Cara Cerdas Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak, Jangan Pernah Memarahi Saat Anak Nggak Paham

Written by

in

7cloud.asia – Seorang bapak kebingungan, anaknya cerdas, tetapi prestasi di sekolahnya tidak bagus. Setelah saya amati ternyata motivasi belajar anak tersebut kurang. 

Ketimbang belajar si anak lebih suka bermain. Bapak itu lantas bertanya kepada saya bagaimana menumbuhkan motivasi belajar pada putranya. 

Anak-anak memang seperti itu. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak belum belum paham apa itu tanggungjawab termasuk tanggung jawab untuk belajar atau kita sebut motivasi belajar.

Inilah inti masalahnya jika menemukan anak yang kurang suka belajar. Prinsip dasarnya bukan anaknya yang tidak pintar, tetapi situasi psikis yang masih belum terbangun motivasi belajar dalam dirinya.

Baca: Pendidikan montessori makin diminati, mengapa?

Saya percaya anak sekarang lebih baik, dalam artian, lebih baik kecerdasannya dibandingkan  sebelumnya. Factor gizi dan informasi yang masuk pada mereka. Jadi yang menjadi masalah kenapa anak tidak mau belajar adalah kurangnya motivasi belajar.

Motivasi belajar belum muncul terutama anak 7-13 th, karena itu harus disuntik dari luar. Dalam hal ini, tentu saja dari orang tua.

Untuk menumbuhkan motivasi belajar, orang tua harus mulai mengenali minat dan ketertarikan anak di bidang apa.

Seperti misalnya anak saya  saat berusia 10 tahun, dia sangat suka makan, maka makanan ini saya gunakan untuk menumbuhkan motivasinya belajar dia.

Baca: Pertimbangkan hal ini sebelum memasukkan anak ke homeschooling

Caranya? Saya kenalkan padanya beragam makanan yang lezat-lezat. Dari situ kemudian saya kenalkan adanya cheff di belakang makanan lezat tersebut.

Ketika dia ingin tahu tentang cheff maka dari situ saya kenalkan pentingnya belajar, sehingga secara tidak langsung cara ini akan menumbuhkan motivasi belajar dia.

Itu hanya salah satu contoh saja. Setiap anak pasti berbeda-beda. Intinya bawalah pelajaran yang disukai anak dan bawa ke dunia imaginasinya.

Itulah sebabnya saya selalu berprinsip, keberhasilan menumbuhkan motivasi belajar ada di tangan orang tuanya, di samping belajar di sekolah tentunya.
 
Baca: PKBM menjaid harapan bagi mereka yang putus sekolah
 
Orang tua, dalam hal ini ibulah yang paling tahu kondisi dan minat anak-anaknya. Dan dari situlah kemudian secar aperlahan ditumbuhkan motivasi belajarnya.
 
Jangan ragu-ragu untuk menjadi bagian dari hidup mereka. Saya membawanya ke taman di kompleks saat belajar biologi. Di sana banyak tanaman dan hewan-hewan seperti serangga.
 
Alat peraga penting, dan alat peraga tak mesti mahal. Saat belajar tulang belulang, saya gunakan tubuh dia sendiri sebagai contohnya.
 
Saat belajar IPS dan PKN, saya tunjukkan beberapa surat berharga yang ada di rumah seperti KTP, SIM, ijasah, juga akta kelahiran.
 
Baca: Mendobrak mitos, sekolah vokasi kini bukan lagi pilihan kedua
 
Untuk belajar Bahasa Inggris, saya belikan mereka belikan vcd berbahasa Inggris sedehana, yaitu film-film anak dan majalah anak. Ini lebih efektif.
 
Bahkan untuk pelajaran ekonomi saya bawa dia ke pasar tradisional, pasar modern, supermarket, warung, bahkan bursa efek, agar mudah mempelajari berbagai bentuk transaksi, dan berbagai macam tempat jual beli itu.
 
Metode hapalan, benar-benar saya jauhkan dari mereka, karena akan membuat mereka malas dan marah.
 
Mereka sudah akrab dengan komputer, sesekali mereka googling untuk mencari tahu soal pelajaran. Hasilnya, lebih seringnya dapat game baru.
 
Baca: Riset: pembelajaran berpusat pada anak belum tentu sesuai di semua tingkat
 
Dengan cara seperti di atas, insya Allah motivasi belajar anak akan perlahan terbangun dan anak akan menyadari pentingnya belajar.
 
Yang juga harus mereka pahami adalah bahwa belajar itu bukan semata-mata untuk mendapatkan nilai bagus, tetapi untuk menambah ilmu.
 
Jangan lupa, sesekali berilah mereka hadiah. Biarpun hanya sebuah pujian. “Kamu hebat nak”.
 
Dan hindarkan untuk memarahi anak saat dia tidak paham, karena ini akan mematkan motivasi belajar dia. Tetapi cari cara lain agar paham. Dan buatlah anak tertarik dengan cara itu.
 
Penulis: Anggie D. Widowati, pendiri Literasi Bintaro 
 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *