7cloud.asia – Mendekati Hari Raya Idulfitri orang makin sibuk dengan persiapan mudik ke kampung halaman. Meski sedikit merepotkan dan kadang perlu effort dan biaya besar, tradisi mudik tetap saja dilakukan oleh sebagian besar anggota masyarakat.
Meski juga dilakukan oleh penganut agama lain, tradisi mudik sering diidentikkan dengan Hari Raya Idulfitri. Secara harafiah mudik diartikan sebagai orang-orang yang merantau atau tinggal di kota atau bukan di kampung halamannya sendiri akan memanfaatkan momen Lebaran untuk pulang kampung bertemu dengan keluarga besarnya.
Dalam tradisi mudik ini, secara tidak langsung bisa menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda. Anak-anak yang tumbuh dan besar di kota, setahun sekali menyambangi kampung orangtuanya dan mengenal tradisi di sana.
Tradisi mudik juga bisa menjadi penggerak roda ekonomi. Mudik menjadi sarana distribusi ‘moda ekonomi’ yang selama ini terakumulais di kota-kota besar. Dari catatan Menko ekonomi Kegiatan mudik Lebaran tahun 2022 berpengaruh sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di daerah.
Mari kita berhitung besaran uang yang berputar dari arus mudik Lebaran 2023 yang diperkirakan mencapai hampir 139 juta orang. Jika setiap pemudik menghabiskan Rp 1 juta maka uang yang berputar mencapai Rp 139 triliun. Angka yang tidak sedikit!
Meski tradisi pulang kampung sudah berlangsung lama, istilah mudik baru ngetren pada tahun 1970-an. Di mana mudik diartikan sebagai sebuah tradisi yang dilakukan oleh perantau di berbagai daerah untuk kembali ke kampung halamannya, untuk berkumpul bersama dengan keluarga.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kata “mudik” memiliki arti “kembali ke udik” serta “pulang ke kampung halaman”.
Sementara dalam Bahasa Jawa, mudik berasal dari kata “mulih disik” yang artinya “pulang dulu”. Ini diartikan juga dengan pulang yang hanya sebentar untuk bertemu keluarga setelah lama tinggal di tanah rantau. Sedangkan, orang Betawi mengartikan mudik sebagai “kembali ke udik”, di mana dalam bahasa Betawi, “udik” sendiri memiliki arti kampung.
Tradisi mudik di Indonesia makin berkembang sejalan dengan makin banyaknya anggota masyarakat yang melakukan urbanisasi atau perpindahan masyarakat rural ke urban (perkotaan)
Baca: Mengenal sumbu filosofi Yogyakarta
Dikutip blog.eigeradventure.com, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) Profesor Purnawan Basundoro menjelaskan bahwa urbanisasi yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang desa ke kota membuat mereka rindu dengan kampung halamannya.
Urbanisasi sendiri mungkin sudah dimulai usai kemerdekaan, setelah banyak orang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pekerjaan di kota. Mungkin tahun 60-an hingga 70-an di mana Kota Jakarta mulai didatangi oleh orang-orang dari berbagai daerah. Desa diibaratkan sebagai sebuah sumber air, sehingga dalam konteks urbanisasi berarti desa merupakan asal atau sumber dari orang-orang kota.
Seiring semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang melakukan mudik, pemerintah Indonesia pada tahun 1960-an memberikan perhatian serius pada kegiatan mudik ini. Jalur kereta api yang beroperasi pada masa kolonial akhirnya kembali diaktifkan untuk menampung para pemudik.
Kemudian memasuki tahun 1980-an, opsi kendaraan masyarakat yang ingin melakukan mudik pun semakin variatif. Mulai dari pesawat, kereta api, bus, hingga kendaraan pribadi. Daerah-daerah kampung halaman yang jaraknya jauh, tidak lagi menjadi masalah besar bagi para pemudik yang berasal dari Ibu Kota.
Ketika pulang kampung, ada beberapa hal yang biasa dilakukan seperti ziarah ke makan para sepuh, takbiran, hingga sungkeman atau mengunjungi rumah sanak keluarga untuk silaturahmi.
Bersama dengan sanak keluarga dan teman-teman menjadi tradisi yang terjadi dalam mudik di Indonesia. Namun selain kegiatan tersebut, biasanya acara makan bersama juga menjadi hal yang lumrah ditemui saat mudik. Momen mudik Lebaran ini sering dimanfaatkan untuk reuni alumni sekolah.
Sejak jaman Majapahit
Berdasarkan buku berjudul Pertanian dan Kemiskinan di Jawa (2002), tradisi mudik sangat lekat dengan kebiasaan petani Jawa yang mengunjungi tanah kelahirannya untuk berziarah ke makam para leluhur. Bagi mereka, mengunjungi makam leluhur menjadi aspek spiritual penting yang harus dilakukan.
Mendoakan leluhur dianggap sebagai sebuah kewajiban yang harus mereka tunaikan. Budaya ziarah yang dimiliki masyarakat Jawa tersebut, sebelumnya berasal dari upacara sraddha atau dikenal dengan nyadran. Upacara sradda menjadi cikal bakal ziarah yang dilakukan oleh masyarakat Jawa di berbagai daerah.
Nyadran yang berasal dari upacara tersebut, menjadi sebuah tradisi pembersihan makam yang dilakukan di pedesaan. Masyarakat Jawa akhirnya rela melakukan perjalanan jauh hanya untuk melaksanakan kewajiban mereka, yaitu mendoakan dan membersihkan para makam leluhur. Dan dari sini lah istilah mudik menjadi membudaya di kalangan masyarakat Jawa.
Tapi ternyata tradisi mudik sudah berlangsung jauh sebelum kemerdekaan. Sejarah mencatat tradidi mudik bermula dari kekuasaan Majapahit yang luas hingga Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Untuk menjaga wilayah kekuasaannya yang sangat luas, sang raja menempatkan pejabat di berbagai daerah.
Pada waktu-waktu tertentu, pejabat-pejabat itu pulang untuk menghadap raja dan mengunjungi kampung halamannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Mataram Islam untuk menjaga wilayah kekuasaannya. Di Mataram Islam, pejabatnya pulang secara khusus ketika Hari Raya Idulfitri datang. Kedua hal itulah yang menjadi asal usul tradisi mudik di Indonesia.

Leave a Reply