampah Mbah Dirjo adalah mengolah limbah dan sampah dengan biopori ala Jogja atau kota Yogyakarta.

    Mantri Pamong Praja, Lurah, RW dan RT di kota Yogyakarta wajib menggerakkan pengelolaan sampah Mbah Dirjo ini.

    Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan, sejak diluncurkan pada awal Agustus lalu sampai saat ini, program pengelolaan sampah Mbah Dirjo sudah menciptakan 16.000 biopori di Kota Yogyakarta.

    Baca: Mengolah sampah organik ala Fakultas Biologi UGM

    Menurutnya, sebanyak 16.000 biopori ini dibuat oleh forum bank sampah, warga Kota Yogyakarta, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan juga Aparatur Sipil Negara (ASN).

    Biopori merupakan lubang yang dibuat tegak lurus ke dalam tanah. Lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah organik yang memiliki fungsi sebagai makanan makhluk hidup yang ada di tanah, seperti cacing dan akar tumbuhan.

    Ukuran biopori dalam pengelolaan sampah mbah Dirjo ini beragam tergantung kebutuhan. Ada yang panjangnya 15 cm hingga 1 meter.

    Selain untuk pengelolaan sampah organik, di musim penghujan, biopori ini dapat berfungsi sebagai sumur resapan yang menyerap air ke dalam tanah.

    Baca: UGM tawarkan pengelolaan sampah berbayar

    Menurut Singgih, pengelolaan sampah Mbah Dirjo ini mampu mengolah sampah organik hingga 50 ton sehari.

     

    “50 ton (hasil evaluasi). Produksi sampah 200 ton per hari,” ujar Singgih ditemui di Balai Kota Yogyakarta, Senin (14/8/2023).

    Singgih menjelaskan Pemerintah Kota Yogyakarta kini telah mengupayakan dua langkah pengolahan sampah mulai dari hulu hingga hilir. 

    Untuk di hulu penanganan sampah organik dilakukan dengan program Mbah Dirjo. Sedangkan sampah anorganik akan diambil oleh bank sampah. 

    Baca: Mungkinkah mewujudkan pasar rakyat yang bebas plastik?

    Salah satu penerapan pengelolaan sampah Mbah Dirjo dilakukan di wilayah RT 16 Kampung Celeban Kelurahan Tahunan Umbulharjo. 

    Saat menyerahkan biolos di RT 16 Kampung Celeban, pekan lalu Singgih mencontohkan pembuatan biopori dengan metode biolos yakni gabungan biopori dan losida.

    Dalam kesempatan itu diserahkan 2 unit biolos bantuan dari Bank BPD DIY untuk warga di RT 16 Kampung Celeban.

    Menurut Singgih, biolos memiliki kelebihan karena saat memanen kompos hasil olah sampah organik tinggal menarik pipa paralon di bagian dalam.

    Baca: Mengenal Teba, cara unik warga Bali mengelola sampah rumah tangga

    Meski demikian metode biolos itu hanya salah satu contoh pengolahan sampah organik. Masyarakat bisa memilih, menggunakan metode lain seperti biopori, ember tumpuk dan lodong sisa dapur untuk mengolah sampah organik.

    “Karena TPA Piyungan tutup kita harus mengelola dengan baik sehingga sampah organik yang selama ini diresidukan dititipkan ke penggerobak atau depo, kita harus pilah dan diolah. Bisa dengan biopori ember tumpuk dan losida,” tambah Singgih.

    Singgih menegaskan sejak awal Januari 2023, Kota Yogyakarta juga memiliki gerakan zero sampah anorganik.

    Gerakan itu sukses menurunkan volume sampah di Kota Yogyakarta dari sekitar 300 ton/hari menjadi 200 ton/hari sejak 6 bulan lalu.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah layak ditinggalkan

    Singgih menyebut gerakan pengelolaan sampah organik Mbah Dirjo yang dicanangkan dua minggu lalu sudah mengurangi volume sampah sampai sekitar 30 ton/hari.

    Kalau masyarakat semua melaksanakan ini (Mbah Dirjo), Singgih yakin sampah organik akan selesai di tingkat hulu sehingga beban yang harus dibuang ke Piyungan akan semakin berkurang.

    “Ini kesempatan kita di masa yang sangat darurat ini. Saya minta tolong Pak Mantri, Pak Lurah. Pak RW dan Pak RT ikut menggerakkan ini,” terangnya.

    Sementara itu Ketua RT 16 Kampung Celeban, Suratim mengatakan selama masa darurat sampah, sebagian warga mulai mengelola sampah secara mandiri.

    Baca: Teknologi pengelolaan sampah ini mampu ubah sekilo sampah jadi seharga 1 gram emas

    Salah satunya dengan membuat lubang, ember tupuk dan losida.

    Bantuan 2 unit biolos itu akan ditanam di lahan salah satu warga dan bisa digunakan bersama.

    “Selama ini ada yang dikelola secara mandiri seperti ember tumpuk dan losida, tapi memang sulit untuk memanennya dibandingkan biolos,” tutur Suratim seperti dikutip HarianJogja.com.

     

     

  • Setidaknya 30 TPA Kebakaran dalam Tiga Bulan, Saatnya Pengelolaan Sampah dengan Landfill Diakhiri

    Setidaknya 30 TPA Kebakaran dalam Tiga Bulan, Saatnya Pengelolaan Sampah dengan Landfill Diakhiri

    7cloud.asia – Setidaknya 30 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah mengalami kebakaran dalam tiga bulan terakhir. Kebakaran tersebut dipicu oleh udara panas dan kering sebagai dampak dari El Nino. 

    Kebakaran TPA ini karena itu penggunaan teknologi pengelolaan sampah ramah lingkungan sangat penting dan urgent.

    Hal itu terutama bagi daerah-daerah yang pengelolaan sampah sudah darurat dan memiliki TPA yang sudah melebihi kapasitas.

    Kebakaran ini menunjukkan pengelolaan sampah secara konvensial dengan hanya menitikberatkan pada pemrosesan akhir melalui fasilitasi landfill sudah saatnya ditinggalkan. 

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Pengelolaan sampah dengan cara ini terbukti telah memicu banyak masalah seperti longsoran sampah yang memakan korban, kebakaran serta emisi gas metana dan sejumlah masalah lainnya. 

    “Beban tempat pemrosesan akhir yang berat, membuat pengelolaan sampah menjadi tidak optimal dan berpotensi untuk menimbulkan permasalahan lingkungan seperti pencemaran lingkungan, longsor sampah, dan juga perubahan iklim dikarenakan emisi gas metana dari timbunan sampah di landfill,” kata Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Rosa Vivien Ratnawati Juni lalu.

    Saat berbicara workshop Pengelolaan Sampah dalam rangka Pengendalian Perubahan Iklim, Penguatan Ketahanan Pangan dan Pengembangan Ekonomi Rakyat di Bandung (7/6/2023), Vivien memaparkan sebagian besar kota di Indonesia masih mengelola sampahnya secara konvensional.

    Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut, hingga tahun 2022, sebanyak kurang lebih 65,83% sampah di Indonesia masih diangkut dan ditimbun di landfill.

    Baca: Perlu kerjasama pemerintah-produsen dan konsumen untuk kelola sampah

    Untuk itu Vivien menekankan, pentingnya dilakukan berbagai upaya pembenahan yang komprehensif dari hulu ke hilir dalam rangka menuntaskan masalah pengelolaan sampah di Indonesia.

    Salah satu upaya dan pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah melalui pengembangan teknologi tepat guna dalam pengolahan sampah dan pelibatan peran aktif seluruh lapisan masyarakat.

    Saat ini pemerintah terus mendorong optimalisasi fasilitas pengelolaan sampah seperti instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik, pengolahan sampah menjadi RDF, SRF, dan biogas serta pengolahan sampah melalui biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF).

    Saat ini jumlah pengelolaan sampah secara modern ini ini masih bisa dihitung dengan jari. namun diharapkan sistem pengelolaan sampah secara modern ini dapat dipraktikkan oleh seluruh daerah di Indonesia.

    Baca: Cek lokasi bank sampah dengan menggunakan aplikasi ini

    “Penerapan berbagai opsi teknologi pengolahan sampah ramah lingkungan ini diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah ke TPA dan ke depannya hanya residu yang diangkut ke TPA,” tambah Vivien.

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2022, capaian kinerja pengelolaan sampah nasional adalah 66,58%, yaitu melalui 18,63% pengurangan sampah dan 47,95% penanganan sampah.

    Data tersebut menggambarkan bahwa masih terdapat 33,42% sampah di Indonesia yang belum terkelola dengan baik dan benar.

    “Kondisi tersebut merupakan tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, pemerintah daerah, produsen, swasta, dan seluruh lapisan masyarakat dalam rangka mewujudkan Indonesia Bersih 2025 dengan 100% sampah terkelola dengan baik dan benar,” tandas Vivien.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada lingkungan

    Vivien turut mengajak agar semua pihak terus menggalakkan berbagai langkah dan upaya untuk mendorong kehidupan yang berkelanjutan secara kondusif agar lingkungan sehat.

    Sebagai bagian dari perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2023, pentingnya dilakukan pembersihan plastik di pantai-pantai, kawasan konservasi, bantaran sungai, tempat-tempat umum sehingga dapat memperkuat budaya kehidupan berkelanjutan.

    “Karena, sebagai negara dengan kearifan lokal yang tinggi, mari kita hidupkan kembali dan tanamkan pengetahuan dan pendekatan modern inovatif menuju negara yang lebih bersih, hijau dan bebas plastik,” pungkasnya.

     

     

  • Hari Tanpa Sampah Internasional: Beberapa Contoh Baik Pengelolaan Sampah di Sejumlah Negara

    Hari Tanpa Sampah Internasional: Beberapa Contoh Baik Pengelolaan Sampah di Sejumlah Negara

    7cloud.asia – Pada bulan Desember 2022, Majelis Umum PBB mencanangkan tanggal 30 Maret sebagai “Hari Tanpa Sampah Internasional”.

    Penetapan Hari Tanpa Sampah Internasional ini bertujuan untuk mendorong organisasi-organisasi dari seluruh lapisan masyarakat – swasta, publik, masyarakat sipil, akademisi, dan badan-badan internasional – untuk meningkatkan kesadaran soal inisiatif tanpa sampah.

    Hari Tanpa Sampah Internasional juga ingin mempromosikan pentingnya inisiatif tanpa sampah  terhadap pembangunan berkelanjutan.

    Eva Zabey dalam tulisannya di earth.org menyebut, Hari Tanpa Sampah Internasional adalah kesempatan yang baik untuk fokus pada sektor yang sering diabaikan karena kedekatannya dengan alam dan keanekaragaman hayati.

    Ia menekankan pentingnya tindakan bisnis yang bermakna dan menjelaskan cara-cara praktis bagi dunia usaha untuk berhasil dalam upaya ini.

    ”Sektor pengelolaan sampah mempunyai peran penting dalam kehidupan setiap orang,” tulisnya.

    Baca: Ketinggalan jaman, pengelolaan sampah dengan ditimbun saatnya diakhiri

    Meskipun volume sampah yang ditangani dapat menghambat potensinya dalam melindungi alam, sektor ini juga – agak berlawanan dengan intuisi – merupakan sektor yang mempunyai potensi nyata untuk membantu mencapai ambisi yang ditetapkan oleh Hari Tanpa Sampah Internasional.

    Pengelolaan sampah yang tidak tepat menyebabkan tingginya tingkat emisi gas rumah kaca, polusi, punahnya spesies tertentu, penipisan sumber daya alam, dan perubahan penggunaan lahan.

    Pengangkutan, penguburan, dan pembakaran sampah berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca.

    Penilaian Metana Global memperkirakan bahwa pengelolaan sampah menyumbang sekitar 20% emisi metana global dan 3,3% dari total emisi gas rumah kaca. 

    Namun, ujarnya, hal ini tidak perlu lagi terjadi. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah dan menciptakan perubahan pola pikir dari “pengelolaan sampah” menjadi “pengelolaan sumber daya”,

    Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang tak kelola sampahnya dengan baik

    Angka-angka di atas dapat dikurangi secara signifikan dengan mencegah timbulnya gas metana tersebut. Salah satunya dengan meningkatkan tingkat daur ulang dan mengalihkan sebanyak mungkin sampah dari tempat pembuangan sampah.

     “Sektor ini dapat mengambil langkah nyata menuju kondisi yang melindungi alam, meningkatkan ekosistem dan kesehatan manusia, dan secara signifikan mengurangi emisi,“ imbuh Eva.

    Ia lantas merujuk pada panduan dari Business for Nature, yang dikembangkan sebagai bagian dari kolaborasi yang lebih luas dengan Forum Ekonomi Dunia dan Dewan Bisnis Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan.

    Di sana diuraikan tindakan yang harus diambil oleh perusahaan-perusahaan di sektor pengelolaan limbah untuk melindungi dan memulihkan alam.

    Mengalihkan sampah makanan dari tempat pembuangan sampah dan mengolahnya menjadi kompos dapat mengurangi emisi metana dari sektor ini sebesar 62%, sekaligus meningkatkan kesehatan tanah.

     

    Baca: Pengelolaan sampah plastik di Indonesia

    Contoh praktik yang baik adalah pusat Bioenergi Bioenergy Devco di Maryland, AS, yang dapat memproses 110.000 ton sampah organik setiap tahunnya.

    Limbah tersebut kemudian diubah menjadi dua produk utama dengan emisi dan nilai finansial yang jauh lebih rendah: gas alam terbarukan untuk energi, sejumlah setara dengan daya yang dihasilkan oleh 4,6 turbin angin yang beroperasi selama setahun.

    Pengelolaan sampah ini juga menghasilkan 16,575 ton bahan tambahan tanah yang kaya dan subur untuk pertanian dan penggunaan lahan lainnya.

    Pupuk organik ini sangat membantu mengurangi kebutuhan akan pupuk kimia, sehingga menghasilkan tanah yang lebih sehat.

    Dampak terhadap alam tidak hanya terbatas pada pengolahan limbah; pengumpulan dan pengolahan juga berperan. Pengelolaan limbah yang efektif bergantung pada pengumpulan yang benar, termasuk daur ulang yang akurat untuk menghindari kontaminasi.

     

    Baca: Tahun lalu tercatat 30 kasus kebakaran di tempat pembuangan sampah

    Ini berarti infrastruktur yang sesuai, kesadaran masyarakat, dan keterampilan perlu diterapkan. Transformasi pengumpulan sampah membutuhkan kolaborasi yang signifikan antara pemerintah daerah, masyarakat, dan seringkali sektor swasta.

    Jika dilakukan dengan benar, hal ini akan menghadirkan banyak peluang, meningkatkan perekonomian lokal dengan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan teknologi serta institusi yang diperlukan untuk ekonomi sirkular.

    Contoh yang jelas dan berguna dari dunia usaha dan otoritas lokal yang bekerja sama dalam hal ini adalah pendirian pusat penggunaan kembali dan skema pengambilan kembali.

    Perusahaan pengelolaan limbah SUEZ menjalankan pusat penggunaan kembali terbesar di Inggris dalam kemitraan dengan Greater Manchester Combined Authority, yang merupakan rumah bagi sekitar 3 juta orang.

    Wadah sumbangan memungkinkan warga untuk menyumbangkan barang-barang seperti furnitur, barang-barang elektronik dan barang-barang listrik yang kemudian diperbaharui dan didistribusikan kembali ke masyarakat.

     

     

    Baca: Kaca dan plastik mana yang lebih ramah lingkungan

    Proyek ini berupaya mengatasi pengurangan sampah secara langsung, dengan mengalihkan 500 ton sampah dari tempat pembuangan sampah setiap tahunnya.

    Proyek ini juga memperjuangkan ekonomi sirkular dengan memberikan pelatihan kerja ramah lingkungan dan berkolaborasi dengan badan amal setempat untuk menyediakan rumah bagi mereka yang membutuhkan.

    Demikian pula dengan sampah, di Chile, perusahaan manajemen terkemuka, TriCiclos, berkolaborasi dengan pemerintah, organisasi, dan sektor swasta untuk mengembangkan inisiatif guna mengurangi timbulan sampah dan mendorong ekonomi sirkular.

    Selama 14 tahun terakhir, TriCiclos telah menjalankan salah satu perusahaan yang paling efisien jaringan daur ulang di Amerika Selatan di bawah model manajemen berdasarkan ketertelusuran 100% dan menolak bahan yang tidak dapat didaur ulang.

    Dengan menyediakan layanan daur ulang, pendidikan konsumsi berkelanjutan, dan peluang kerja yang bermartabat bagi pemulung jalanan, TriCiclos telah melayani lebih dari 3 juta orang hingga saat ini .

    Sumber; earth.org baca artikel asli di sini 

  • Meski Dinilai Ketinggalan Zaman, Pengelolaan Sampah dengan Ditimbun di TPA Tetap Berpeluang untuk Direstorasi

    Meski Dinilai Ketinggalan Zaman, Pengelolaan Sampah dengan Ditimbun di TPA Tetap Berpeluang untuk Direstorasi

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah dengan menimbun di tempat pembuangan akhir atau TPA dinilai sudah ketinggalan zaman dan memicu banyak masalah lingkungan yang serius.

    Beberapa tahun belakangan warga dunia mulai mengenal pengelolaan sampah yang lebih modern, seperti gasifikasi, refuse derivd fuel (RDF) dan intermediate treatment facility (ITF). 

    Di Hari Tanpa sampah Sedunia lalu, Eva Zabey dalam tulisannya di earth.org membahas tentang pengelolaan sampah ini. Terkait dengan lokasi TPA, Eva menulis masih banyak hal yang dapat dan harus dilakukan untuk melindungi kelestarian lingkungan. 

    Dengan melindungi keanekaragaman hayati lokal dan bentang alam di sekitar lokasi TPA, pengelolaan sampah dapat menciptakan habitat yang menyediakan tempat berlindung, makanan, dan tempat berkembang biak bagi spesies lokal.

    Baca: Hari tanpa sampah sedunia

    Pemilihan lokasi TPA yang dilakukan dengan cermat seperti menghindari area yang sensitif secara ekologis dalam perencanaan dan konstruksi TPA yang cermat serta menerapkan praktik penggunaan lahan berkelanjutan di lokasi, akan mendorong restorasi di lokasi TPA.

    Dengan cara di atas maka pengelolaan sampah dapat membantu memberdayakan masyarakat lokal, meningkatkan semangat pekerja, dan berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja bagi penduduk setempat. 

    Praktik terbaik dalam pengelolaan sampah mungkin akan berbeda-beda di setiap wilayah sesuai dengan kondisi masing-masing.

    Karena itu perusahaan pengelolaan sampah di seluruh dunia dapat belajar satu sama lain untuk meningkatkan standar dan membuat rencana yang dapat ditindaklanjuti untuk melindungi dan memulihkan alam.

    Baca: Masalah pengelolaan sampah dengan menimbun di TPA

    Misalnya, pada tahun 2005, TPA Jinkou di China ditutup karena standar kesehatan dan keselamatan lingkungan yang tidak memadai.

    Namun, alih-alih meninggalkan lokasi tersebut, pada tahun 2014 pemerintah kota setempat malah memulai proyek restorasi inovatif dengan menggunakan teknologi aerobik untuk mempercepat penguraian sampah.

    Langkah baru ini tak hanya mengarah pada restorasi 52 hektare lahan untuk lansekap perkotaan, tetapi juga meningkatkan nilai lahan di sekitarnya dan memacu pembangunan ekonomi lebih lanjut.

    Bahkan upaya merestorasi TPA ini mampu menghemat kocek pemkot hingga 125 juta dolar AS atau hampir Rp 2 Triliun.

    Baca: Mengenal sistem RDF, pengelolaan sampah menjadi sumber energi

    Mengatasi dampak pengelolaan sampah terhadap alam bukan hanya tanggung jawab perusahaan, namun merupakan ambisi internasional yang tertuang dalam Tujuan ke-12 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB: memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. 

    Laporan terbaru Badan Lingkungan PBB (UNEP) mengenai proyek pengelolaan sampah global menyatakan bahwa timbulan limbah padat perkotaan diperkirakan akan tumbuh dari 2,3 miliar ton pada tahun 2023 menjadi 2,8 miliar ton pada tahun 2050.

    Produksi sampah ini tidak hanya perlu diperlambat, namun juga dapat dan harus dibalik. Masyarakat global  sudah memiliki alat, teknologi, dan pengetahuan terkait pengelolaan sampah.

    Sudah tiba waktunya bagi semua pelaku usaha bertindak tegas dan berkontribusi menuju masa depan yang ramah lingkungan, tanpa sampah dan adil untuk semua.

    Sumber; earth.org baca artikel asli di sini 

  • Proses Panjang Pengelolaan Sampah di Negara Maju

    Proses Panjang Pengelolaan Sampah di Negara Maju

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah masih menjadi masalah serius di banyak kota di Indonesia. Sebagian besar pemerintah kota/kabupaten di Indonesia belum memandang serius soal pengelolaan sampah yang dihasilkan warganya.

    Jumlah kota di Indonesia yang memiliki sistem pengelolaan sampah yang andal masih bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar kota di Indonesia mengelola sampah dengan menggunakan sistem konvensional yakni ditimbun di satu tempat.

    Memilah apalagi mengolah sampah menjadi hal yang berguna belum menjadi kesadaran bersama. Sampah baru menjadi perhatian, ketika terjadi krisis karena tempat pembuangan sampah sudah tak lagi mampu menampung sampah yang dihasilkan warga.

    Kabar baiknya kesadaran untuk mengelola sampah dengan lebih baik semakin tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

    Dan, belajar dari pengalaman sejumlah negara keberhasilan pengelolaan sampah merupakan proses panjang mendidik warganya. Bukan sesuatu yang dihasilkan secara instan.

    Buat Anda yang ingin tahu bagaimana pengelolaan sampah di negara maju, berikut 7cloud.asia rangkumkan dari hasil diskusi yang diselenggarakan ICMI Jepang beberapa waktu lalu.

    Baca: Kamikatsu, kota di Jepang yang benar-benar zerowaste

    1. Jepang
    Di Jepang warga sejak dini dididik disiplin menangani sampahnya sendiri. Warga Jepang akan malu jika tidak mengelola sampah dengan baik. Murid SD bahkan wajib membersihkan sekolahnya sendiri.

    Tempat sampah sangat jarang ditemukan di tempat umum, meski demikian kita tidak akan pernah menemukan ceceran sampah yang dibuang sembarangan. Warga biasanya membungkus sampahnya dan membuangnya setelah sampai di rumah.

    Hal ini merupakan penerapan disiplin yang diterapkan sejak lama. Penerapan daur ulang sampah sudah dimulai pada zaman Edo sekitar abad ke-19.

    Limbah yang dikelola pun mulai dari limbah kertas hingga limbah abu. Jenis limbah kertas, misalnya koran, majalah, kertas pembungkus, kertas tulis, kotak kardus, kotak pakaian, kotak sepatu, dan lainnya.

    Kemudian, jenis limbah abu, misalnya ialah abu batu bara, residu abu dari proses pembakaran industri, dan residu pembakaran lainnya.

    Lantas, pada 1970 hingga 1980 Jepang sudah mulai mencanangkan “Kampanye Melawan Sampah” dan mengembangkan sistem dasar untuk mengelola limbah di Jepang. Terdapat tiga sistem yang dikembangkan, yaitu Public Cleansing Act, Waste Management Act, dan Air Pollution Control Act.

    Perkembangan sistem kelola sampah pun terus dilakukan. Sekitar tahun 1990 hingga 2000, Jepang membuat sistem Basic Environment Act (1993). Sistem ini menjadi acuan dasar untuk kebijakan lingkungan di Jepang. Selain itu, sistem legal untuk menciptakan masyarakat yang gemar melakukan daur ulang sampah.

    Baca: Parongpong RAW Lab ajak warga Bandung lebih peduli sampah

    2. Jerman
    Sejak 1991 Jerman terus berupaya mengurangi sampah plastik. Pada tahun 1991 baru sekitar 39 persen sampah plastik yang didaur ulang, namun pada 2020 daur ulang sampah plastik telah lebih dari 66 persen

    Jerman juga mendorong ekonomi sirkular. Sejak tahun 1991, terdapat peraturan bahwa setiap manufaktur yang ada di Jerman harus bertanggung jawab atas kemasan produknya.
    Kemasan yang digunakan pada setiap produk harus bersifat mudah untuk didaur ulang atau bahkan dapat dengan mudah dikembalikan baik ke distributor maupun ke produsen.

    Selain itu, pemerintah telah mengatur kepada setiap produsen untuk memberikan tanda pada kemasan berupa titik berwarna hijau. Dengan tanda tersebut, konsumen dapat memilih produk yang turut berkontribusi dalam menangani masalah sampah di Jerman.

    Produsen yang memiliki tanda ini dalam kemasan mesti membayar sejumlah dana kepada pemerintah karena daur ulang sampah kemasan tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah.

    Sementara produsen yang tidak memiliki tanda titik berwarna hijau harus mengumpulkan sampah kemasan serta mendaur ulang sampah tersebut. Daur ulang sampah juga sudah menjadi kebiasaan dan budaya di Jerman. Hal ini terbukti dengan tersedia nya fasilitas tempat sampah yang berbeda sesuai dengan jenis sampah.

    Saat ini ekonomi sirkular di Jerman melibatkan 11.000an perusahaan yang menyerap 145.000an pekerja.

    Baca: Mengenal teknologi pengolahan sampah Masaro

    3. Inggris
    Tingkat daur ulang Inggris telah meningkat dari 11 persen pada tahun 2000 menjadi sekitar 44 persen pada tahun 2021

    Pemerintah Inggris menargetkan mengurangi packaging plastik dan menggantinya 100 persen dengan kemasan yang bisa didaur-ulang pada tahun 2025

    Inggris memiliki skema kewajiban tanggung jawab produsen yang mewajibkan perusahaan untuk mendaur ulang sebagian besar kemasan yang mereka pasarkan.

    Saat ini pusat perbelanjaan dan fasilitas publik di Inggris menyediakan recycling bin atau tempat penampungan sampah untuk didaur-ulang

    Untuk mendorong warganya mengurangi sampah, pemerintah Inggris menerapkan biaya recycle untuk jenis sampah tertentu

    Menurut laporan terbaru pemerintah Inggris, pada tahun 2021, 44,2 persen plastik yang dihasilkan didaur ulang.

    Kebijakan lain yang telah membuahkan hasil baik adalah penerapan biaya untuk kantong plastik di supermarket pada tahun 2015. Menurut DEFRA, biaya tersebut telah menurunkan penggunaan kantong plastik hingga 5 persen.

    Pajak lain telah diberlakukan sejak saat itu, tetapi masih ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk mencapai hasil yang lebih baik.

    Inggris telah menetapkan target ambisius yang harus dicapai pada tahun 2035 – tidak kurang dari 65persen.

    Apakah itu layak? Dengan informasi dan insentif yang tepat bagi publik, lebih banyak skema regulasi untuk bisnis, biaya yang lebih tinggi untuk pembuangan limbah, dan lebih banyak pabrik daur ulang yang dilengkapi teknologi berkinerja tinggi untuk membantu bisnis daur ulang berkembang, target tersebut dapat dicapai.

  • KLHK Bakal Mewajibkan Penyelenggara Acara untuk Memastikan Pengelolaan Sampah yang Ditimbulkannya

    KLHK Bakal Mewajibkan Penyelenggara Acara untuk Memastikan Pengelolaan Sampah yang Ditimbulkannya

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sedang menyiapkan surat edaran yang mewajibkan penyelenggara acara untuk memastikan pengelolaan sampah yang timbul akibat kegiatan.

    Langkah KLHK tersebut untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih bertanggung-jawab sekaligus mewujudkan minimnya sampah yang dihasilkan dari sebuah kegiatan maupun penyelenggaraan acara besar.

    Hal ini, diungkapkan Direktur Penanganan Sampah Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) KLHK Novrizal Tahar saat ditemui di sela acara diseminasi studi tentang off-taker pengelolaan sampah refuse derived fuel (RDF) di Jakarta, Selasa (1/10/2024).

    Baca: Saat Luna Maya menyoroti pengelolaan sampah di kota-kota Indonesia

    Dilansir Antaranews.com, Novrizal menyebut surat edaran tersebut menyasar pengelolaan sampah yang timbul secara tidak periodik atau bukan hasil dari kegiatan rutin.

    “Jadi kegiatan musik, kegiatan sport yang besar termasuk juga kegiatan keagamaan seperti kedatangan Paus, itu sekarang kita akan mengeluarkan surat edaran di mana si penyelenggara wajib melakukan less waste event,” kata Novrizal.

    Dia mengatakan pengelolaan sampah oleh penyelenggara acara itu harus dilakukan sesuai dengan standar dan pengaturan yang berlaku untuk mewujudkan kegiatan minim sampah.

    “Itu sudah ada standarnya. Jadi tidak boleh lagi sampahnya habis acara ditinggal, habis kegiatan maraton ditinggal. Jadi itu nanti intinya,” kata Novrizal.

    Baca: Pemkot Jakarta Pusat dorong warga memilah sampah dari rumah

    Dia mengatakan masih belum dapat mengonfirmasi kapan edaran tersebut akan dikeluarkan yang mewajibkan pengelolaan sampah oleh penyelenggara acara tersebut.

    Edaran itu dari KLHK itu sendiri akan ditujukan kepada kepala daerah serta kementerian/lembaga untuk memastikan penyelenggaraan acara yang minim sampah.

    Edaran minim sampah itu merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi timbulan sampah di Tanah Air. Selama ini, penyelnggaraan kegiatan sering menghasilkan timbulan sampah yang tak terkelola dengan baik.

    Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, pada 2023 terdapat 38,7 juta ton sampah yang dihasilkan di seluruh Indonesia. Sebesar 37,87 persen di antaranya masih belum terkelola dengan baik.