7cloud.asia – Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat sistem drainase sebagai upaya mengurangi genangan serta meningkatkan ketahanan kawasan perkotaan terhadap hujan deras.
Pada tahun 2026, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta menyiapkan berbagai langkah perbaikan dan pengembangan infrastruktur, baik melalui pembangunan baru, pemeliharaan rutin, maupun penanganan insidentil.
Dalam pengelolaan drainase, DPUPKP Kota Yogyakarta menerapkan konsep drainase lestari, yakni tidak langsung membuang air hujan secepat mungkin ke sungai, melainkan menahannya sementara melalui sistem resapan yang terintegrasi dengan saluran.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Yogyakarta, Rahmawan Kurniadi mengatakan, konsep ini bertujuan untuk mengurangi beban sungai dengan memperlambat aliran air permukaan, sekaligus sebagai upaya konservasi air.
Air hujan dialirkan melalui sumur resapan yang terintegrasi dengan saluran. Sistem ini bukan semata-mata untuk peresapan, tapi sebagai ‘rem’ agar air tidak langsung terbuang ke sungai.
Baca: Sumur resapan jadi solusi efektif jaga ketersediaan air di perkotaan
“Selain itu, titik-titik resapan juga berfungsi menangkap sedimen sehingga pemeliharaannya lebih mudah,” jelas Kurniadi seperti dilansir di laman resmi Kota Yogyakarta.
Pemantauan dan pembersihan drainase dilakukan secara rutin, terutama pada musim hujan. Pihaknya juga memanfaatkan laporan masyarakat melalui kanal pengaduan, seperti JSS, untuk mendeteksi lokasi genangan yang tidak surut dalam waktu lama.
Jika genangan tidak surut dalam dua jam atau masih terjadi hingga keesokan paginya, petugas akan segera melakukan pengecekan lapangan.
Kurniadi mengatakan, kondisi drainase di Kota Yogyakarta secara umum menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Hasil pekerjaan sepanjang 2025 dinilai cukup signifikan dalam mengurangi genangan, meskipun masih terdapat beberapa titik yang belum sepenuhnya teratasi.
Baca: Sumur resapan jadi solusi pengendalian banjir dan konservasi air
“Secara umum sudah mengurangi genangan. Tapi memang masih ada beberapa lokasi yang ketika hujan deras masih tergenang, seperti di kawasan Langensari dekat bengkel kereta, serta di Kampung Klitren yang rencananya akan ditangani oleh BBWS,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin (2/2/2026).
Kurniadi menambahkan, beberapa lokasi lain yang sebelumnya rawan genangan kini sudah terkendali, salah satunya kawasan XT Square.
Menurutnya, genangan yang sempat terjadi di wilayah tersebut tidak hanya disebabkan kapasitas saluran, tetapi juga oleh sampah yang menyumbat inlet drainase.
Setelah dilakukan perbaikan dan pembersihan, kondisi genangan di XT Square kini hanya bersifat kecil dan temporer.
Selain drainase, Kurniadi menyebutkan pihaknya juga menangani saluran irigasi. Ia menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara drainase dan irigasi terletak pada kondisi alirannya.
Drainase seharusnya kering saat tidak hujan, sedangkan irigasi idealnya selalu mengalir karena bersumber dari bendung untuk pengairan sawah.
Melalui penguatan drainase dan penataan irigasi yang terintegrasi, Kurniadi berharap potensi genangan dan kerusakan infrastruktur akibat cuaca ekstrem dapat ditekan, sekaligus menciptakan sistem pengelolaan air perkotaan yang lebih berkelanjutan.

Leave a Reply