7cloud.asia – Gunungan sampah di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur berkurang sekitar seperempat pada hari pertama pembersihan atau Jumat (9/1/2026).
Pada hari ini, berhasil dibersihkan sekitar 450 ton sampah dan diperkirakan masih tersisa sekitar 1.300 ton sampah yang berada di lokasi. Adapun pembersihan gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati dijadwalkan rampung pada Minggu (11/1/2026).
Kepala Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup (Satpel LH) Kecamatan Kramat Jati, Dwi Firmansyah mengatakan, seluruh sampah yang diangkut langsung dibuang ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.
“Rencana awal ada 23 truk, tetapi yang beroperasi hanya 20 armada karena tiga mengalami kendala teknis,” ujarnya, Jumat (9/1/2025) seperti dikutip beritajakarta.id
Dwi menjelaskan, dari 20 armada yang dikerahkan, delapan unit berasal dari Satpel LH Kecamatan Kramat Jati, delapan unit bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta, serta empat unit dari Unit Pengelola Sampah (UPS) Badan Air Dinas LH DKI Jakarta.
Baca: Pengelola kawasan di Tangerang Selatan diminta tangani sampah sendiri
Seluruh armada tersebut melakukan total 31 rit pengangkutan. Sebagian truk mampu melakukan dua rit, sementara lainnya hanya satu rit akibat antrean panjang di TPST Bantar Gebang.
“Masih tersisa sekitar 1.300 ton sampah, kegiatan pembersihan dilanjutkan kembali hari ini dan ditargetkan rampung pada Minggu lusa,” terangnya.
Dwi berharap, proses penanganan sampah di Pasar Induk Kramat Jati dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Namun, ia menegaskan bahwa kelancaran pengangkutan juga bergantung pada kondisi cuaca di TPST Bantar Gebang.
“Apabila terjadi hujan deras yang disertai angin kencang dan petir, layanan pembuangan sampah di TPST Bantar Gebang akan dihentikan sementara hingga kondisi cuaca kembali normal,” tandasnya.
Pengelolaan sampah di Pasar Induk Kramat Jati hingga kini masih menjadi masalah. Dalam kondisi normal, volume sampah di Pasar Induk Kramat Jati mencapai sekitar 200 ton per hari.
Menurut Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Timur, Julius Monangta jumlah ini setara dengan produksi sampah dari dua kecamatan.
Baca: Darurat sampah di sejumlah kota harus jadi momentum reformasi pengelolaan sampah
Namun, lonjakan sampah di Pasar Induk Kramat Jati kerap terjadi pada periode tertentu, khususnya saat musim buah. Hal ini disebut Monang, seharusnya diantisipasi oleh Pasar Jaya agar sampah tidak menumpuk.
“Pada musim tertentu, timbunan sampah busa mencapai hingga 220 ton per hari. Artinya, terjadi akumulasi atau ‘tabungan’ sampah sekitar 60 ton setia harinya,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (9/1/2026).
Pasar Jaya diingatkan kelola sampah secara mandiri
Merujuk pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 102 Tahun 2021 tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di Kawasan dan Perumahan, seharusnya Perumda Pasar Jaya bisa mengelola sampahnya secara mandiri.
Karena, kawasan komersial, termasuk pasar memiliki kewajiban untuk mengelola sampah secara mandiri, baik melalui pengelolaan internal maupun kerja sama dengan pihak ketiga.
“Saat ini, Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Timur melakukan pembantuan karena Pasar Induk Kramat Jati merupakan fasilitas publik yang strategis,” ujarnya.
Namun, dia mengingatkan kewajiban pengelolaan sampah secara mandiri tetap harus dijalankan oleh Perumda Pasar Jaya sesak ketentuan yang berlaku.
Baca: Indonesia darurat sampah dan hanya 40 persen sampah yang terkelola dengan baik

Leave a Reply