Sadar Pekerjaannya Tak langgeng, Pengemudi Ojek Online Berharap Ada Pelatihan ‘Upskilling’

Written by

in

7cloud.asia – Setiap hari, jutaan pengemudi ojek online maupun taksi online wara-wiri di jalanan untuk bertahan hidup.

Berdasarkan keterangan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan pada Juli 2025, ada lebih dari 7 juta pengemudi ojek online di seluruh Indonesia.

Jumlahnya tidak bisa dikatakan kecil, tapi pilihan pekerjaan sebagai pengemudi ojek online ini adalah solusi satu-satunya bagi mereka.

Karena ekonomi sedang loyo, para pengemudi ojek online menguatkan diri bekerja berbasis pendapatan dan kinerja harian dengan bantalan sosial yang nyaris nol.

Ironisnya, fleksibilitas dan kemudahan akses justru membuat pekerjaan sebagai pengemudi ojek online jadi ban serep terhadap kondisi saat ini.

Namun, pengemudi ojek online sadar betul menjadi pekerja gig hanyalah upaya bertahan hidup di kondisi perekonomian sulit ini.

Baca: Lemahnya perlindungan hukum dalam sistem kemitraan pengemudi ojek online

Keberlanjutan karier pengemudi online menjadi isu penting yang tak sekadar urusan perlindungan sosial formal semata. Ini adalah soal bagaimana mencari peluang kerja yang lebih stabil secara jangka panjang.

Dalam situasi tersebut, upskilling (peningkatan keterampilan) dipandang sebagai salah satu solusi untuk membuka peluang karier baru bagi pengemudi ojek online.

Upskilling tidak hanya menjadi pelengkap tetapi juga sebagai bentuk perlindungan sosial bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem platform digital.

Riset dan hasil diskusi yang kami lakukan dengan pengemudi di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta menunjukkan minat para mitra pengemudi ojek online untuk menguasai keterampilan baru cukup tinggi.

Minat belajar tinggi
Temuan pada [penelitian] yang kami lakukan, menunjukkan adanya kesadaran kolektif dari pengemudi ojek online bahwa mereka tidak bisa menjalani pekerjaan ini seumur hidup.

Baca: Pengemudi ojek online dan sistem kemitraan yang menindas

Pengemudi ojek online menyatakan bahwa pada titik tertentu mereka ingin mengerjakan hal lain (pivot karier) atau berwiraswasta.

Dari 28 peserta diskusi yang sudah menjalani profesi ini lebih dari tiga dan lima tahun, mereka mulai menyadari adanya batasan fisik serta risiko jangka panjang yang mereka hadapi di jalanan.

Mereka memandang upskilling sebagai salah satu langkah penting. Mereka bisa mempersiapkan diri dan berpindah ke sektor lain melalui pelatihan untuk peningkatan kualitas kerja dalam platform, maupun untuk transisi saat keluar dari ekosistem ride-hailing.

Diskusi kami dengan pengemudi ojek online di tiga kota tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak melihat pekerjaan ini sebagai tujuan akhir.

Karena jumlah peminat pengemudi ojek online yang terus meningkat, persaingan untuk mendapatkan pelanggan pun kian ketat

Ada setidaknya tiga pendekatan upskilling yang dibutuhkan para pengemudi yakni peningkatan skill sebagai pengemudi, perubahan karier atau pivoting, dan wiraswasta atau entrepreneurship. Penjelasannya akan diulas dalam artikel selanjutnya.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Putu Dyah Permatha Korry (Dosen Strategi Pemasaran Kewirausahan, Universitas Pendidikan Nasional) dan Desideria Cempaka Wijaya Murti (Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *