7cloud.asia – Dampak perubahan iklim sudah sangat dirasakan kelompok perempuan di Maluku yang sebagian besar tinggal di pulau-pulau kecil.
Seperti diketahui Maluku terdiri dari 1.412 pulau kecil, dan sebagian besar wilayahnya berupa laut.
Berbicara dalam diskusi publik bertajuk “Perempuan Pembela HAM di Garis Depan Perlindungan Lingkungan dan Perjuangan Keadilan Iklim” Daniella Loupatty dari Yayasan Walang Perempuan mengatakan, Perubahan iklim membuat banjir makin sering terjadi.
Diskusi ini digelar sebagai rangkaian peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) 2026 yang diselenggarakan WALHI bersama Konsorsium PARARA.
Perubahan iklim telah mengakibatkan permukaan air laut terus meningkat. Kenaikan muka air laut ini selanjutnya mengancam desa-desa pesisir yang banyak terdapat di Maluku.
Di musim kemarau sering terjadi kekeringan. Ketika sumber air mengering, perempuan di Pulau Kecil harus menyeberangi laut untuk mendapatkan air bersih dari pulau lain.
Baca: Perubahan iklim mengancam ruang hidup di pulau kecil
“Kadang kami harus menghadapi ombak besar dengan menggunakan perahu kecil, tapi ini harus dilakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga,“ terang perempuan yang biasa disapa Ella ini.
Perubahan iklim juga membuat laut makin rusak. Pemanasan global menyebabkan suhu permukaan laut meningkat yang memicu pemutihan karang (coral bleaching) yang merusak ekosistem terumbu karang, tempat nelayan Saparua menggantungkan hidupnya
Perubahan iklim juga memicu kerentanan di sektor pertanian dan perikanan, di mana kalender musim nelayan menjadi tidak menentu.
Petani menghadapi kesulitan akibat cuaca yang tidak menentu sehingga menurunkan hasil panen pertanian mereka.
Luasan kebun sagu juga jauh berkurang karena lahan beralih fungsi menjadi pemukiman dan fasilitas publik lainnya.
Dengan berkurangnya luas kebun sagu membuat warga terpaksa beralih mengonsumsi beras. Padahal beras harus didatangkan dari pulau lain di Maluku, sehingga secara tidak langsung kedaulatan pangan tergerus.
Baca: Ribuan desa pesisir di Indonesia Timur terancam akibat perubahan iklim
Perubahan iklim juga mengakibatkan kekeringan dan ketersediaan air. Di mana peningkatan suhu meningkatkan penguapan, yang dapat mengurangi ketersediaan air tanah dan menyebabkan kekeringan berkepanjangan.
“Apalagi di pulau-pulau kecil yang daerah resapannya sangat terbatas,“ imbuh Ella Loupatty.
Kondisi ini mengakibatkan perempuan di Pulau Saparua harus bekerja lebih berat untuk memastikan keluarganya tetap bisa makan. Pun demikian dengan laki-laki yang bekerja sebagai nelayan
Mereka harus melaut lebih jauh, sehingga butuh lebih banyak BBM sementara hasil tangkapan ikan yang terus menurun.
Untuk memitigasi kondisi ini, Yayasan Walang Perempuan telah menyusun rencana aksi untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Yayasan Walang mengajak perempuan untuk melakukan konservasi mangrove secara mandiri dan mengadopsi metode pertanian adaptif, seperti penanaman tumpang sari dan pemanenan air hujan untuk mengatasi kekeringan.
Leave a Reply