Mariam Issoufour Raih Champions of The Earth Berkat Karya Arsitektur yang Berkelanjutan

Written by

in

7cloud.asia – Mariam Issoufou, CEO sekaligus pendiri biro perancangan Mariam Issoufou Architects di Nigeria, baru-baru ini menerima penghargaan Champions of the Earth 2025 untuk kategori visi Kewirausahaan dari UNEP.

Penghargaan Champions of the Earth ini diberikan, karena sebagai seorang arsitek, Mariam Issoufou dinilai berhasil mendefinisikan ulang bangunan berkelanjutan dan tahan iklim di seluruh Sahel dan menginspirasi generasi baru desainer yang membentuk lingkungan binaan Afrika.

Dengan mendasarkan karya arsitekturnya pada material lokal dan warisan budaya, Mariam sukses mendefinisikan ulang hubungan antara desain kontemporer dan warisan budaya.

Melalui proyek-proyek seperti Kompleks Komunitas Hikma di Nigeria, Mariam Issoufou mempelopori teknik pendinginan pasif yang menjaga suhu bangunan hingga 10°C lebih dingin tanpa pendingin udara.

Mariam Issoufou bersama koleganya, Yasaman Esmaili telah memenangkan dua Penghargaan Holcim untuk Kompleks Komunitas Hikma di Dandaji, Nigeria.

Pada tahun 2017, mereka memenangkan penghargaan Emas untuk wilayah Timur Tengah/Afrika dan pada tahun 2018 mereka memenangkan penghargaan Perak dalam kategori Global.

Baca: Para pemenang Champions of The Earth 2025

Dalam sebuah wawancara video yang dipantau di laman resminya, Mariam berbicara tentang bagaimana kepekaan tim desain terhadap warisan budaya dan keberlanjutan merupakan inti dari keberhasilan proyek tersebut.

Ia juga berbicara tentang keberlanjutan sosial yang berkaitan dengan proyek keberlanjutan ini. Baginya, keberlanjutan sosial jauh lebih dari sekadar dampak lingkungan langsung dari sebuah bangunan.

“Ini tentang memahami dan menanggapi kebutuhan sosial dan ekonomi yang lebih dalam dari suatu komunitas. Dalam hal ini, pendekatan kami adalah memulai dengan percakapan terbuka, daripada langsung beralih ke solusi desain,” ujarnya.

Dalam wawancara itu, Mariam memaparkan bahwa timnya tidak bertanya kepada komunitas jenis ruangan atau ruang apa yang mereka inginkan; sebaliknya, mereka mendengarkan aspirasi, tantangan, dan kebutuhan praktis mereka.

”Hal ini memungkinkan kami untuk mengidentifikasi peluang di mana arsitektur benar-benar dapat membuat perbedaan, baik itu menyediakan ruang belajar untuk siswa, area lokakarya untuk inisiatif ekonomi perempuan, atau sekadar menciptakan pusat komunitas yang lebih inklusif dan mudah diakses,” imbuhnya.

Komplek Komunitas Hikma adalah kompleks perpustakaan dan masjid pemenang penghargaan yang terletak di desa Dandaji, Nigeria.

Baca: Champions of The Earth 2024: Gabriel Paun pembela hutan Eropa yang gigih

Karya Mariam Issoufou lainnya adalah komplek perumahan berdinding tanah yang terkenal di ibu kota, Niamey, yang masuk nominasi penghargaan Aga Khan.

Karya Mariam Issoufou tak bisa didefinisikan pada satu gaya tunggal, tapi lebih merupakan  pragmatisme yang keras. Ini didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hasil terbaik dari apa yang sudah tersedia secara lokal, baik itu material maupun keterampilan.

Saat ini ia sedang mengerjakan sebuah museum di Senegal dan pusat kepresidenan di Liberia, bersama dengan proyek-proyek di Sharjah dan Brasil. Ini di samping perannya sebagai profesor di ETH Zürich, dengan kantor yang bolak-balik antara Zürich, Niger, dan AS.

Karir
Dilansir Guardian, menjadi arsitek adalah karier kedua Mariam Issoufou, setelah sebelumnya selama bertahun-tahun menjadi pakar teknologi informasi.

“Karena saya terjun ke arsitektur sebagai karier kedua, saya lebih dewasa dan sangat fokus pada ke mana harus mengarahkan energi saya,” kata perempuan yang kini berusia 45 tahun itu, berbicara dari studio barunya di New York City.

“Saya tahu persis jenis masalah apa yang saya minati.” imbuhnya

Baca: Menteri Masyarakat Adat Brasil diganjar Champion of the Earth 2024

Tumbuh besar di dekat kota Agadez yang bersejarah dengan bangunan bata lumpurnya, Mariam Issoufou mengaku sempat bingung dengan keinginan untuk meniru arsitektur Barat sebelum akhirnya menemukan jati dirinya.

Tumbuh besar di Nigeria, salah satu negara termiskin dan terpanas di dunia – di mana 45 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan dan suhu dapat melebihi 45C – ia selalu bingung dengan keinginan untuk meniru Barat.

“Saya harus meyakinkan klien bahwa saya tidak mengirim mereka kembali ke masa 200 tahun yang lalu,“ terang Mariam Issoufou

“Lingkungan binaan kita dibentuk oleh gagasan bahwa kemajuan harus terlihat seperti dunia Barat,” katanya.

“Itulah satu-satunya gambaran kemajuan yang kita miliki, dan kecuali Anda mampu mencapainya, Anda entah bagaimana dianggap kurang. Saya merasa itu sangat menghina, dan itu tidak masuk akal.”

Dengan perjalanan inilah, akhirnya Mariam menemukan jalurnya sebagai seorang arsitek yang sangat menekankan pada aspek lingkungan dan keberlanjutan.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *