Belajar Bagaimana China Sukses Mengentaskan 800 Juta Penduduknya dari Kemiskinan

Written by

in

7cloud.asia – Dalam empat dekade atau 40 tahun terakhir, pemerintah China telah berhasil melepaskan hampir 800 juta penduduknya dari jerat kemiskinan. Ini sebuah prestasi transformasional yang diakui dunia.

Melalui strategi penanggulangan kemiskinan yang terarah, koordinasi kelembagaan yang kuat, dan komitmen politik jangka panjang, China menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat dapat berjalan seiring dengan pembangunan sosial yang inklusif.

Pengentasan kemiskinan di China dilakukan dengan sangat terstruktur, dipimpin oleh Xi Jinping dengan program “Pengentasan Kemiskinan Terarah” (TPA).

Program ini menargetkan setiap keluarga miskin, mengintegrasikan pembangunan ekonomi pedesaan dengan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta mobilisasi sektor publik dan swasta.

Lewat program ini berhasil mencapai pengurangan kemiskinan ekstrem secara masif sejak 1970-an dan mendeklarasikan penghapusan kemiskinan absolut pada 2020.

Strateginya meliputi pengembangan industri lokal, pelatihan kerja, relokasi penduduk, dan bantuan keuangan besar-besaran, menciptakan model pembangunan inklusif yang juga dibagikan ke negara lain seperti Indonesia.

Baca: Indonesia terancam jadi Negara yang langgengkan kemiskinan

Pembelajaran pengentasan kemiskinan di China relevan bagi Indonesia, terutama ketika pemerintah menargetkan penghapusan kemiskinan pada 2030 sesuai agenda pembangunan nasional dan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Untuk itu Pusat Riset Politik BRIN menyelenggarakan seminar dan peluncuran buku “The End of Poverty and the Taming of Inequality: A Manifesto for Personal and Social Action” pada Senin (15/12/2025), di Auditorium Lantai 1 Gedung Widya Graha, BRIN Jakarta

Kegiatan ini, menjadi momentum penting untuk menghadirkan dialog kebijakan lintas negara mengenai strategi pengentasan kemiskinan, pemerataan pembangunan, dan penanggulangan ketimpangan sosial.

Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Athiqah Nur Alami menegaskan pentingnya dialog akademik dan kemitraan pengetahuan untuk mendukung agenda nasional tersebut.

“China menunjukkan bahwa pengentasan kemiskinan dapat dicapai melalui strategi yang terarah, koordinasi kelembagaan, dan komitmen jangka panjang. Melalui seminar ini, BRIN ingin membuka ruang dialog agar pembelajaran tersebut dapat dipahami secara lebih mendalam dan memberi manfaat bagi agenda pembangunan Indonesia,” katanya.

Lebih jauh, ia juga menyoroti urgensi percepatan pembangunan inklusif di Indonesia. Pemerintah, ujarnya, telah menegaskan target penghapusan kemiskinan pada 2030.

Baca: Dengan garis kemiskinan Rp609.160/Bulan, jumlah penduduk miskin capai 23,85 Juta orang

Karena itu, pertukaran pengetahuan seperti ini penting untuk mendukung percepatan pembangunan yang inklusif, terutama melalui penguatan kapasitas desa, perlindungan sosial, dan transformasi ekonomi.

Peluncuran edisi Indonesia ini memberikan akses lebih luas bagi para pembuat kebijakan, akademisi, dan masyarakat di Indonesia untuk mengakses gagasan global China mengenai penanggulangan kemiskinan.

Karya ini juga menyatukan dimensi moral, sosial, dan kebijakan, sehingga relevan bagi konteks pengentasan kemiskinan di Indonesia saat ini.

Selain peluncuran buku, dalam kegiatan ini juga diadakan diskusi dengan tema “Ending Poverty and Reducing Inequality: Learning from China’s Experience and Indonesia’s Path Forward”.

Diskusi menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi Indonesia dan China, yaitu Dr. Xu Jin dari China Agricultural University, Prof. Semiarto Aji Purwanto dari Universitas Indonesia, Christine Susanna Tjhin dari Gentala Institute, dan Wasisto Raharjo Jati dari Pusat Riset Politik BRIN, dan dimoderatori oleh Dr. Paulus Rudolf Yuniarto, peneliti dari Pusat Riset Kewilayahan, BRIN.

Seminar dan peluncuran buku ini, diharapkan dapat memperkaya diskursus nasional mengenai strategi pengentasan kemiskinan, memperkuat sinergi pengetahuan antara Indonesia dan China, serta mendorong lahirnya inovasi kebijakan sosial yang inklusif, terukur, dan berbasis bukti.

Baca: Mengapa angka kemiskinan versi BPS dan Bank Dunia berbeda

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *