7cloud.asia – Iran baru saja menggelar pemilu pada 1 Maret lalu dengan hanya 41 persen yang memberikan suaranya.
Meskipun merupakan rekor terendah, namun pemerintah Iran menyebut pemilu kali ini berlangsung sukses.
Angka ini dianggap angka yang biasa digunakan oleh rezim untuk melegitimasikan sebuah pemilihan yang sebenarnya tidak kompetitif, kata ketua kelompok nirlaba Eropa yang meneliti sikap masyarakat Iran kepada VOA pekan ini.
Dalam jumpa pers yang disiarkan televisi hari Senin (4/3/2024), Menteri Dalam Negeri Iran, Ahmad Vahidi mengatakan, 25 juta dari 61 juta pemilih yang memenuhi syarat memberikan suara dalam pemilu parlemen dan Majelis Ahli.
Baca: Aktivis Iran raih penghargaan Nobel Perdamaian
Dilansir VOA Indonesia, pemilu ini memilih pemimpin tertinggi Iran.
Survei pra-pemilu yang dilakukan oleh lembaga pemungutan suara pemerintah memperkirakan tingkat partisipasi yang sama sebesar 41 persen itu, yang satu persen di bawah rekor terendah sebelumnya sebesar 42 persen.
Angka tersebut dicapai pada pemilihan parlemen terakhir pada tahun 2020.
Kelompok Islam ultrakonservatif yang setia kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, memenangkan sebagian besar kursi di kedua badan tersebut, setelah menghadapi persaingan kecil dari faksi yang sudah mapan lainnya.
Baca: Mengenal Federasi Tao Dunia
Sebagian besar faksi digugurkan dari pencalonan oleh badan penyaringan yang pro-Khamenei.
Berbagai kelompok oposisi dan aktivis di dalam dan di luar Iran menyerukan boikot terhadap pemilu itu, yang mereka sebut sebagai pemilu palsu.
GAMAAN, sebuah kelompok penelitian yang berpusat di Belanda, mendapati dalam survei prapemilu atas 58.000 orang dewasa di Iran, bahwa 77 persen responden tidak berencana untuk memilih.
Banyak rakyat Iran disibukkan dengan kenaikan biaya hidup yang tinggi, tingkat inflasi 70 persen untuk perumahan dan makanan di daerah perkotaan, menurut media pemerintah.
Baca: Mengenal wukuf yang menjadi puncak ibadah haji
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller mengatakan kepada wartawan hari Senin, klaim pihak berwenang Iran mengenai jumlah pemilih “secara umum tidak dapat diandalkan.”
Sumber: VOA Indonesia

Leave a Reply