7cloud.asia – Abad ke-21 yang saat ini sedang berjalan, oleh Dr. Nevzat Tarhan, seorang psikiater dan neuroscientist sekaligus Founding Rector Üsküdar University disebut sebagai abad kebijaksanaan.
Dalam pengantar bukunya yang bertajuk “Rumi Therapy“, Tarhan mengatakan, bila manusia tidak mempunyai kearifan, apa pun yang mereka raih akan sia-sia belaka.
Umat manusia memerlukan sistem berpikir dan merasa seperti yang dicontohkan Jalaluddin Rumi. Rumi menunjukkan kepada kita jalan ketika kita bertransisi dari zaman informasi ke zaman kebijaksanaan.
“Pemikiran Jalaluddin Rumi memengaruhi kode-kode dalam DNA spiritual kita, mengaktifkan kelembutan dalam diri kita,” ujarnya saat berbicara dalam acara “Rumi Therapy: Book Discussion & Signing” pada Kamis (2/4/2026) di Universitas Paramadina, Jakarta.
Ajaran Jalaluddin Rumi telah mengentak peradaban manusia. Pesan-pesan universalnya sama relevannya dengan ketika ia menulisnya. Kita layak banyak belajar dari penyair dan cendekiawan abad ke-13 ini.
Buku ini mengenalkan pemikiran Jalaluddin Rumi sebagai pemandu saat kita menjalani kehidupan sehari-hari. Kita diajak berkaca pada rampai cerita dan puisinya yang terbukti dapat menyembuhkan rasa sakit emosional-psikologis yang diderita banyak orang, terutama di zaman kita.
Baca: 5 Cara mudah merawat kesehatan mental
Rumi bercerita tentang bagaimana terbebas dari ketakutan dan kecemasan, memberi contoh bagaimana meningkatkan kepercayaan diri, menghilangkan prasangka, dan meluruskan ide-ide keliru, serta memberikan ruang untuk berpikir alternatif.
Lewat buku ini, Tarhan Sebagai seorang dokter-psikiater-neuropsikolog, dinilai berhasil menggunakan Kitab Matsnawi—himpunan kisah dan syair Rumi— menjadi alat untuk memperbaiki perangkat batin manusia.
Metode interpretasinya memungkinkan kita untuk meningkatkan kesadaran dan melihat kebenaran dalam diri kita sendiri. Wajar bila buku dengan perspektif baru ini disambut hangat di Turki dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Buku ini kini diperkenalkan ke masyarakat Indonesia oleh Edutolia Education bersama Üsküdar University. Kegiatan “Rumi Therapy: Book Discussion & Signing” di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang dialog yang menghubungkan psikologi modern, neurosains, dan spiritualitas Islam dalam konteks kesehatan mental kontemporer.
Dalam kesempatan ini, Prof. Tarhan menjelaskan bagaimana ajaran Jalaluddin Rumi dapat dipahami kembali melalui pendekatan ilmiah modern, serta relevansinya dalam membantu manusia memahami emosi, makna hidup, dan keseimbangan jiwa.
Diskusi buku ini turut diperkaya oleh pandangan para cendekiawan Indonesia, di antaranya Prof. Mulyadhi Kartanegara dan Dr. Haidar Bagir, yang memberikan refleksi mendalam dari perspektif filsafat Islam dan spiritualitas.
Baca: Delapan cara orang Jepang mengusir overthinking
Dialog yang terbangun menunjukkan bahwa pemikiran Rumi tetap relevan dalam menjawab tantangan kesehatan mental di era modern, dengan menekankan pentingnya integrasi antara dimensi rasional dan spiritual.
CEO Edutolia Education, Ibrahim Albayrak menyampaikan bahwa Edutolia hadir sebagai Indonesia Representative Office untuk Üsküdar University, dengan komitmen untuk membuka lebih banyak peluang kolaborasi akademik dan pertukaran intelektual antara Indonesia dan Türkiye.
“Kami juga membuka kesempatan bagi institusi pendidikan dan berbagai lembaga di Indonesia yang ingin menjalin kerja sama dengan Üsküdar University untuk dapat terhubung melalui Edutolia Education.” ujarnya.
Kolaborasi dengan Paramadina University dan Penerbit Qaf dalam acara ini mencerminkan sinergi antar institusi dalam memperkuat ekosistem diskursus intelektual di Indonesia, khususnya pada isu-isu yang menghubungkan spiritualitas, pendidikan, dan kesehatan mental.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin terbuka terhadap pendekatan holistik dalam memahami kesehatan mental—yang tidak hanya berfokus pada aspek psikologis, tetapi juga memperhatikan dimensi spiritual sebagai bagian penting dari kesejahteraan manusia.

Leave a Reply