Hari Kota Sedunia: Memotret Mimpi Warga Marginal Kota

Written by

in

7cloud.asia – Bertepatan dengan Hari Kota Sedunia, Greenpeace International meluncurkan Peta Gerakan Warga Kota global.

Peta Gerakan Warga Kota Global adalah sebuah platform interaktif dan crowdsourced yang menawarkan informasi tentang kelompok, organisasi,
dan gerakan akar rumput yang bekerja pada topik keadilan iklim di kota-kota di seluruh dunia.

Platform ini merupakan hasil kerjasama dengan Clima e Mobilidade dan Urban Movement Innovation Fund.  

Gabriela Vuolo, Pemimpin Kampanye Global Keadilan Perkotaan di Greenpeace International mengatakan Kota menjadi nyata ketika masyarakat bersatu untuk melawan, bermimpi, dan mengubah ruang menjadi wilayah keadilan sosial dan iklim.

Namun, ujarnya, hal ini tidak berarti membiarkan pemerintah dan otoritas kota lepas kendali.

Baca: Transportasi publik yang nyaman salah satu penetu kota ramah lingkungan

Sebaliknya, pengorganisasian komunitas dan penguatan gerakan masyarakat kota merupakan cara penting untuk membuat suara kelompok yang paling terpinggirkan didengar.

Sekaligu suntuk memastikan para pengambil keputusan bertanggung jawab atas nasib warga kota yang dipimpunnya.

“Masyarakat tahu bahwa satu-satunya jalan keluar dari krisis iklim adalah melalui tindakan kolektif,” ujarnya.

Sebelumnya, Greenpeace Internasional juga telah mengeluarkan Jajak Pendapat yang dilakukan di tujuh kota besar di belahan bumi selatan dalam rangka memperingati Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional,

Hasil jajak pendapat menunjukkan rata-rata kurang dari separuh populasi penduduk merasa aman dari kejadian cuaca ekstrem.

Baca: 8 elemen kota ramah lingkungan

Jajak pendapat tersebut menemukan bahwa ketika ditanya tentang masalah terbesar di kota-kota, terdapat dua jawaban teratas yang terkait dengan perubahan iklim: kemacetan lalu lintas (46%), dan polusi udara (42%).

Jawaban teratas lainnya mencakup kejahatan dan kekerasan (42%), korupsi (40%), pengangguran (34%) dan meningkatnya jumlah orang yang pindah ke kota atau urbanisasi (34%).

“Jelas bahwa darurat iklim perlu ditangani dengan perspektif yang lebih komprehensif yang mencakup isu-isu sosial dan ekonomi, seperti korupsi atau kekerasan.

“Dan hal ini harus dimulai dari komunitas yang secara historis terpinggirkan dan paling terkena dampak krisis iklim,” kata Gabriela Vuolo, Pemimpin Kampanye Global Urban Justice, Greenpeace Internasional.

Meskipun konteksnya buruk, lebih dari separuh penduduk perkotaan yang dimintai pendapat (56%) merasa optimis mengenai masa depan dan percaya bahwa kota dapat menjadi “kota impian” mereka.

Baca: Slow city, konsep baru pengelolaan kota yang lebih manusiawi

Pada saat yang sama, jajak pendapat tersebut menunjukkan bahwa semakin aman masyarakat terhadap kejadian cuaca ekstrem, semakin optimis kota mereka akan menjadi ‘kota impian’.

Spesifik kepada kota Jakarta, hasil jajak pendapat mengenai perbaikan kualitas udara, 62% warga mengatakan dan percaya bahwa hal tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah lokal/kota.

Sedangkan 57% responden mengatakan hal tersebut seharusnya digawangi oleh pemerintah pusat, sementara 41% lainnya dari gerakan sosial dan masyarakat kota.

Sementara untuk isu kemacetan atau mobilitas di Jakarta, 57% warga Jakarta menginginkan trotoar yang lebih baik.

Baca: Lima kota paling nyaman dikunjungi di Indonesia

Sementara 35% lainnya ingin transportasi umum jenis kereta seperti MRT dan KRL lebih baik, 32% ingin bus di Jakarta memiliki jalur khusus, dan 28% lainnya merespon soal jalur sepeda terproteksi (jalur khusus). 

Greenpeace secara global melakukan aktivitas daring dan luring di sembilan kota di enam negara berbeda.

Kampanye ini menyerukan kepada warga negara dan pemerintah untuk belajar dari kekuatan kolektif dan gerakan perkotaan sebagai jalur penting untuk mentransformasi  perkotaan, memajukan perkotaan, akses keadilan dan kesetaraan, serta upaya mengatasi krisis sosial dan iklim.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *