Malaria, HIV/AIDS dan Minimnya Faskes Jadi Masalah Utama Kesehatan Papua

Written by

in

7cloud.asiaAda dua persoalan kesehatan utama yang masih menjadi tantangan serius bagi pencapaian indikator kesehatan di Papua, yakni malaria dan HIV/AIDS.

Anggota Komisi IX DPR, Gamal Albinsaid menyoroti masalah ini saat mengikuti Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR di Jayapura, Provinsi Papua. Rabu (10/12/2025).

Dilansir Parlementaria, Gamal  menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kasus malaria terbesar kedua di dunia setelah India, dan 93 persen kasus nasional terkonsentrasi di Papua. 

Dia mengungkapkan bahwa angka malaria di Papua mencapai 229 ribu kasus, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Karena itu, ia mendorong Pemerintah Provinsi Papua dan Dinas Kesehatan untuk melakukan upaya percepatan dan intervensi yang lebih agresif dalam menekan penyebaran malaria.

Baca Juga: Praktik Baik Menekan Penularan Malaria dan Demam Berdarah di Tengah Tantangan Perubahan Iklim

Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari aspek lingkungan hingga keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil. 

“Di Papua, rata-rata jarak rumah masyarakat menuju fasilitas kesehatan mencapai sekitar 30 kilometer, sementara rata-rata nasional hanya sekitar 5 kilometer. Kondisi geografis ini berdampak pada lambatnya penanganan dan tingginya angka kasus,” ujar Gamal  

Selain malaria, Gamal juga menyoroti tingginya angka HIV/AIDS di Papua. Berdasarkan data tiga tahun terakhir (2023–2025), angka kasus HIV/AIDS berada pada kisaran 18 ribu hingga 21 ribu kasus.

Mirisnya, sebagian besar kasus HIV/AIDS ini terjadi pada kelompok usia produktif, yakni di usia 14-49 tahun.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.800 orang meninggal, 4.000 orang menjalani terapi, sementara lebih dari 14.000 orang lainnya belum mendapatkan terapi HIV, sehingga membutuhkan perhatian serius,” tegasnya.  

Baca Juga: Polusi dan Suhu Tinggi Picu Perkembangan Nyamuk Malaria

Legislator Dapil Jatim V tersebut meminta Pemprov Papua mengalokasikan sumber daya secara signifikan untuk memperkuat upaya penanggulangan HIV/AIDS, mulai dari peningkatan skrining, perluasan akses terapi, hingga edukasi publik.

Dalam kesempatan itu, ia pun menyampaikan sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan Pemprov dan Dinas Kesehatan Papua, khususnya dalam menekan angka malaria, yaitu:

Pertama, Deteksi dini dan tata laksana cepat (early detection & prompt treatment) agar kasus dapat ditangani lebih efektif; Kedua, distribusi massal kelambu berinsektisida pada wilayah dengan kasus tinggi; 

Ketiga, Pelaksanaan penyemprotan insektisida dalam ruangan (indoor residual spraying) secara berkala. 

Baca Juga: Pemangkasan Anggaran Diharapkan Tak Pengaruhi Layanan Kesehatan

Keempat, perbaikan faktor lingkungan dan perilaku masyarakat, termasuk penanganan genangan air serta peningkatan ventilasi rumah.

Serta yang terakhir, penguatan layanan kesehatan, terutama ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan yang dapat menjangkau masyarakat di daerah terpencil.

Gamal menegaskan bahwa penanganan malaria dan HIV/AIDS di Papua membutuhkan komitmen kuat, kebijakan yang terukur, dan intervensi yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Kami mendorong Pemprov Papua agar segera melakukan langkah-langkah nyata dan terencana. Penanggulangan dua permasalahan ini harus menjadi prioritas bersama demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Papua,” tutupnya.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *