Berita Terpopuler Pekan Ini: Kritik terhadap Kesepakatan Prabowo-Trump hingga Potensi Komoditas Rumput Laut

Written by

in

7cloud.asia – Artikel mengenai sikap mantan Presiden Jokowi saat kunjungan ke India menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel terkait isu lingkungan seperti kesepakatan dagang antara Prabowo dan Trump mengancam kedaulatan ekologi Indonesia dan dorongan untuk menerapkan pengurangan sampah.

Artikel mengenai kritik terhadap alokasi anggaran pendidikan untuk program juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia

Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

1. Warganet soroti sikap Jokowi di New Delhi India
Alih-alih mengomentari apa yang disampaikan Jokowi di Bloomberg Economy Forum, warganet lebih fokus pada sikap dan penampilannya.

Dalam beberapa momen rekaman video, Jokowi tampak selalu menutupi tangan kirinya. Ketika tiba di lokasi acara, Jokowi yang mengenakan setelan jas warna terang tetap membawa jas warna hitan yang disampirkan di lengan kirinya.

Pun demikian, saat menyampaikan pandangannya Jokowi menyembunyikan tangan kirinya di bawah meja. Sedangkan mikrofon dia pegang dengan menggunakan tangan kanan.

Jokowi juga tampak menutup tangan kirinya dengan jas hitam ketika tiba dan saat kunjungannya di ibu kota India tersebut.

Baca berita selengkapnya di sini

2. PDI Perjuangan luruskan sumber pendanaan program MBG
PDI Perjuangan meluruskan kesimpangsiuran informasi terkait sumber pendanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menegaskan bahwa anggaran program tersebut berasal anggaran pendidikan di APBN.

Klarifikasi ini disampaikan menyusul beredarnya berbagai narasi di ruang publik yang menyebut pendanaan MBG berasal dari efisiensi anggaran kementerian dan lembaga, bukan dari anggaran pendidikan.

Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, mengatakan penjelasan perlu disampaikan karena banyak kader partai di bawah hingga masyarakat mempertanyakan informasi yang beredar.

Baca berita selengkapnya di sini

3. Deal Prabowo-Trump gadaikan kedaulatan ekologi
WALHI menilai, Perjanjian Dagang Timbal Balik (Agreement on Reciprocal Trade) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) mengorbankan kedaulatan Indonesia atas sumber daya alam dan melanggengkan perampasan ruang hidup rakyat.

Dalam keterangan tertulisnya, WALHI menyebut perjanjian yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Donald J. Trump ini sebagai tindakan inkonstitusional dan menghilangkan kedaulatan ekologi Indonesia.

WALHI menilai perjanjian ini secara terang bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Baca berita selengkapnya di sini

4. Hari Peduli Sampah Nasional
Memanfaatkan momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, sejumlah organisasi peduli lingkungan di Riau mengkritisi pendekatan waste to energi (PSEL) dalam pengelolaan sampah di daerah tersebut

Alih-alih pengelolaan sampah dari pendekatan waste to energy (WtE), mereka mendesak Pemprov Riau dan pemerintah daerah di Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak, Pelalawan, dan Kampar untuk segera beralih menuju sistem berbasis minim sampah atau zero waste.

Desakan ini disampaikan WALHI Riau bersama Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Humendala Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Riau (UNRI) dan Wahana Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (Wanapalhi) Universitas Sains dan Teknologi Indonesia (USTI)

Baca berita selengkapnya di sini

5. Potensi komoditas rumput laut
Sebagai negara maritim, potensi rumput laut Indonesia merupakan salah satu yang terbesar dunia. Varian rumput laut seperti Kappaphycus, Eucheuma, dan Gracillaria Indonesia menyumbang porsi besar dalam perdagangan dunia.

Hal ini tak lepas dari tingginya permintaan global untuk memenuhi hilirisasi komoditas rumput laut seperti kosmetik, bioplastik, hingga bioenergi.

Namun di balik potensi tersebut, terdapat tantangan serius. Layaknya sektor pertanian pada umumnya, pelaku usaha rumput laut juga menghadapi masalah regenerasi.

Mayoritas petani rumput laut saat ini sudah memasuki usia senja. Sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini relatif rendah. Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan momentum sebagai kekuatan utama dalam industri rumput laut global.

Baca berita selengkapnya di sini

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *