7cloud.asia – Pandemi Covid-19 yang membebat dunia selama 2 tahun menyebabkan perubahan besar dalam kebiasaan hidup sehari-hari. Di sector pendidikan, pandemi mengubah proses pembelajaran dari semula secara tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh secara daring.
Ternyata perubahan ini memiliki dampak signifikan pada capaian para siswa. Sejumlah penelitian mengungkap, pembelajaran secara daring mengakibatkan motivasi belajar para siswa merosot.
Keterbatasan interaksi, baik dengan guru maupun dengan sesama teman sekelas, membuat proses pembelajaran tidak berjalan optimal. Buruknya jaringan internet di sejumlah daerah serta penggunaan gawai yang tidak memadai memperburuk situasi ini. Pakar pendidikan menilai, situasi ini bisa memicu terjadinya learning loss secara massal.
Baca: Apa yang diperjuangan buruh lewat Hari Buruh?
Anda mungkin bertanya-tanya apa itu learning loss? Mengacu pada The Glossary of Education Reform, learning loss adalah satu kondisi di mana terjadi kehilangan atau keterbatasan pengetahuan dan kemampuan/ketrampilan yang dikaitkan dengan perkembangan akademis.
Dengan kata lain learning loss adalah menurunnya kemampuan belajar akibat terhentinya proses pembelajaran. Karena itu learning loss juga bisa terjadi saat bencana alam maupun konflik berkepanjangan yang mengakibatkan terhentinya proses pembelajaran. Learning loss juga bisa menimpa anak yang tinggal di pedalaman tanpa fasilitas pendidikan yang memadai, anak yang sakit berkepanjangan, putus sekolah ataupun libur panjang.
Saat pandemi, learning loss terjadi secara massal dalam skala luas. Karena pembelajaran jarak jauh secara daring dilakukan di hampir semua wilayah Indonesia dan dalam kurun waktu yang cukup lama yakni sekitar dua tahun.
Baca: Seperti ini dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan
Lantas, apa dampak dari learning loss? Saat pandemic, learning loss bisa mengakibatkan pengetahuan dan ketrampilan siswa didik tidak sebaik sebelumnya. Contohnya, siswa kelas 2 SD yang seharusnya sudah lancar membaca, karena proses pembelajaran terhenti atau tidak berjalan optimal akhirnya belum lancar membaca. Kondisi ini mengakibatkan anak kesulitan memahami bacaan terkait mata pelajaran di kelas yang lebih tinggi.
Proses pembalajaran yang tidak optimal bisa mengakibatkan siswa kesulitan belajar yang selanjutnya akan menurunkan kualitas pengetahuan kognisi, menurunnya penguasaan ilmu terapan dan ketrampilan siswa didik.
Kondisi ini selanjutnya akan berimbas pada pembangunan pendidikan secara luas dan dunia kerja. Pasalnya angkatan kerja yang dihasilkan tidak sebaik sebelumnya atau lebih buruk, tidak memenuhi kebutuhan dunia kerja.
Jika mengacu pada konsep aslinya, learning loss sebenarnya sudah lama terjadi di Indonesia akibat pengajaran yang kurang efektif sebagai dampak kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan realitas atau kondisi yang ada.
Baca: Tanpa langkah serius separuh bahasa di dunia bakal punah
Dampak learning loss antara lain ditunjukkan oleh kualitas siswa didik Indonesia yang lebih rendah dibanding negara lain. Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam Indonesia Development Forum 2019 menyebut, kualitas sarjana di Indonesia setara dengan lulusan SMA di Denmark. Data yang dikutip dari laporan “The Need for a Pivot to Learning: New Data on Adult Skills from Indonesia itu juga menyebut kemampuan literasi generasi muda Jakarta (25-26 tahun) lebih rendah dari lulusan SMP di Denmark.
Hal ini diperkuat dengan rendahnya skor PISA Indonesia yang antara lain mengukur kemampuan matematika dan literasi para siswa. Dari dalam negeri, banyak pelaku usaha mengeluhkan kualitas sarjana Indonesia yang tidak memenuhi kebutuhan pasar kerja. Tidak sedikit angkatan kerja yang tak memahami masalah apalagi memecahkan masalah.
Pertanyaannya, adakah cara efektif mengatasi learning loss? Jawabannya, ada. Namun, untuk meminimalisir dampak learning loss tak bisa melulu difokuskan lewat teknologi, Butuh penataan ulang kurikulum yang selaras dengan kondisi saat ini.
Sudah saatnya pemerintah dan sekolah lebih serius menyusun proses pembelajaran yang mampu membuat siswa didik siap memauski dunia kerja dan bebas mencari ilmu ketimbang sekadar mengejar ijazah dan nilai semata.
Baca: Komnas Perempuan ingatkan lembaga pendidikan belum menjadi ruang aman
Para pelaku pendidikan harus terus-menerus memperbarui proses pembelajaran, sehingga efektif untuk mengembangkan kapasitas guru dan peserta didik. Pelajaran dan pengalaman yang terjadi selama pandemi maupun dalam kondisi normal akan menjadi masukan yang efektif guna pengembangan sistem pendidikan ke depan.
Proses pembelajaran difokuskan pada pengajaran dan peningkatan keterampilan esensial yang dibutuhkan siswa untuk menempuh pendidikan tingkat lanjut dan memasuki dunia kerja. Untuk itu proses pembelajaran tak hanya menekankan pada pemahaman materi tetapi juga penguasaan makna.
Ketiga dibutuhkan pengembangan kurikulum yang memberikan kebebasan bagi siswa didik untuk menemukan bidang yang sesuai dengan kemampuan dan minat mereka. Siswa didik harus didorong untuk bisa aktif mencari pengetahuan baru yang berguna.
Esti Utami, dari berbagai sumber

Leave a Reply