Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Penambangan Kobalt

Written by

in

7cloud.asia – Pengolahan Kobalt awalnya dianggap sebagai jawaban dari teka-teki mineral di jantung transisi energi terbarukan. Namun, belakangan penambangan cobalt telah memicu masalh lingkungan yang serius.

Kobalt menjadi salah satu bahan dasar pembuatan baterai untuk kendaraan listrik dan alat-alat berbasis elektronik lainnya.

Itu sebabnnya Kobalt disebut sebagai jawaban untuk transisi ke energi yang lebih ramah lingkungan.

Baca: Emisi karbon cetak rekor tertinggi pada 2023

Sebagai komponen utama bahan baterai yang menggerakkan kendaraan listrik (EV), kobalt menghadapi lonjakan permintaan yang berkelanjutan seiring dengan kemajuan upaya dekarbonisasi.

Lantas bagaimana kobalt ini justru memicu masalah bagi lingkungan?

Pemasok kobalt terbesar di dunia adalah Republik Demokratik Kongo (DRC), yang diperkirakan seperlima produksinya dihasilkan melalui penambangan tradisional.

Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang tak peduli sampah plastik yang dihasilkannya

Namun, penambangan kobalt dikaitkan dengan eksploitasi pekerja yang berbahaya serta masalah lingkungan dan sosial serius lainnya.

Dampak lingkungan dari aktivitas penambangan kobalt juga besar. Wilayah selatan Kongo tidak hanya merupakan rumah bagi kobalt dan tembaga, namun juga sejumlah besar uranium.

Di wilayah pertambangan, para ilmuwan telah mencatat tingkat radioaktivitas yang tinggi yang bisa mempengaruhi kelangsungan lingkungan hidup di sana.

Baca: Apakah sampah plastik benar-benar ramah lingkungan?

Selain itu, penambangan mineral, serupa dengan upaya penambangan industri lainnya, sering kali menghasilkan limbah yang mencemari lingkungan.

Limbah pengolahan kobalt ini merembes ke sungai dan mencemari sumber air di sekitarnya.

Debu dari pecahan batu juga diketahui menyebabkan masalah pernapasan bagi masyarakat setempat.

Baca: Begini cara ilmuwan AS bersihkan tanah dari pencemaran lingkungan

Itu sebabnya mengapa penambangan kobalt disebut sebagai salah satu masalah lingkungan terbesar pada 2023. 

Tentu ini perlu menjadi perhatian pemerintah Indonesia yang saat ini tengah menggenjot penambangan kobalt.

Indonesia menempati peringkat kedua dengan total produksi kobalt sebesar 10.000 metrik ton pada 2022, naik dari tahun sebelumnya yang hanya 2.700 metrik ton.

Sumber: earth.org, baca artikel asli di sini

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *