Gree Energy Bantu FIELD Atasi Polusi Udara dan Dukung Pertanian Regeneratif di Indonesia

Written by

in

7cloud.asia – Gree Energy, perusahaan biogas yang berkomitmen untuk dekarbonisasi sektor agrikultur dan rantai pasokan makanan di negara berkembang, memberi donasi senilai Rp 1,5 Miliar kepada Yayasan FIELD Indonesia.

Donasi dari Gree Energy ini untuk mendukung upaya mereka dalam mempromosikan praktik pertanian tanpa pembakaran untuk udara bersih.

Dana dari Gree Energy ini akan digunakan untuk mendukung kerja FIELD dengan petani di Kalimantan dan Sumatera, seperti memberikan pelatihan dan pendidikan tentang teknik pertanian tanpa perlu membakar sisa hasil panen dan hutan.

Baca: Pupuk kandang lebih baik ketimbang pupuk kimia

Pembakaran residu hasil pertanian merupakan penyumbang utama polusi udara dan krisis iklim di Indonesia, yang menghasilkan karbon hitam (PM 2.5), karbon dioksida, gas metana, dan gas rumah kaca lainnya.

Menurut Koalisi Iklim dan Udara Bersih (CCAC), karbon hitam merupakan penyebab 7 juta kematian dini, dan dampak buruk lainnya bagi kesehatan seperti penyakit jantung dan paru-paru, serta stroke.

Pembakaran lahan setelah panen sudah diakui secara luas sebagai kontributor utama kebakaran hutan yang parah. Pembakaran sisa tanaman telah mengakibatkan hampir satu juta hektar lahan di Sumatera dan Kalimantan terbakar.

Baca: Inovasi Biotron bantu atasi kelangkaan pupuk kimia

“Kami merasa terhormat bisa mendukung misi penting Yayasan FIELD untuk mengatasi polusi udara dari aktivitas pembakaran di pertanian, dan memberdayakan petani meningkatkan produktivitas tanaman dengan cara alternatif yang berkelanjutan,” kata Fahreza Hidayat, Head of Sustainability Gree Energy.

Gree Energy dan FIELD memiliki fokus yang sama dalam mengurangi pemicu krisis iklim, khususnya karbon hitam untuk FIELD dan gas metana untuk Gree Energy. Keduanya juga mempromosikan pertanian regeneratif dan rantai pasokan pangan berkelanjutan.

Namun, FIELD menghadapi tantangan dalam hal pendanaan sehingga inisiatif mereka bergantung pada hibah dan/atau dukungan publik untuk melanjutkan usahanya.

Baca: Organisasi masyarakat sipil menyoal pelepasan ribuan hektare lahan di Kalimantan

Nicolas Stirer, CEO dan Founder Gree Energy juga mendukung kemitraan ini. Menurutnya, donasi ini sejalan dengan misi Gree Energy untuk mengurangi emisi gas metana dan menciptakan peluang bagi masyarakat pedesaan yang kurang terlayani.

“Mempromosikan pertanian regeneratif tanpa pembakaran adalah solusi berkelanjutan yang bermanfaat bagi lingkungan dan mata pencaharian penduduk setempat,” ujarnya.

FIELD dinilai satu misi dengan Gree Energy, dan Gree Energy bangga mendanai program mereka yang memberdayakan kelompok terpinggirkan dengan pengetahuan dan perangkat untuk melakukan perubahan nyata.

Baca: Pemerintah diminta terbuka soal hilangnya lahan hutan skunder

FIELD akan menggunakan sebagian besar donasi dari Gree Energy dalam Program Clean Air Indonesia di 8 provinsi di Indonesia dan Program Perluasan Clean Air Indonesia di Sumatera Barat.

Dana tersebut sebagian besar akan digunakan untuk kampanye udara bersih melalui Badan Pencemaran dan peningkatan kapasitas guru di 287 sekolah di 8 provinsi di Indonesia, dan pengelolaan data karbon hitam APP (PM 2.5).

FIELD juga akan memberi pelatihan kepada petani tentang teknik alternatif untuk membuka lahan dan menyuburkan tanah tanpa membakar, seperti kompos, mulsa (mulching), dan mengembangkan tanaman penutup tanah (cover cropping).

Baca: KLHK sebut laju deforestasi di Indonesia menurun

“Metode pertanian berkelanjutan ini berfungsi untuk memperkaya tanah, mengurangi polusi, dan memungkinkan petani menghemat uang untuk pupuk. Kami berterima kasih atas dukungan Gree Energy terhadap program udara bersih kami,” kata Heru Setyoko, Direktur Eksekutif FIELD.

Donasi dari Gree Energy ini akan membantu FIELD menjangkau lebih banyak petani dan sekolah, dan membuat kemajuan yang lebih besar dalam mengatasi polusi dari praktik pembakaran lahan pertanian di Indonesia.

“Pendanaan ini akan memungkinkan kami memperluas jangkauan dan memberdayakan lebih banyak lagi kelompok yang kurang terlayani dengan keterampilan dan pengetahuan untuk mendorong perubahan nyata dari bawah ke atas.” pungkas Heru Setyoko.

Baca: Pentingnya memilih pemimpin yang pro lingkungan

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *