Polusi Udara di Jakarta Makin Parah, Transisi ke Kendaraan Listrik Mendesak Dilakukan

Written by

in

7cloud.asia – Polusi udara di Jakarta sudah semakin mengkhawatirkan. Dalam beberapa bulan ini tingkat polusi udara di Jakarta sudah masuk kategori tidak sehat.

Untuk mengatasi tingginya polusi udara di Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan peralihan ke kendaraan listrik mendesak dilakukan di Jakarta.

Hal ini karena mayoritas emisi yang memicu tingginya polusi udara di Jakarta berasal dari asap kendaraan bermotor.

Baca: Polusi udara di Jakarta makin parah, ini yang dilakukan Pemprov

Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) mengamini pernyataan KLHK ini. KPBB menyebut tingginya populasi sepeda motor di Jakarta menjadi salah satu penyebab tingginya polusi udara di Jakarta.

Seperti diketahui saat ini jumlah sepeda motor di Jakarta diperkirakan mencapai 16 juta unit. 

KPBB juga menyebut teknologi mesin kendaraan yang tidak memenuhi standar kendaraan rendah emisi memperburuk polusi udara di Jakarta.

Baca: Jakarta masuk kota terpolusi di dunia

Karena itu KPBB mendukung adanya gerakan masif peralihan ke kendaraan listrik dari kondisi ini yang mayoritas masih menggunakan bahan bakar fosil.

“Sepertinya habis dari sini (polusi udara di Jakarta, red) kita niat mengonversi sepeda motor ke listrik ataupun membeli kendaraan listrik,” ujar Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK Sigit Reliantoro di Jakarta, Jumat (11/8/2023).

Sigit mengatakan, pemakaian bahan bakar fosil menyumbang emisi berskala besar membuat kualitas udara Jakarta menjadi tidak sehat bagi manusia.

Baca: Memasuki musim kemarau kualitas udara di sejumlah kota memburuk 

Pernyataan Sigit ini didasarkan pada laporan Bloomberg Philanthopics dan Vital Strategies yang dirilis pada 2020 soal inventarisasi emisi pencemaran atau polusi udara di Jakarta.

Berdasarkan hasil inventarisasi itu, kata Sigit, bahan bakar yang digunakan di Jakarta adalah gas 50,58 persen, BBM 49 persen, dan batu bara 0,42 persen.

Jika dilihat berdasarkan sektornya, urutan  persentase penggunaan bahan bakar di Jakarta menurut sektor-sektornya adalah transportasi 44 persen.

Lalu menyusul secara berurut industri energi 31 persen, industri manufaktur 10 persen, perumahan 14 persen, dan komersial 1 persen.

Baca: Dua alasan beralih ke mobil listrik

Menurut Sigit, kajian itu menempatkan sulfur dioksida pada posisi pertama dari semua emisi dan sumber polusi udara di Jakarta dengan angka mencapai 61,96 persen dari total 4.254 ton.

Emisi sulfur dioksida tersebut dihasilkan oleh pembangkit listrik dari industri manufaktur.

“Kalau polusi lainnya nitrogen oksida (NOx) dan karbon monoksida (CO), PM10, PM2,5, karbon hitam, senyawa organik volatil non-metana (NMVOC) itu sebagian besar disebabkan oleh kendaraan bermotor,” paparnya.

Baca: 8 Jenis tanaman ini efektif menyerap polusi udara

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *