7cloud.asia – Pembangunan hunian sementara (huntara) untuk korban banjir Sumatera yang tinggal di dusun-dusun terisolir di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, terhambat akses jalan yang belum sepenuhnya pulih.
Kepala Dusun Ranto Panyang Rubek, Jahidin yang ditemui di Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, Aceh, Sabtu, menyampaikan, pihaknya sudah mendaftarkan dusun mereka untuk menerima bantuan huntara dari pemerintah.
Namun pembangunan huntara terhambat akses jalan yang sulit. Karena itu, para penyintas bencana banjir Sumatera di desanya hingga kini masih tinggal di pengungsian.
“Kami masih tinggal di pengungsian. Kami sudah mendaftar untuk huntara, tetapi karena kadang kondisi jalan kami, karena kondisi cuaca, kadang alat nggak bisa masuk,” ujarnya dilansir Antaranews.com.
Baca: 100an Sekolah terdampak banjir Sumatera masih belum pulih
Dusun Ranto Panyang Rubek merupakan salah satu dusun di Aceh Timur dengan dampak terparah akibat banjir Sumatera pada akhir November 2025. Dusun ini merupakan salah satu dusun yang hilang dengan lokasi yang terisolir.
Dari 46 kepala keluarga di Dusun Ranto Panyang Rubek, lebih separuh atau sebanyak 32 KK kehilangan rumah. Sedangkan rumah yang tersisa rusak berat sehingga tidak bisa ditinggali.
Untuk mengakses Dusun Ranto Panyang Rubek dari jalan utama, seseorang harus menembus perkebunan sawit melalui jalan tanjakan yang masih berselimut lumpur dengan durasi perjalanan kurang lebih 2 jam.
Ekstremnya perjalanan yang harus ditempuh menyebabkan kawasan tersebut terisolir dari bantuan-bantuan yang dibutuhkan pascabencana.
“Sebagian masyarakat kami memanfaatkan kayu-kayu sisa untuk membuat hunian sementara, sambil menunggu (huntara pemerintah),” ujar Jahidin.
Baca: Pembangunan hunian sementara untuk penyintas banjir Sumatera jangan asal cepat
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan terdapat 29 desa yang hilang karena tersapu banjir Sumatera pada November lalu. Dari jumlah tersebut, 21 desa berada di Aceh, tersebar di Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Tengah dan Gayo Lues.
Hilangnya desa-desa tersebut menjadi persoalan serius karena menyangkut relokasi penduduk serta penataan ulang administrasi pemerintahan desa, apakah akan dibangun kembali di lokasi baru atau dihapus dari sistem administrasi wilayah.
Secara keseluruhan, banjir Sumatera yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat menyebabkan 1.205 orang meninggal dunia dan 139 orang masih dinyatakan hilang.
Total wilayah terdampak mencapai 52 kabupaten/kota, 491 kecamatan dan 4.511 desa.

Leave a Reply