Jalur Terputus, Bener Meriah Masih Terisolasi

Written by

in

7cloud.asiaSudah hampir dua pekan pasca banjir Sumatera, warga di Kabupaten Bener Meriah, Nangroe Aceh Darussalam hidup terisolasi

Hal ini karena akses darat, biasa disebut Jalan KKA, yang biasa mereka lintasi menuju Lhokseumawe, amblas sangat dalam di beberapa titik akibat diterjang longsor.

Jembatan Teupin Mane yang menghubungkan Bener Meriah – Takengon ke Biereuen juga runtuh ditendang derasnya banjir bandang

Dilansir BBC Indonesia, jaringan telekomunikasi, listrik, dan air bersih masih padam di banyak tempat. 

Pusat Data dan Informasi Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Bener Meriah mencatat per 9 Desember pukul 21.00 WIB, terdapat 39 korban meninggal dunia dan 8 orang masih dinyatakan hilang.

Sementara itu, warga yang masih terisolasi yang tersebar di seluruh kecamatan mencapai 35.664 jiwa.

Pusat data bencana Bener Meriah juga menyebut sebanyak 59 desa di 6 kecamatan masih sulit dijangkau lantaran akses yang terbatas. Aliran listrik juga masih terbatas, dan masih hidup mati

Baca: Menhut didesak cabut semua izin usaha Sektor Kehutanan di Aceh, Sumut dan Sumbar

Bahan pangan habis

Meskipun pusat kota Bener Meriah masih tergolong baik alias tidak ada bangunan yang rusak. Namun, akses jalan masuk ke Bener Meriah putus, baik dari Lhokseumawe ke Bener Meriah atau Bireuen ke Takengon-Bener Meriah.

Jalan KKA, yang melintasi Lhokseumawe ke Bener Meriah, amblas diterjang longsor di beberapa titik. Seorang warga yang mencoba keluar dari wilayah itu menyebutkan setidaknya ada lima titik jalan lintas yang hancur.

Jalan lintas KKA yang amblas dihantam longsor. Kini warga yang ingin membeli kebutuhan pokok ke Lhokseumawe harus berjalan kaki puluhan kilometer melewati jalan berlumpur tersebut.

Amblas terparah dan cukup dalam, yang dekat dengan wilayah Kem—sebutan warga setempat untuk kampung di Kecamatan Permata, Bener Meriah.

Adapun Jembatan Teupin Mane yang menghubungkan Bener Meriah – Takengon ke Bireuen juga ambruk tak bersisa. Itu artinya, tak ada jalan yang bisa dilalui warga.

Baca: Dana pemulihan Banjir Sumatera diperkirakan capai Rp51,82 Triliun

Untungnya jalan yang menghubungkan Bener Meriah ke Takengon, Aceh Tengah, yang sempat tertutup material longsor, sudah dibersihkan dan bisa dilewati.

Masalahnya, hanya dua hari setelah banjir surut, bahan-bahan pangan di Bener Meriah habis. Begitu pula di Takengon.

“Per tanggal 27 November, beras, telur, mi, habis. Jadi stok [toko-toko di Bener Meriah] sekarang hanya menjual jajanan, minuman saja,” ungkap Ruhdi, warga setempat dilansir BBC.

Untuk BBM, katanya, juga tak bertahan lama. Sebab pemilik SPBU hanya menghabiskan stok yang ada.

“Jadi sekarang BBM tidak ada di Bener Meriah,” ujarnya.

Nekat menyusuri jalan amblas nan curam

Sejumlah warga, kata Ruhdi, akhirnya mau tak mau, mesti berjalan puluhan kilometer untuk mendapatkan bahan pangan dan BBM melewati jalan KKA yang amblas tersebut.

Di media sosial, berseliweran video yang memperlihatkan bagaimana susahnya warga melewati area yang penuh batu dan lumpur itu. Sedangkan di kanan-kiri terbentang potongan aspal dan gundukan tanah bekas longsoran.

Warga mesti berjalan sangat hati-hati karena lumpur yang masih basah setinggi lutut bisa saja membuat mereka terperosok atau sulit bergerak.

Di video-video yang beredar, nampak bapak-bapak memakai sepatu boots memanggul tas besar atau karung berukuran jumbo yang terisi penuh dan menenteng jeriken.

Baca: Tanpa bantuan asing, pemulihan dampak banjir Sumatera diperkirakan butuh waktu 20-30 tahun

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *