Masih Gunakan Logika Media Cetak, Media Siber Belum Maksimalkan Interaksi dengan Audiens

Written by

in

7cloud.asia – Cara orang mengonsumsi informasi di era digital telah banyak berubah dan ini ikut mengubah wajah media siber (online) di Indonesia. Sayangnya, banyak media siber masih menjalankan pola bisnis lama, seolah-olah masih berada di era media cetak.

Akibatnya, potensi besar media digital—seperti jangkauan luas dan fleksibilitas platform—belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menopang keberlanjutan bisnis media.

Sebagai contoh, salah satu keunggulan media siber adalah kemampuannya membuka ruang interaksi langsung dengan pembaca.

Interaksi ini tidak hanya sebatas kolom komentar atau tombol berbagi berita, tetapi juga memberi kesempatan bagi pembaca dan pihak terkait untuk terlibat dalam proses pembuatan berita.

Namun, peluang ini belum banyak dimanfaatkan oleh media online di Indonesia. Kebanyakan media masih sebatas menggunakan data pembaca sebagai bahan ide konten, tanpa benar-benar melibatkan audiens dalam penulisan atau pengembangan berita.

Hasil survei Monash Data and Democracy Research Hub (MDDRH) dan Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) pada 16 Juni hingga 2 Juli 2025 terhadap 220 media anggota AMSI yang tersebar di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa pelibatan stakeholder di luar redaksi untuk urusan pembuatan konten masih sangat terbatas.

Minimnya pelibatan audiens
Survei ini melibatkan 36 media besar, 13 media menengah-besar, 49 media menengah-kecil, dan 122 media kecil.

Pada media-media besar, keterlibatan ini berada pada rentang 2,8 hingga 22,2 persen. Sementara pada media sedang besar berada pada rentang media sedang – besar 0 hingga 15,4 persen; media sedang–kecil 0 hingga 2,04 persen; dan media kecil 0 hingga 4,9 persen.

Baca: Tahun 2025 jadi tahun kelam bagi media akibat tindakan pemerintah

Artinya, sekalipun institusi media yang lebih besar memiliki kapasitas dan jejaring yang memungkinkan kolaborasi lintas-aktor, tapi praktik tersebut belum menjadi praktik utama.

Umumnya, audiens hanya terlibat untuk proses distribusi media. Kurangnya pelibatan pembaca dalam hal pembuatan konten ini membuat engagement terhadap media siber menjadi kurang maksimal. Pada akhirnya, audiens juga enggan membagikan berita yang ada karena tidak relevan dengan pengalaman mereka.

Survei ini juga menunjukkan bahwa baru 20,45 persenmedia yang memproduksi dan mendistribusikan konten melalui podcast, serta hanya 12,72 persen yang memanfaatkan aplikasi mobile.

Padahal, aplikasi mobile memiliki sejumlah keunggulan, seperti distribusi konten secara langsung tanpa bergantung pada algoritma mesin pencari maupun media sosial.

Fitur push notification atau pengiriman pesan singkat secara langsung ke perangkat audiens dan personal alert (notifikasi pribadi) juga mampu meningkatkan engagement pembaca, sekaligus membuat monetisasi lebih stabil melalui pemasangan iklan langsung dan penyediaan data pengguna yang lebih detail.

Tantangan inovasi teknologi
Survei kami juga memperlihatkan inovasi dan adaptasi teknologi media Indonesia cenderung terjadi di bagian hilir, yaitu distribusi dan interaksi dengan audiens.

Belum terlihat adanya diferensiasi model bisnis secara signifikan dalam proses inti produksi, pengembangan produk, dan pemanfaatan data. Akibatnya, bisnis media cenderung melemah, daya tahan pendapatan rapuh, dan ruang redaksi rentan terdampak saat algoritma berubah.

Secara detail, di sisi value adding (penambahan nilai) dan main partners (mitra utama), sekitar 75 persen media siber terlihat relatif cakap berjejaring untuk memperkuat reputasi dan bisnis.

Namun, untuk distribusi konten, hanya 62,73 persen yang memiliki mitra. Alhasil, jangkauan dan akuisisi audiens belum optimal.

Baca: Pentingnya dana jurnalisme publik demi Pers Indonesia yang independen

Mitra media siber dalam distribusi konten.
Di ruang redaksi, struktur peran masih didominasi fungsi tradisional (role of creators), seperti jurnalis dan editor. Peran baru seperti creator-led atau kreator konten hanya bertumbuh di kisaran 9 hingga 36 persen.

Mayoritas atau 58,18 persen media juga belum mengembangkan “kreator unggulan”. Kreator unggulan adalah kreator konten yang memiliki pengaruh signifikan di publik karena memiliki popularitas yang lebih baik dibandingkan jurnalis atau kreator lainnya.

Budaya eksperimen pun masih lemah. Sebanyak 60,91 persen media tidak mendorong eksperimen (kurang dari tiga kali setahun), dan 36,36 persen tidak menggunakan data sebagai basis pengujian. Alhasil, pengambilan keputusan kerap tidak berbasis bukti.

Perubahan dari 2021
Membandingkan survei terbaru dengan survei media AMSI pada 2021, kami mengamati adanya tiga pergeseran.

Pertama, dalam hal modal awal pendirian media (market entry barriers). Pada 2021, 60 persen dari 18 media siber di Jakarta mengaku membutuhkan modal lebih dari Rp1 miliar.

Namun, dalam survei ini, hanya 26,36 persen dari 220 media atau hampir 60 media yang membutuhkan modal awal lebih dari Rp500 juta. Perubahan ini memperlihatkan adanya pergeseran struktur biaya dalam industri media.

Kebutuhan modal besar tidak lagi menjadi syarat utama untuk mendirikan media, sehingga memungkinkan munculnya lebih banyak pemain baru dengan sumber daya terbatas.

Meski demikian, media juga mengakui adanya kompetisi baru (competition) dengan segmen nonmedia seperti content creator di media sosial.

Baca: Banyak media cetak mati di era digital, tetap ada majalah yang bertahan

Kedua, jika pada 2021 belum ada media siber yang mendiseminasikan konten melalui TikTok, kini 133 dari 220 media siber atau 60,45 persen telah menjadikan TikTok sebagai platform untuk menyebarkan hasil jurnalistik.

Jumlah media pemilik akun YouTube pun bertambah dari 7,3 persen media Jakarta dan 39,6 persen media luar Jakarta, menjadi 50 persen di seluruh Indonesia.

Ketiga, perubahan dalam sumber pemasukan utama (revenue source). Sebelumnya pada 2021, ada 37,9 persen media Jakarta dan 29,6 persen media luar Jakarta memperoleh pendapatan utama dari iklan swasta.

Hal ini berbeda dengan kondisi 2025, ketika rata-rata pemasukan media dari iklan pemerintah mencapai 45,85 persen.

Media siber hari ini lebih banyak mendapatkan pemasukan dari iklan (adsense), dari 14,3 persen media Jakarta dan 10,7 persen media luar Jakarta pada 2021, menjadi di atas 40 persen di setiap kategori ukuran media.

Pemasang iklan di media siber Indonesia.
Media siber juga memperluas diversifikasi sumber pendapatan dari bisnis nonmedia. Jika media secara global memperoleh 23,8 persen pendapatan dari bisnis nonmedia (WAN IFRA 2024-2025), di Indonesia, keuntungan dari bisnis nonmedia sedikit lebih tinggi di angka 27,7 persen.

Bisnis event organizer, agensi pembuatan konten, serta konsultan riset dan survei populer menjadi andalan media-media siber Indonesia.

Perlu transformasi nilai
Perubahan yang dibutuhkan dalam bisnis media tidak cukup hanya dengan hadir di berbagai platform digital. Media perlu membangun hubungan langsung dan bermakna dengan audiensnya.

Tanpa pembenahan di sisi awal—seperti pengelolaan data, pengembangan produk, dan proses kreatif—digitalisasi justru hanya memindahkan masalah.

Biaya distribusi memang bisa turun, tetapi risikonya meningkat: pembaca sulit dipertahankan, dan kemampuan media untuk membiayai jurnalisme berkualitas semakin melemah.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Nurul Amalia (Peneliti Monash Data & Democracy Research Hub, Monash University), Ika Karlina Idris (Associate Professor, Monash University) dan Nala Edwin Widjaja (Dosen London School of Public Relation/LSPR Jakarta)

Prodita Sabarini, CEO/Publisher The Conversation Indonesia, dan Adryan Kusumawardhana, Research affiliate dari Monash Data and Democracy Research Hub, turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *