Kritik terhadap Benjamin Netanyahu Makin Keras, Desakan Agar Mundur Makin Kuat

Written by

in

7cloud.asia – Kritik tajam terus mengalir terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu atas kepemimpinannya dalam menangani perang Israel-Hamas.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Fox News hari Minggu (17/3/2024), Benjamin Netanyahu merespons kritik yang semakin keras dari sekutu terdekatnya, Amerika Serikat, 

Dilansir VOA Indonesia, Benjamin Netanyahu  mengatakan, tekanan itu tidak akan menghentikan Israel untuk mencapai “kemenangan total.”

Sebelumnya, Ketua fraksi Demokrat yang mayoritas di Senat AS Chuck Schumer, yang merupakan pejabat Yahudi paling senior di Amerika dan pendukung utama Israel, mengritik Netanyahu.

Ia menyerukan agar Israel menyelenggarakan pemilu baru, karena Netanyahu sudah “tersesat,” ungkapnya. Biden lantas mengungkapkan dukungannya terhadap pernyataan Schumer, yang ia sebut “pidato yang bagus.”

Baca: PBB didesak paksa Israel wujudkan gencatan senjata di Gaza

Namun, Netanyahu menyerang balik.

“Saya rasa pernyataan (Senator Chuck) Schumer sangat tidak pantas. Saya rasa kami bukan “republik pisang”. Rakyat Israel akan memilih sendiri kapan pemilu akan digelar, siapa yang mereka pilih – bukannya disodorkan kepada kami,” ungkap Netanyahu.

Ia menambahkan, mencoba mengganti pemimpin terpilih di negara demokrasi yang merupakan sahabat dan sekutu setia Amerika adalah hal yang keliru untuk dilakukan kapan pun juga, tetapi terutama pada masa perang

Republik pisang adalah sebutan bernada merendahkan untuk negara dengan kondisi politik dan ekonomi yang tidak stabil.

Pada kesempatan terpisah, berbicara dalam rapat kabinetnya hari Minggu (17/3/2024) di Yerusalem, Netanyahu mengatakan bahwa seruan internasional agar Israel segera menggelar pemilu baru bertujuan “menghentikan perang dan melumpuhkan negara ini selama setidaknya enam bulan.”

Baca: Nasib anak-anak di Gaza sangat memprihatinkan

Selama beberapa hari terakhir, pejabat-pejabat tinggi Amerika, yang selama ini memberikan bantuan militer dan diplomatik bagi Israel, telah secara terbuka mengungkapkan rasa frustrasi mereka terhadap Netanyahu dan pemerintahannya.

Selain Schumer yang menyerukan pemilu baru di Israel, Presiden Joe Biden menuduh Netanyahu melemahkan Israel karena besarnya jumlah korban sipil yang berjatuhan di Jalur Gaza.

Partai Republik di AS dan pejabat Israel dengan cepat mengungkapkan kemarahan mereka atas kritik Schumer.

Mereka menuduh pemimpin Partai Demokrat itu melanggar aturan tak tertulis untuk tidak mencampuri urusan politik elektoral sekutu dekat.

Sementara itu, ribuan warga Israel turun ke jalan Sabtu (16/3/2024) malam. Mereka menuntut disetujuinya kesepakatan pembebasan sandera yang diculik Hamas, sekaligus digelarnya pemilihan umum.

Baca: Hanya gencatan senjata yang bisa menghentikan genosida di Gaza

Polisi Israel menggunakan meriam air untuk membubarkan para pengunjuk rasa yang menuntut pemerintahan Netanyahu mengundurkan diri.

Mereka marah pada cara Netanyahu dan pemerintahannya mengelola perang melawan Hamas, yang kembali pecah sejak Oktober lalu.

Seperti diketahui kelompok militan Palestina itu melancarkan serangan mendadak ke Israel selatan pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 warga Israel. Hamas juga menyandera sekitar 250 orang.

Namun, serangan balik Israel ke Gaza memakan lebih banyak korban dari pihak sipil Palestina. Disebutkan setidaknya 30.000 warga Palestina meregang nyawa akibat serangan Israel.  

Sumber: VOA Indonesia

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *