7cloud.asia – Sebagai makanan tradisional, dodol Betawi sering disebut sebagai “kue gotong royong”. Ini karena proses pembuatannya biasanya dilakukan secara bersama-sama dalam jumlah besar.
Proses pembuatan dodol Betawi secara tradisional membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sepuluh jam.
Adonan yang terdiri dari tepung beras ketan, gula merah, santan kelapa, dan garam dimasak dalam kuali besar di atas api kayu bakar hingga menghasilkan tekstur lembut dan rasa manis khas Betawi.
Selama proses berlangsung adonan harus terus diaduk tanpa henti. Karena itulah pembuatan dodol Betawi sering melibatkan banyak orang yang secara bergantian mengaduk adonan tiada henti.
Tanpa menggunakan bahan pengawet, dodol tradisional ini dapat bertahan sekitar dua hingga tiga minggu jika disimpan dengan baik.
Salah satu produsen dodol Betawi adalah Dodol Nyak Mai. Dodol Nyak Mai merupakan usaha turun-temurun yang berada di kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan.
Baca: Dodol Betawi, makanan tradisional Betawi yang rumit pembuatannya
Usaha dodol Betawi ini dirintis oleh Nyak Mai pada awal 1990-an dan kini diteruskan oleh generasi kedua, yakni Mpok Djuanih dan Bang Udin.
Sebagai salah satu kuliner legendaris Betawi, Dodol Nyak Mai tidak hanya menjadi simbol kekayaan budaya, tetapi juga berperan dalam mendukung ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung saat menghadiri acara Ngaduk Dodol Betawi di Dodol Nyak Mai, Jalan Moch Kahfi II, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026) mengatakan dengan pelestarian tradisi ini, diharapkan warisan kuliner Betawi tetap dikenal dan dinikmati oleh generasi mendatang.
Dalam kesempatan itu, Pramono bersama tokoh Betawi yang pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, Fauzi Bowo atau Bang Foke, turut mengaduk dodol bersama para perajin. Ia mengaku terkesan dengan proses pembuatannya yang membutuhkan tenaga serta waktu yang panjang.
“Barusan saya diundang sekaligus mengaduk dodol dan rupanya tidak ringan. Saya terkesan sekali karena bagi warga Betawi, dodol ini sebenarnya bagian dari konsep gotong royong,” kata Pramono.
Menurut Pramono, Dodol Nyak Mai memiliki cita rasa khas dan telah dikenal luas oleh masyarakat. Ia bahkan mengaku kerap membawa dodol tersebut untuk keluarganya.
Baca: Pembentukan Lembaga Adat Betawi untuk jaga identitas kota Jakarta
“Saya sudah pernah mencoba dodol Nyak Mai ini, memang luar biasa enak. Kenyalnya pas dan manisnya juga tidak berlebihan,” ujarnya.
Pramono menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus mendorong pengembangan usaha kuliner tradisional seperti Dodol Nyak Mai. Dukungan tersebut termasuk melalui modernisasi peralatan produksi tanpa menghilangkan nilai tradisional yang menjadi ciri khasnya.
“Harapannya dilakukan modernisasi, tetapi jangan sampai yang tradisionalnya hilang. Justru di situlah kekhasan dan keunggulannya,” terangnya.
Pemprov DKI juga siap memberikan dukungan apabila diperlukan, termasuk bantuan peralatan produksi serta penguatan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Nanti saya minta Kepala Dinas UMKM untuk mempelajari ini dan menyiapkan dukungan yang diperlukan. Hal seperti ini memang perlu pemerintah daerah turun tangan agar para pelaku usaha menjadi lebih berdaya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gubernur Pramono mendorong agar kuliner khas Betawi punya kemasan dan strategi pemasaran yang lebih menarik sehingga dapat menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Jakarta. Ia juga berencana menjadikan Dodol Nyak Mai sebagai salah satu sajian dalam berbagai acara resmi di Balai Kota.
“Kuliner Betawi sebenarnya banyak yang enak, tetapi belum dipasarkan dengan baik. Kita perlu membuat kemasan yang lebih menarik agar siapa pun yang datang ke Jakarta bisa mencoba dodol ini,” tuturnya.

Leave a Reply