7cloud.asia – Krisis sampah yang dialami Kota Yogyakarta pasca penutupan TPA Piyungan melahir inovasi pengelolaan sampah organik dengan ‘Mbah Dirjo’.
Pengelolaan sampah Mbah Dirjo adalah mengolah limbah dan sampah dengan biopori ala Jogja atau kota Yogyakarta.
Mantri Pamong Praja, Lurah, RW dan RT di kota Yogyakarta wajib menggerakkan pengelolaan sampah Mbah Dirjo ini.
Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan, sejak diluncurkan pada awal Agustus lalu sampai saat ini, program pengelolaan sampah Mbah Dirjo sudah menciptakan 16.000 biopori di Kota Yogyakarta.
Baca: Mengolah sampah organik ala Fakultas Biologi UGM
Menurutnya, sebanyak 16.000 biopori ini dibuat oleh forum bank sampah, warga Kota Yogyakarta, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan juga Aparatur Sipil Negara (ASN).
Biopori merupakan lubang yang dibuat tegak lurus ke dalam tanah. Lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah organik yang memiliki fungsi sebagai makanan makhluk hidup yang ada di tanah, seperti cacing dan akar tumbuhan.
Ukuran biopori dalam pengelolaan sampah mbah Dirjo ini beragam tergantung kebutuhan. Ada yang panjangnya 15 cm hingga 1 meter.
Selain untuk pengelolaan sampah organik, di musim penghujan, biopori ini dapat berfungsi sebagai sumur resapan yang menyerap air ke dalam tanah.
Baca: UGM tawarkan pengelolaan sampah berbayar
Menurut Singgih, pengelolaan sampah Mbah Dirjo ini mampu mengolah sampah organik hingga 50 ton sehari.
“50 ton (hasil evaluasi). Produksi sampah 200 ton per hari,” ujar Singgih ditemui di Balai Kota Yogyakarta, Senin (14/8/2023).
Singgih menjelaskan Pemerintah Kota Yogyakarta kini telah mengupayakan dua langkah pengolahan sampah mulai dari hulu hingga hilir.
Untuk di hulu penanganan sampah organik dilakukan dengan program Mbah Dirjo. Sedangkan sampah anorganik akan diambil oleh bank sampah.
Baca: Mungkinkah mewujudkan pasar rakyat yang bebas plastik?
Salah satu penerapan pengelolaan sampah Mbah Dirjo dilakukan di wilayah RT 16 Kampung Celeban Kelurahan Tahunan Umbulharjo.
Saat menyerahkan biolos di RT 16 Kampung Celeban, pekan lalu Singgih mencontohkan pembuatan biopori dengan metode biolos yakni gabungan biopori dan losida.
Dalam kesempatan itu diserahkan 2 unit biolos bantuan dari Bank BPD DIY untuk warga di RT 16 Kampung Celeban.
Menurut Singgih, biolos memiliki kelebihan karena saat memanen kompos hasil olah sampah organik tinggal menarik pipa paralon di bagian dalam.
Baca: Mengenal Teba, cara unik warga Bali mengelola sampah rumah tangga
Meski demikian metode biolos itu hanya salah satu contoh pengolahan sampah organik. Masyarakat bisa memilih, menggunakan metode lain seperti biopori, ember tumpuk dan lodong sisa dapur untuk mengolah sampah organik.
“Karena TPA Piyungan tutup kita harus mengelola dengan baik sehingga sampah organik yang selama ini diresidukan dititipkan ke penggerobak atau depo, kita harus pilah dan diolah. Bisa dengan biopori ember tumpuk dan losida,” tambah Singgih.
Singgih menegaskan sejak awal Januari 2023, Kota Yogyakarta juga memiliki gerakan zero sampah anorganik.
Gerakan itu sukses menurunkan volume sampah di Kota Yogyakarta dari sekitar 300 ton/hari menjadi 200 ton/hari sejak 6 bulan lalu.
Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah layak ditinggalkan
Singgih menyebut gerakan pengelolaan sampah organik Mbah Dirjo yang dicanangkan dua minggu lalu sudah mengurangi volume sampah sampai sekitar 30 ton/hari.
Kalau masyarakat semua melaksanakan ini (Mbah Dirjo), Singgih yakin sampah organik akan selesai di tingkat hulu sehingga beban yang harus dibuang ke Piyungan akan semakin berkurang.
“Ini kesempatan kita di masa yang sangat darurat ini. Saya minta tolong Pak Mantri, Pak Lurah. Pak RW dan Pak RT ikut menggerakkan ini,” terangnya.
Sementara itu Ketua RT 16 Kampung Celeban, Suratim mengatakan selama masa darurat sampah, sebagian warga mulai mengelola sampah secara mandiri.
Baca: Teknologi pengelolaan sampah ini mampu ubah sekilo sampah jadi seharga 1 gram emas
Salah satunya dengan membuat lubang, ember tupuk dan losida.
Bantuan 2 unit biolos itu akan ditanam di lahan salah satu warga dan bisa digunakan bersama.
“Selama ini ada yang dikelola secara mandiri seperti ember tumpuk dan losida, tapi memang sulit untuk memanennya dibandingkan biolos,” tutur Suratim seperti dikutip HarianJogja.com.

Leave a Reply