7cloud.asia – Dari desain minimalis di pergelangan tangan hingga tato lengan penuh, seni tato tubuh telah menjadi begitu umum sehingga hampir tidak menimbulkan keheranan.
Meskipun makna pribadi tato mungkin jelas, konsekuensi biologisnya jauh kurang terlihat. Penelitian yang dilakukan Manal Mohammed, dosen senior Medical Microbiology, University of Westminster mengungkap adanya ancaman di balik seni tato tubuh pada kekebalan manusia.
Dilansir di sciencealert.com baru-baru ini, tato umumnya dianggap aman, tetapi bukti ilmiah yang berkembang menunjukkan bahwa tinta tato tidak inert (stabil) secara biologis sehingga dapat memicu reaksi dari tubuh.
Setelah tinta tato diterakan ke kulit, tinta tersebut tidak akan tetap di sana. Di bawah kulit, pigmen tato berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh dengan cara yang baru mulai dipahami oleh para ilmuwan.
Pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah tato memasukkan zat asing ke dalam tubuh, tetapi seberapa beracun zat-zat tersebut dan apa artinya bagi kesehatan jangka panjang.
Tinta tato adalah campuran kimia yang kompleks. Tinta tersebut mengandung pigmen yang memberikan warna, cairan pembawa yang membantu mendistribusikan tinta, pengawet untuk mencegah pertumbuhan mikroba, dan sejumlah kecil pengotor.
Banyak pigmen yang saat ini digunakan awalnya dikembangkan untuk aplikasi industri seperti cat mobil, plastik, dan toner printer, bukan untuk disuntikkan ke kulit manusia.
Beberapa tinta mengandung sejumlah kecil logam berat, termasuk nikel, kromium, kobalt, dan kadang-kadang timbal. Logam berat dapat bersifat toksik pada kadar tertentu dan dikenal dapat memicu reaksi alergi dan sensitivitas imun.
Tinta tato juga dapat mengandung senyawa organik, termasuk pewarna azo dan hidrokarbon aromatik polisiklik.
Pewarna azo adalah pewarna sintetis yang banyak digunakan dalam tekstil dan plastik. Dalam kondisi tertentu, seperti paparan sinar matahari yang berkepanjangan atau selama penghapusan tato laser, pewarna ini dapat terurai menjadi amina aromatik.
Bahan kimia ini telah dikaitkan dengan kanker dan kerusakan genetik dalam studi laboratorium.
Hidrokarbon aromatik polisiklik, yang sering disingkat menjadi PAH, diproduksi selama pembakaran bahan organik yang tidak sempurna dan ditemukan dalam jelaga, knalpot kendaraan, dan makanan yang hangus.
Tinta tato hitam, yang umumnya terbuat dari karbon hitam, mungkin mengandung senyawa ini, beberapa di antaranya bahkan diklasifikasikan sebagai karsinogenik.
Tinta berwarna, terutama merah, kuning, dan oranye, lebih sering dikaitkan dengan reaksi alergi dan peradangan kronis. Hal ini sebagian disebabkan oleh garam logam dan pigmen azo yang dapat terurai menjadi amina aromatik yang berpotensi beracun.
Tato melibatkan penyuntikan tinta jauh ke dalam dermis, lapisan kulit di bawah permukaan. Tubuh mengenali partikel pigmen sebagai benda asing.
Sel-sel imun mencoba untuk menghilangkannya, tetapi partikel tersebut terlalu besar untuk dibersihkan sepenuhnya. Sebaliknya, partikel tersebut terperangkap di dalam sel-sel kulit, yang membuat tato menjadi permanen.
Tinta tato tidak tetap berada di kulit. Studi menunjukkan bahwa partikel pigmen dapat bermigrasi melalui sistem limfatik dan menumpuk di kelenjar getah bening.
Kelenjar getah bening adalah struktur kecil yang menyaring sel-sel imun dan membantu mengoordinasikan respons imun.
Efek kesehatan jangka panjang dari penumpukan tinta di jaringan ini masih belum jelas, tetapi peran sentralnya dalam pertahanan imun menimbulkan kekhawatiran tentang paparan jangka panjang terhadap logam dan racun organik.
Bagaimana tato mempengaruhi kekebalan tubuh, akan kami ulas dalam artikel selanjutnya. Jangan lewatkan!!

Leave a Reply