7cloud.asia – Alam dan manusia itu satu rupa, satu kesatuan. Kalau alam rusak, manusia juga rusak. Demikian masyarakat adat Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cirendeu, Kota Cimahi, Jawa Barat berpijak.
Dengan prinsip ini, masyarakat adat Cirendeu melestarikan hutan adat mereka yang terbagi menjadi tiga bagian yakni Larangan, Titipan, Baladahan.
Dengan filosofi “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” atau menyesuaikan diri dengan zaman tapi tetap memegang adat, kampung adat Cirendeu berhasil menjaga kelestarian lingkungannya.
“Bagi kami, hutan adalah Ibu. Hidup manusia bergantung pada alam. Kalau Ibu dirawat, manusia akan sejahtera,” ujar Sudrajat selaku Girang Serat Kampung Adat Cirendeu, sekaligus pemandu wisata, saat berdiskusi bersama tim GreenFaith Indonesia Rabu (14/1/2026)
Menurut laki-laki yang akrab disapa Mang Jajat ini, warga Kamung Adat Cirendeu hidup berdampingan secara harmonis antara penganut Sunda Wiwitan, warga muslim, maupun keyakinan lainnya.
Nilai adat yang kini masih dijalankan mengajarkan pengendalian diri dan penghormatan terhadap alam, termasuk pantangan mengenakan pakaian berwarna merah serta tidak mengenakan alas kaki saat memasuki kawasan hutan atau mendaki Puncak Salam.
Baca: Menggali keunikan desa adat Wae Rebo
Kampung Adat Cirendeu telah memperoleh Surat Keputusan sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat (KMHA) pada 2024, yang memperkuat legalitas dan perlindungan wilayah adat di tengah tekanan pembangunan.
Selain menjaga hutan, masyarakat Kampung Adat Cirendeu juga mempertahankan kedaulatan pangan dengan tidak bergantung pada beras.
Sejak 2008, kampung ini dikenal sebagai contoh kedaulatan pangan nasional
melalui konsumsi pangan yang diproduksi sendiri berupa rasi atau nasi singkong sebagai makanan pokok.
Kini kampung adat Cirendeu menjadi tujuan wisata budaya, di mana pengunjung dapat belajar membuat rasi, Wawayangan, serta berbagai aktivitas budaya Sunda wiwitan lainnya.
Kearifan lokal inilah yang dipelajari langsung oleh tim GreenFaith Indonesia saat melakukan kunjungan ke masyarakat adat Sunda Wiwitan Kampung Cireundeu Cimahi, Rabu (14/1/2026).
Baca: Mengenal tradisi naik dango di kalangan masyarakat adat Dayak Kanayatn
Kunjungan GreenFaith Indonesia ke desa adat Cirendeu ini untuk memahami bagaimana kearifan lokal merawat hutan, pangan, dan kehidupan secara berkelanjutan.
Di sana mereka berdialog dengan tokoh adat, menggali praktik kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan, serta membuka ruang kolaborasi antara Greenfaith dan masyarakat adat.
“Kami datang untuk belajar. Nilai-nilai masyarakat adat sangat penting untuk menjawab krisis iklim dan krisis ekologis hari ini,” kata Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan.
Ia menambahkan, pengakuan negara terhadap masyarakat adat menjadi bagian penting dari upaya perlindungan lingkungan.
Dalam kunjungan tersebut, tim GreenFaith Indonesia juga menyimak langsung proses pembuatan rasi, mulai dari memotong, memarut, memeras, menjemur, menumbuk, hingga mengayak singkong menjadi bahan pangan siap konsumsi.
Baca: Menyelami tradisi Ngertakeun Bumi Lamba
Tak hanya itu, tim juga mencicipi dan membawa pulang beragam olahan singkong khas Cirendeu, seperti cireng singkong, egg roll singkong, hingga dendeng kulit singkong.
Praktik ini menunjukkan bahwa pangan lokal bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari strategi hidup berkelanjutan.
Kunjungan ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran sekaligus penguatan jejaring, sehingga nilai-nilai tradisi yang selaras dengan alam dapat menjadi inspirasi bagi gerakan lingkungan lintas iman.
“Kunjungan ini mengingatkan kita bahwa masyarakat adat adalah penjaga nilai-nilai ekologis yang sangat penting. Melindungi masyarakat adat berarti melindungi alam dan masa depan bersama,” imbuh Hening.
Hening menambahkan, GreenFaith bekerja pada isu lingkungan berbasis lintas iman dan secara konsisten belajar dari komunitas adat, termasuk masyarakat adat dan penghayat kepercayaan.
Baca: Menyelami kehidupan masyarakat adat di sejumlah desa adat

Leave a Reply