7cloud.asia – Pengetahuan dan kearifan lokal yang terdapat di dalam Masyarakat Indonesia telah terbukti mampu mendorong masyarakat untuk mengantisipasi bencana.
Hal itu disampaikan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Itje Chodijah saat berbicara dalam diskusi Kick Off MOST UNESCO 2024 yang bertema “Pemanfaatan Pengetahuan Lokal untuk Pengurangan Risiko Bencana bagi Kelompok Rentan dengan Menggunakan Teknologi Informasi” Februari lalu
Itje menyebut sejumlah contoh nyata dari masyarakat Indonesia telah memperlihatkan efektivitas pengetahuan dan kearifan lokal dalam mengurangi dampak bencana.
Contohnya, strategi “Smong” di Aceh dalam menghadapi tsunami, atau contoh lain bagaimana Masyarakat Baduy menyiasati gempa bumi dengan konstruksi bangunan rumah mereka.
“Sementara masyarakat Minangkabau yang membangun Rumah Gadang tanpa paku guna meminimalisir dampak gempa bumi; dan Masyarakat Tasikmalaya dalam menjaga kampungnya dari ancaman banjir dan longsor,” ungkap Itje.
Baca: Mengenal masyarakat adat
Dikatakan Itje, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO memberikan dukungan penuh terhadap Program MOST UNESCO Indonesia yang memprioritaskan kelompok rentan berbasis pengetahuan lokal atau kearifan tradisional.
Indonesia yang kaya akan tradisi menemukan keselarasan antara pengetahuan lokal dan teknologi informasi dalam menghadapi bencana alam.
Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, kelompok rentan mencakup berbagai elemen masyarakat, seperti penyandang disabilitas, anak-anak, perempuan, dan lanjut usia. Program ini berfokus pada kelompok rentan tersebut untuk meningkatkan kesiapsiagaan mereka terhadap bencana.
Selain itu, Itje mengatakan pengetahuan lokal menjadi kunci dalam pengurangan risiko bencana.
Melalui teknologi informasi, pemetaan risiko lokal dapat dilakukan dengan menggunakan sistem informasi geografis (SIG).
Baca: Peran masyarakat adat dalam menghadapi bencana akibat perubahan iklim
Sedangkan, aplikasi seluler dapat digunakan untuk pengumpulan informasi darurat, pendidikan masyarakat tentang tindakan kesiapsiagaan, dan sistem komunikasi darurat.
“Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengurangan risiko bencana bagi kelompok rentan dengan memanfaatkan teknologi informasi dapat mendukung transformasi kebijakan dan implementasi kebijakan inklusif,” jelas Itje.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi informasi ini juga sesuai dengan agenda global, seperti Sustainable Development Goals (SDGs) yang digagas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Dalam hal ini, Program MOST UNESCO Indonesia mendukung tujuan-tujuan SDGs terkait kesehatan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, dan perubahan iklim,” tandas Itje.
Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO menegaskan pentingnya kerjasama antara pemangku kepentingan untuk mengimplementasikan program ini.
Baca: Masih ada pengabaian masyarakat adat
Maka dari itu, Itje mengatakan hasil dari kegiatan ini diharapkan memberikan dampak positif bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya kelompok rentan, dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan menyeluruh.
Dengan demikian, upaya pengurangan risiko bencana melalui pemanfaatan pengetahuan lokal dan teknologi informasi menjadi langkah penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.
Sumber: brin.go.id

Leave a Reply