7cloud.asia – Rismon Sianipar akan membagikan 1.000 buku berjudul “Gibran End Game: Wapres Tak Lulus SMA“ secara gratis kepada anggota DPR dan DPD. Pernyataan ini disampaikan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, pada Selasa, 20 Januari 2026.
Buku tersebut membahas riwayat pendidikan Gibran Rakabuming Raka dalam konteks pencalonannya sebagai wakil presiden. Rismon menyebut pembagian buku dilakukan sebagai bentuk penyampaian kajian publik dan dibiayai dari dukungan internal serta masyarakat.
Buku Gibran End Game ini merupakan hasil penelusuran Rismon Sianipar terkait riwayat pendidikan Gibran Rakabuming Raka dalam konteks pencalonannya sebagai wakil presiden.
Buku Gibran End Game ini berangkat dari keinginan untuk mengurai benang kusut antara fakta, dokumen, dan kebijakan yang membentuk kontroversi riwayat pendidikan Gibran Rakabuming Raka.
“Dalam perjalanan menuju Pemilu 2024, persoalan mengenai kesetaraan ijazah dan validitas pendidikan luar negeri sang calon wakil presiden mencuat sebagai perdebatan publik,“ demikian pengantar buku tersebut.
Buku ini menyajikan riset mendalam terhadap dokumen resmi negara, sistem pendidikan lintas negara, hingga kerangka hukum yang memungkinkan Gibran diterima sebagai calon wakil presiden, meski menyisakan banyak pertanyaan akademik.
Baca: Kemendikdasmen sebut dokumen penyetaraan Gibran tak bisa dibuka ke publik
Melalui analisis dokumen resmi dan sistem pendidikan, buku ini menyimpulkan bahwa Gibran tidak memenuhi syarat pendidikan menengah atas yang diakui secara formal. Selain itu, buku ini juga membahas implikasi hukum dan etis dari keputusan yang memungkinkan pencalonannya.
Bab pertama Gibran End Game menguraikan fondasi kontroversi melalui penelusuran dokumen Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menampilkan riwayat pendidikan Gibran.
Dalam dokumen resmi itu, tercatat bahwa Gibran menempuh pendidikan di SD Negeri Mangkubumen Kidul 16, SMP Negeri 1 Surakarta, lalu pindah ke Orchid Park Secondary School di Singapura pada 2002–2004, sebelum melanjutkan ke UTS Insearch Sydney pada 2004–2007.
Susunan ini tampak sah di permukaan, namun ketika dikaitkan dengan sistem pendidikan Singapura dan Australia, muncul kejanggalan mengenai kesetaraan jenjang dan masa studi.
Rismon menggali lebih dalam posisi Orchid Park Secondary School dalam kerangka pendidikan Singapura. Sekolah ini berada pada jenjang Secondary 3–4, yang setara dengan pendidikan menengah kelas 9–10 dalam sistem Indonesia.
Setelah lulus, siswa seharusnya melanjutkan ke Junior College atau Polytechnic Foundation Programme untuk menyelesaikan pendidikan menengah atas. Faktanya, Gibran tidak pernah tercatat menempuh dua tahun lanjutan tersebut dan justru melanjutkan ke UTS Insearch, Sydney.
Baca: Pencalonan Gibran menjadi wakil presiden dinilai melanggar aturan
“Ini menjadi titik awal masalah akademik: bagaimana mungkin seseorang yang belum menyelesaikan pendidikan menengah penuh dapat diterima langsung di lembaga setara diploma Australia?“ ujar Rismon dalam pernyataannya di Mapolda Metro Jaya beberapa waktu lalu.
Buku ini juga menyoroti surat keterangan penyetaraan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjendikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang dikeluarkan pada 6 Agustus 2019.
Surat ini menyatakan bahwa Gibran telah menempuh “Grade 12 di UTS Insearch, Sydney” dan dinilai setara dengan lulusan SMK peminatan Akuntansi dan Keuangan.
Rismon menegaskan, penyetaraan tersebut tidak didukung oleh fakta akademik karena UTS Insearch bukan lembaga pendidikan menengah, melainkan institusi pathway atau transisi menuju universitas.
Berdasarkan deretan fakta di atas, Rismon menyimpulkan bahwa Gibran tidak pernah lulus SMA, baik dalam maupun luar negeri sehingga tidak memenuhi syarat menjadi calon wakil presiden.
Rismon menduga penelusuran yang dia lakukan bersama pakar telematika, Roy Suryo ini mengusik keluarga Jokowi. Tak lama setelah dia menyuarakan temuannya, polisi menetapkan dirinya, Roy Suryo dan Dokter Tifa menjadi tersangka kasus dugaan fitnah ijazah palsu Jokowi dan dicekal

Leave a Reply