Hari AIDS Sedunia, HIV Pada Anak Capai 557 Kasus

Written by

in

7cloud.asia – Di hari AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) sedunia ini, jumlah kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) pada anak usia di bawah 4 tahun masih tinggi. Tercatat 557 kasus sejak Januari hingga September 2023.

Angka ini menunjukkan bahwa transmisi HIV atau AIDS dari ibu ke anak masih banyak terjadi di Indonesia. Jumlahnya mencapai 1,9 persen.

“Ini menandakan bahwa transmisi dari ibu ke anaknya ini masih terjadi di Indonesia,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi.

Melansir Antaranews, jumlah ini turun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Baca: NTT darurat rabies 11 orang meninggal

Kemenkes mencatat pada tahun 2019 sebanyak 910 kasus HIV pada anak dengan usia di bawah empat tahun.

Kemudian pada tahun 2020 sebanyak 617 kasus. Pada  tahun 2021 ditemukan sebanyak 501 kasus. Kemudian jumlah ini naik pada tahun 2022 yang mencapai 639 kasus.

“Berarti upaya kita untuk bisa memutus mata rantai penularan masih perlu kita giatkan lagi, karena kasihan anaknya kalau dia (ibunya) tidak melakukan pencegahan,” jelasnya.

Selanjutnya Imran menjelaskan pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk menekan jumlah kasus HIV pada anak.

Diantaranya melakukan pencegahan, surveilans, penanganan kasus, serta usaha promosi kesehatan.

Baca: Kurang dari sebulan cacar monyet di Indonesia capai 38 kasus

Selain itu melakukan skrining HIV/AIDS yang bisa dilakukan secara mandiri.

Pemerintah, lanjut Imran, saat ini menggencarkan upaya skrining, termasuk skrining mandiri guna menjangkau populasi kunci yang pada saat ini tidak bisa diidentifikasi dengan jelas.

“Kita buka akses pada masyarakat, sehingga mereka bisa cek sendiri status mereka masing-masing menggunakan skrining mandiri,” ucapnya.

Upaya lainnya adalah dengan melakukan upaya pelacakan atau tracing HIV/AIDS terutama pada ibu hamil untuk dapat menanggulangi kasus anak dengan HIV/AIDS yang ditularkan melalui ibunya.

“Saat ini skrining HIV pada ibu hamil ada sekitar 60 persen kita lakukan, namun dari sekitar 60 persen, yang positif dan bisa kita tindak lanjuti itu jauh di bawah harapan. Sehingga kita perlu membuat upaya-upaya agar ibu hamil yang terdeteksi itu bisa segera kita tindaklanjuti. Karena kita memang melihat bahwa tantangan paling besar adalah kalau dites kemudian positif, dan dia tidak merasa ada masalah itu akan susah dia menyampaikannya kepada keluarga,” paparnya.

Baca: Jumlah kasus cacar monye bertambah, terbanyak dari Jakarta

Kondisi ini diperparah dengan berbagai macam tantangan lainnya seperti infrastruktur yang kurang memadai.

Ditambah lagi dengan adanya stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV), serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS.

Karena itu, ia mengajak Pemerintah Pusat dan Daerah, akademisi dan praktisi, masyarakat, komunitas, swasta, serta media untuk dapat bersama-sama menanggulangi HIV/AIDS.

“Sesuai dengan tema Hari AIDS Sedunia tahun ini, bahwa komunitas itu perannya sangat besar. Bagaimana kita bisa membawa segera orang yang terdiagnosis (HIV/AIDS) untuk segera memulai pengobatan dan harus terkontrol itu sangat penting. Maka teman komunitas sudah harus naik kelas, bukan hanya menemukan ODHIV tapi juga membantu mereka untuk tetap mengonsumsi obat dan membantu kontrol secara teratur,” jelasnya.

Reporter: Nurakhmayani

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *