7cloud.asia – Kebakaran lahan di Maui, negara bagian Hawaii AS yang menewaskan hampir 110 orang mengagetkan dunia.
Kebakaran lahan merupakan hal yang jamak terjaid di Hawaii. Otoritas setempat melaporkan, setiap tahun 0.5 persen di wilayah itu dilanda kebakaran.
Namun, kebakaran lahan yang terjadi pada 8 Agustus lalu tidak bisa diatasi sehingga menghanguskan sebagian besar wilayah Maui termasuk kota bersejarah Lahaina, sehingga disebut sebagai kebakaran terbesar sepanjang sejarah AS.
Kebakaran lahan makin sering terjadi di berbagai belahan dunia beberapa tahun belakangan. Meningkatnya suhu bumi disebut sebagai salah satu penyebabnya.
Baca: Kebakaran di Hawaii tewaskan puluhan orang
Dilansir DW, Global Forest Watch Fires (GFW Fires) menghitung lebih dari 4,5 juta kebakaran lahan dan hutan di seluruh dunia yang luasnya lebih dari satu kilometer persegi pada tahun 2019.
Artinya, angka ini 400.000 lebih banyak daripada kebakaran lahan yang terjadi tahun 2018.
Mengapa kebakaran lahan dan hutan makin meluas dan lebih sering terjadi? Alasannya memang kompleks.
Namun para ahli kini menunjuk hubungan jelas antara meningkatnya risiko kebakaran hutan dan suhu lautan yang lebih hangat sebagai dampak dari perubahan iklim.
Baca: PBB Ingatkan periode 2023-2027 bakal jadi tahun yang panas
Gas rumah kaca yang dihasilkan manusia telah memicu peningkatan suhu rata-rata bumi sekitar satu derajat Celcius sejak abad ke-19.
Permukaan laut menghangat sekitar 0,8 derajat Celcius. Semakin hangat samudra, semakin sedikit energi dan CO2 yang dapat diserap dan disimpan oleh air dari atmosfer.
Konsekuensinya bisa sangat menghancurkan. Jika laut terus menghangat, itu akan memiliki dampak besar pada sistem klim, mulai dari suhu ekstrem, badai, kekeringan, hingga banjir dan musim hujan yang panjang.
Hembusan angin kencang di atas kontinen yang sedang panas dan kering seperti yang terjadi di Australia pada 2019 bisa meningkatkan risiko kebakaran hutan secara drastis.
Baca: SOS! Emisi karbon cetak rekor tertinggi 2022
Bahkan di daerah yang dulunya beriklim sedang dan dingin risiko kebakaran hutan juga meningkat.
Kebakaran sebenarnya adalah proses alami dalam regenerasi dan pembaruan ekosistem.
Namun saat ini sekitar 96% kebakaran hutan, baik disengaja maupun tidak sengaja, disebabkan oleh manusia.
Hanya 4% kebakaran yang terjadi secara alami; misalnya karena sambaran petir, seperti yang disebutkan dalam sebuah laporan WWF.
Banyak hutan yang dibuka untuk lahan pertanian dengan cara menebang dan membakar pohon dan tanaman, khususnya di Indonesia dan di wilayah Amazon.
Baca: Peingatan soal perubahan iklim sudah ada sejak 70 tahun silam
Di Indonesia, lebih 27 juta hektar hutan telah dihancurkan sejak 1990 untuk industri kertas dan kelapa sawit.
Deforestasi, perubahan iklim, dan risiko kebakaran hutan semuanya terkait secara langsung.
Dan kobaran api pada gilirannya akan meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Menurut kelompok lingkungan Greenpeace, sekitar 8 miliar ton CO2 dilepaskan oleh api setiap tahunnya.
Kebakaran hutan di Australia saat ini telah melepaskan setengah jumlah CO2 yang dihasilkan benua itu selama setahun. Dan asap kebakaran itu sekarang menyebar melintasi Samudra Pasifik sampai ke Argentina dan Chile.
Sumber: DW Indonesia

Leave a Reply