7cloud.asia – Perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) selama dua hari di Islamabad, Pakistan belum menghasilkan kesepakatan. Isu Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama perbedaan.
Media Iran menyebut perbedaan pandangan, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menjadi hambatan utama dalam perundingan tersebut.
Media CNN, mengutip seorang pejabat Iran yang menyatakan bahwa status Selat Hormuz tidak akan berubah kecuali Iran dan AS mencapai “kerangka bersama” untuk melanjutkan negosiasi. Ia juga menyebut tuntutan berlebihan dari pihak AS telah menghambat jalannya perundingan.
Penutupan secara efektif terhadap Selat Hormuz oleh Iran, mneyusul serangan sepihak oleh AS dan Israel telah mengguncang pasar global dan mendorong lonjakan harga energi dunia.
Pasalnya, jalur sempit tersebut menjadi rute penting bagi pengangkutan minyak mentah, gas alam cair, serta pupuk ke Asia dan kawasan lainnya. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut.
Presiden AS Donald Trump telah mendesak Iran untuk menjamin kelancaran pelayaran kapal melalui selat tersebut, menyusul kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu yang dicapai pekan lalu.
Baca: Perundingan Iran-AS fokus pada pengawasan Selat Hormuz dan pengembangan nuklir
Namun, gencatan senjata tersebut dinilai rapuh, dengan Israel masih melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran, yang menurut AS tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut.
Di tengah perundingan yang dimediasi Pakistan, Selat Hormuz tetap menjadi agenda utama. Militer AS menyatakan dua kapal perusak Angkatan Lautnya telah melintasi jalur tersebut sebagai persiapan operasi pembersihan ranjau, klaim yang dibantah oleh Iran.
Wakil Presiden J.D. Vance yang memimpin delegasi AS dalam perndingan tersebut, mengatakan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai lebih merugikan Teheran dibandingkan Washington, demikian menurut
“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir ini merupakan kabar yang jauh lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi Amerika Serikat,” kata Vance kepada wartawan usai perundingan.
Vance juga menyampaikan bahwa AS telah menunjukkan fleksibilitas yang cukup selama proses negosiasi dengan Iran. Ia menegaskan bahwa Washington telah dengan jelas menyampaikan garis merah serta ruang kompromi dalam perundingan tersebut.
Baca: Serangan Israel ke Lebanon ancam kelanjutan perundingan Iran-AS
Menurut Vance, Iran memutuskan untuk tidak menerima persyaratan yang diajukan oleh AS. “Mereka telah memilih untuk tidak menerima syarat kami,” ujarnya kepada wartawan setelah pembicaraan.
Ia menambahkan bahwa AS tetap berharap Iran berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dalam jangka panjang. Vance juga menegaskan bahwa tawaran yang diajukan AS dalam perundingan terbaru merupakan tawaran final dan terbaik.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan usulan yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran final dan terbaik kami,” ujarnya di Islamabad usai perundingan.
Ia kembali menekankan bahwa posisi AS telah disampaikan secara jelas dalam negosiasi tersebut.
“Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa saja garis merah kami, hal-hal yang dapat kami akomodasi dan yang tidak dapat kami akomodasi, dan kami telah menyampaikannya sejelas mungkin, namun mereka memilih untuk tidak menerima syarat kami,” kata Vance.
Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

Leave a Reply