7cloud.asia – Memasuki pekan kedua bulan September 2023, sejumlah komunitas menggelar Festival Literasi Jakarta.
Tahun ini, Festival Literasi Jakarta dilaksanakan pada 8-12 September di Galeri Emiria Soenassa dan Galeri S. Soedjono, Taman Ismail Marzuki.
Festival Literasi Jakarta pada tahun 2023 ini mengusung tema “Mengasah Literasi Menjalin Relasi”, yang merupakan kegiatan kolaborasi antara Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Taman Ismail Marzuki serta pendukung lainnya.
Baca: Komunitas Serumpun bakung menolak pemaksaan berbusana dengan alasan perintah agama
Ikut menyemarakkan Festival Literasi Jakarta 2023, Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB), pada Minggu (10/9/2023), memberikan edukasi budaya kepada pengunjung.
Dalam keterangan tertulis yang diterima ruang kota.com, Minggu (10/9/2023) disebutkan, Komunitas Perempuan Berkebaya merupakan satu dari 13 komunitas yang dipilih mengikuti Festival Literasi Jakarta 2023.
Literasi budaya yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat ini diawali dengan paparan singkat sejarah berdirinya komunitas yang telah berusia hampir sembilan tahun , serta visi dan misi-nya.
Baca: Maluku punya cerita, dari pepeda hingga ina gandong
“Gerakan Berkebaya yang awalnya sederhana, telah berbuah dicanangkannya Hari Kebaya Nasional dan Kebaya Goes to UNESCO, yaitu pendaftaran kebaya sebagai warisan budaya dunia tak benda bersama empat negara anggota ASEAN lainnya,” ujar Lia Nathalia, ketua Komunitas Perempuan Berkebaya.
Selanjutnya sesuai dengan tema edukasi budaya yang diusung yaitu “Mix and Match Kebaya”, komunitas pegiat budaya ini juga memperkenalkan ragam kebaya.
Beragam kebaya Nusantara termasuk kebaya Labuh dari Sumatra dan kebaya Basiba dari Sumatra Barat diperkenalkan dalam acara ini.
Baca: Koleksi pakaian yang ramah lingkungan tapi berkarakter
Pengunjung juga diajak belajar cara menggunakan wastra Indonesia, baik itu Batik maupun produk tenun, yang merupakan padanan kebaya.
Diajarkan cara penggunaan kain Batik model mahapatih dan serut yang diajarkan oleh Rihaya Syukur, salah satu pengurus harian KPB.
“Dengan mengajarkan cara berkain yang mudah, kami berharap generasi muda penerus kami mau melestarikan tradisi berkain dan berkebaya,” kata Rihaya.
Baca: Slow fashion, alternatif untuk berpaling dari fast fashion
Sementara tutorial penggunaan kain tenun disampaikan oleh Yenninof, pengurus harian KPB lainnya dengan menggunakan kain tenun dari Kabupaten Sabu Raijua, NTT.
Leterasi budaya kali ini ditutup dengan peragaan kebaya yang digunakan oleh anggota KPB yang bertujuan memberikan inspirasi padu padan kebaya dan kain yang mudah.

Leave a Reply