Banjir Sumatera: Masyarakat Sipil Gelar Aksi Kibarkan Bendera Putih Desak Penetapan Status Bencana Nasional

Written by

in

7cloud.asia – Massa yang menamakan Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Peduli Bencana Sumatera melakukan aksi demonstrasi dengan mengibarkan bendera putih di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (18/12/2025).

Aksi pengibaran bendera putih itu dilakukan sebagai ungkapan kekecewaan terhadap penanganan bencana ekologis yang melanda Aceh. Mereka menilai penanganan bencana banjir bandang dan tanah longsor Aceh perlu penanganan cepat dan segera.

Dalam aksi tersebut terdapat sejumlah spanduk yang bertuliskan agar Pemerintah Pusat ‘Tetapkan Status Darurat Bencana Nasional’ atas bencana ekologis yang melanda Aceh.

Bendera putih yang dikibarkan agar Pemerintah perlu hadir dalam kebijakan nyata. Pemerintah juga didesak agar membuka akses terhadap komunitas internasional agar memberikan bantuan.

Pasalnya dalam peristiwa bencana ekologis yang melanda tiga provinsi di Sumatera, korban jiwa sudah mencapai 1.059 orang. Ratusan ribu rumah masyarakat rusak akibat bencana yang terjadi.

Dalam aksi itu, massa meminta presiden dan pemerintah pusat diminta untuk tidak mengabaikan desakan warga untuk menetapkan banjir Sumatera menjadi bencana nasional.

Baca: Korban meninggal akibat banjir Sumatera capai 1059 orang

Melansir Serambinews.com, pada Minggu (14/12/2025), bendera putih berkibar di sejumlah daerah di pinggiran jalan lintas nasional Banda Aceh-Medan, dan sejumlah titik di antaranya di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Aceh Utara.

Sejumlah warga saat ditemui mengatakan bendera putih itu dipasang karena masyarakat yang terdampak bencana alam banjir bandang sudah menyerah dan tak sanggup lagi untuk menanganinya.

“Kami sekarang menyerah dan tak sanggup lagi dan butuh bantuan,” ujar seorang warga, Bakhtiar saat dijumpai di Peurleuak, Aceh Timur.

Seorang warga di Banda Aceh, Wardah mengatakan kondisi berangsur membaik tapi belum sepenuhnya pulih

“Listrik sudah semakin sering menyala meski belum 24 jam. Tetapi LPG langka dan harga bahan makanan melonjak tajam. Di daerah terdampak pasti lebih buruk,” ujarnya dalam pesan tertulis.

Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025 melanda sejumlah daerah di Provinsi Aceh, seperti Aceh Utara, Bireuen, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, hingga beberapa kawasan pesisir.

Baca: Warga Sumbar siapkan gugatan terkait Banjir Sumatera

Aceh tercatat sebagai provinsi yang paling merasakan dampak bencana hidrometeorologis yang dipicu badai Senyar dan kerusakan hutan dan lingkungan di wilayah hulu.

Memasuki pekan ketiga pascabencana, kondisi di sejumlah wilayah belum sepenuhnya pulih. Beberapa daerah masih terisolasi akibat akses darat yang terputus, sehingga menyulitkan distribusi bantuan.

Keterbatasan logistik dan bantuan membuat sebagian warga penyintas menghadapi ancaman kelaparan serta risiko munculnya berbagai penyakit.

Dalam kondisi tersebut, pengibaran bendera putih oleh warga di sejumlah titik menjadi simbol yang menarik perhatian publik dan pemerintah. Bendera putih dikenal luas sebagai tanda menyerah atau permohonan pertolongan.

Dalam konteks bencana di Aceh, simbol ini dimaknai sebagai ungkapan keputusasaan warga yang merasa tidak mampu lagi bertahan tanpa bantuan yang memadai.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *